Kisah Para Caleg Gagal, dari yang Gangguan Jiwa hingga yang Tidak Kapok

Kamis, 30 Mei 2019 - 22:52:45 WIB
Kisah Para Caleg Gagal, dari yang Gangguan Jiwa hingga yang Tidak Kapok

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Sejumlah calon anggota legislatif gagal terpilih untuk duduk di parlemen dalam pemilu 2019, beberapa di antaranya mengalami stres.

Salah satunya Arif, bukan nama sebenarnya. Ia bertarung di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, untuk duduk di kursi anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Sejak tiga hari setelah hari pencoblosan hingga Kamis (16/5) lalu, Arif justru duduk di tempat lain: panti rehabilitasi jiwa dan narkoba di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ia stres usai gagal memperoleh kursi parlemen.

"Kacau. Bingung," imbuh Arif, lirih.

Foto: BBC News Indonesia

Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Mustajab, Purbalingga, Jawa Tengah, kini merawat lebih dari 200 pasien gangguan jiwa dan penyalahgunaan narkoba. Sejak masa pemilu 2014, setiap habis pemilu, panti milik Supono ini menerima caleg stres untuk dirawat di sana.

Kami berbincang dengannya di teras rumah ketua Yayasan Annur, Supono, yang memiliki Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Mustajab serta Rumah Sakit Khusus Jiwa dan Narkoba H. Mustajab, Kamis (16/5) lalu.

"(Tahun) 2014 kemarin ada hampir 30 caleg stres, jadi keganggu (jiwanya) lah. Sekarang, 2019, kita kedatangan lagi teman-teman kita yang tidak beruntung," tutur Supono dengan kemeja batik hijau cerah yang ia padankan dengan sarung dan kopiah hitam.

"Tapi saya mengatakan bukan stres itu, hanya terganggu. Dia hanya kaget saja," katanya.

Pengalaman pahit Arif juga dialami caleg-caleg gagal lainnya di seantero Indonesia. Sebagiannya mencari pertolongan dengan mendatangi fasilitas rehabilitasi seperti yang dimiliki Supono.

"Di sini saya menemukan ketenangan," ungkap Arif separuh berbisik.

Nyaleg gagal, 'ngamuk' kemudian

Tatapan Arif lurus ke depan, matanya tampak kosong: entah merenung atau memuat hampa.

Awalnya, Arif - yang tidak berkenan membuka identitas sebenarnya - malas ditanyai wartawan. Beruntung, berkat bujukan Supono, ia bersedia kami ajak berbincang di siang hari bulan Ramadan itu.

Usianya di kepala tiga menjelang 40-an tahun. Dari pengakuannya, ia memutuskan nyaleg tahun lalu atas kemauannya sendiri.

"(Mau) membantu rakyat di sana," tutur Arif yang asli Kutai Kartanegara.

"Devisanya nomor satu di Indonesia, tapi (kesejahteraan) masyarakatnya masih di bawah rata-rata," ungkapnya, kali itu ada sedikit kerutan di keningnya.

Kabupaten Kutai Kartanegara memang dikenal sebagai salah satu penghasil devisa terbesar Indonesia berkat industri migas dan batu baranya.

Ia lantas tak ragu menggelontorkan dana pribadi hingga meminjam sana-sini demi asanya menjadi anggota dewan. Duit sebesar lebih dari Rp1 miliar terkumpul untuk memodali impiannya itu.

"Yang besar biaya baliho sama stiker. Sama kaus. Itu yang paling besar."

Katanya, alokasi anggaran untuk belanja alat peraga kampanye (APK) mencapai 60 persen modal yang dikantonginya. Sisanya, ada yang ia siapkan untuk membayar tim sukses, ada pula yang ia belikan sembako untuk dibagikan kepada masyarakat di daerah pemilihannya sebagai sogokan.

"Kebanyakan (warga) sih menerima (saya), Mas. Welcome sama kampanye saya," lanjutnya dengan suara yang konsisten pelan dan perlahan, "cuma di saat penghitungan, suara saya minim sekali."

Dari 600 suara yang ditargetkan, ia hanya meraup 250 suara.

Saat mendengar itu dari tim suksesnya di lapangan, ia merasa kacau. Ia kadung siap jadi penyambung lidah rakyat.

"Bagian juru kampanye saya yang kayaknya bohongin saya, Mas, bagian lapangan saya," ungkapnya menahan geram.

Foto: Getty Images

Seorang pemilih melihat kertas suara berisi para kandidat calon anggota legislatif di sebuah TPS di Bali (17/4)

Ia merasa bahwa timsesnya kerap melebih-lebihkan perkembangan di lapangan, dan ia percaya.

"'Pasti naik, pasti lolos, pasti keterima' saya. Kenyataannya? Minim suaranya. Ya kebanyakan habis di situ juga dananya, buat tim lapangan saya."

Arif lantas kalut bukan kepalang.

"Ngamuk-ngamuk saya di rumah. Ngamuk enggak jelas. Saya bawaannya enggak mau keluar rumah," jelas Arif dengan emosi yang tertahan.

Saat ditanya mengapa, ia menjawab: "Malu... sama masyarakat dekat rumah."

'Stres' yang dialaminya berlipat ganda karena ia tak tahu cara mengembalikan uang yang ia pinjam. Ia kadung menggadaikan bisnis stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) miliknya untuk maju sebagai caleg.

Arif menguras uang Rp250 juta dari dompetnya, meminjam uang Rp300 juta dari orang tuanya dan menerima Rp500 juta dari bank dengan menggadaikan sertifikat usahanya.

"Saya bingung buat nebus kembali," ujarnya.

Keluarganya bertindak cepat. Ayah dan ibunya mencari tahu tempat yang bisa 'menyembuhkan gejala caleg stres' seperti yang dialami Arif lewat internet, dan langsung membawanya ke lokasi.

Penyembuhan dengan pendekatan 'ilahiah'

Lantunan kalimat berbahasa Arab mengalun dari pengeras suara di atas pendopo rumah tinggal Supono yang bersebelahan dengan panti rehabilitasi dan rumah sakit jiwa yang dikelolanya. Suaranya meraung membelah malam di Desa Bungkanel.

Foto: BBC News Indonesia

Ritual rukiah digelar setelah jam tarawih di bulan Ramadan bagi para pasien gangguan jiwa, penyalahgunaan narkoba dan caleg stres

Mereka duduk melingkar di lantai berlapis karpet. Meja yang dipenuhi berbagai penganan diletakkan di tengah-tengah mereka.

Malam itu, ia mengadakan sesi rukiah dengan sejumlah perawat dan pasien yang diurusnya, termasuk Arif. Tidak ada adegan janggal seperti di TV dalam proses rukiah yang dipimpin Supono.

"Ndak, ndak. Yang (masuk) akal aja lah, yang ilmiah," ujarnya. "Saya ndak mau nipu-nipu."

Halaman demi halaman doa dan ayat suci dirapal. Supono akan memulai terlebih dahulu, membaca satu doa, lalu jemaahnya mengikuti beramai-ramai.

Hal itu terus berulang hingga lebih dari satu jam setelah jam tarawih.

"Sekarang perkenalkan nama dan asalnya," ujar Supono, yang kerap disapa Mbah Pono, menggunakan mikrofon selepas ritual rukiah kepada mereka yang hadir. Ia mulai berkeliling menyodorkan mikrofon itu ke satu per satu jemaah.

"Saya Arif, dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur," ujar Arif yang duduk di pojok ruangan saat mendapat giliran. Ia lalu menyerahkan mikrofon ke orang berikutnya.

Praktik rukiah menjadi salah satu kegiatan yang dijalani caleg stres di panti rehabilitasi Supono. Pendekatan agama dianggapnya ampuh 'menyembuhkan' mereka.

"Saya di sini ajari (mereka) salat, ajari maca Quran, diajari baca salawat, rukiah, tahlil, dan (mereka) ngikuti kita ceramah," tutur Supono yang menggratiskan segala beban biaya perawatan khusus bagi para caleg stres yang datang ke pantinya.

Tak berhenti di situ, di lain kesempatan, ia akan memanfaatkan sesi curahan hati para caleg sebagai pintu masuk untuk 'memperbaiki' kondisi mental para caleg yang tengah tertekan. Topik 'keluarga' menjadi andalannya.

"Sudah berbuat apa kamu kepada kedua orang tua?" tuturnya mencontohkan salah satu sesi curhat itu.

"Penting sekali memberikan ceramah kepada ibu kamu. Kebanyakan ya menangis. 'Aduh, Mbah, saya banyak dosanya, Mbah'," kisah Supono.

"Baru saya mengatakan (bahwa) dia sembuh kalau dia sudah menangis, menciumi kakinya ibu, saya tahu bahwa dia sembuh," ungkapnya.

Supono menerapkan tiga jenis pendekatan dalam menyembuhkan pasiennya: pendekatan ilmiah, pendekatan alamiah, dan pendekatan ilahiah.

Pendekatan secara ilmiah artinya pengobatan secara medis, di mana dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit jiwa yang dikelolanya akan menangani pasien. Menurutnya, pasien dengan tingkat gangguan jiwa sedang hingga berat akan ia rujuk ke sana.

"Cara dia dibawa ke sini itu kelihatan sudah parah apa belum? Masih meronta, apa nyanyi sendiri, apa joget, apa mencak-mencak, apa mukul-mukul? Kalau yang sudah keras-keras, mukul-mukul, ya saya langsung masukkan ke klinik utama, ditangani dokter," ucap Supono.

Pendekatan secara alamiah berarti sang pasien akan 'mondok' di kampung tempat panti rehabilitasi berada. Suasana khas pedesaan - tak ada suara bising kendaraan lalu lalang, hanya bunyi ayam berkokok, embusan angin, gemericik air, hingga lenguhan sapi - dan gaya hidup sederhana membantu memberi ketenangan yang dibutuhkan caleg stres.

Sementara pendekatan secara ilahiah adalah penyembuhan dengan jalan mengasah sisi spiritual para caleg stres dengan secara rutin mengajak mereka berdoa, beribadah, dan berbagi cerita.

Itulah yang dijalani Arif selama tiga pekan terakhir 'mondok' di sana. Ia dianggap mengalami gangguan jiwa ringan, sehingga - selain pendekatan alamiah - pendalaman agama menjadi fokus utama proses penyembuhan.

"Agamis. Herbal. Untuk pertama-tamanya saya dimandikan malam, biar syarafnya lancar bilang Pak Ustaz. Terus pagi jalan keliling kampung, dikawal sama pegawai. Siang ngaji. Pokoknya agamanya diperkuat," jelas Arif pelan.

Perlahan, ia merasa lebih tenang dan mulai bisa menerima kekalahan.

"(Saya) belajar salat, belajar ngaji. (Mbah Pono) selalu mengingatkan saya untuk salat. Kalau saya terlambat salat, dibangunin. Jadi sudah seperti mama saya, selalu mengingatkan," jelas Arif dengan senyum tipis.

Arif tidak mengizinkan keluarganya menemani masa rehabilitasinya di Purbalingga. Ia minta ditinggal sendiri untuk memulihkan diri.

Suasana Desa Bungkanel yang tenteram dan alami amat membantu mempermudah proses penyembuhannya.

"Yang jelas, nyaman di sini saya, Mas."`

Dua kali gagal, dua kali bangkit

Nasib serupa tapi tak sama dialami Delianur, pria berusia 41 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat, yang maju dalam pemilu legislatif tahun 2014 dan 2019. Tak satu pun dari kedua upayanya membuahkan hasil.

"Siap kalah aja," ujarnya tercengir saat ditemui di rumahnya di kawasan Soreang, Kabupaten Bandung.

Ayah dua anak itu pertama kali ditawari nyaleg langsung oleh ketua umum Partai Amanat Nasional kala itu, Hatta Rajasa. Ia tengah bekerja di Kementerian Koordinator Perekonomian tahun 2012 lalu - di mana Hatta menjabat sebagai menterinya - ketika tawaran itu disodorkan dua kali.

"Saya pulang ke Bandung, saya ngobrol, ketemu dengan beberapa orang teman saya, ketemu dengan istri saya, ceritakan semuanya, akhirnya mereka kemudian mendukung," tutur Delianur yang aktif berorganisasi semasa berkuliah.

Pada pencalegannya yang pertama itu, ia bertarung habis-habisan.

Foto: BBC News Indonesia

Delianur pertama kali maju nyaleg setelah diajak langsung oleh ketua umum PAN Hatta Rajasa tahun 2012 lalu, saat ia masih bekerja di Kementerian Koordinator Perekonomian, kementerian yang dipimpin Hatta kala itu

Duit lebih dari Rp2 miliar digelontorkan untuk membiayai berbagai kepentingan kampanye, mulai dari APK hingga ongkos tim sukses dan relawan. Waktu dan tenaganya tersita untuk turun ke lapangan dan menemui konstituennya di daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Jawa Barat.

Cita-citanya tak muluk kala itu - sebetulnya, sama seperti Arif - yaitu untuk membangun kampung halamannya.

"Kampung halaman saya di Cililin, Bandung, itu sama sekali tidak tersentuh pembangunan sama pemerintah," ungkapnya mengenang tahun 2012.

"Jalan rusak dan sebagainya, dan ketika saya ngobrol di sana, ya ini memang butuh ada semacam intervensi, butuh ada orang atas yang membantu."

Tapi apa mau dikata, suara yang terkumpul di hari pencoblosan nyatanya tak mencukupi bagi Delianur untuk duduk di kursi DPR RI, meski ia dan timnya sungguh yakin akan berhasil kala itu.

"(Kalah itu) enggak enak. Hahaha… Sakit hati," ujarnya berderai tawa.

Sebenarnya, saat mengetahui hasil buruk itu, ia bergegas mencari tahu di mana letak kekalahannya. Ia pergi ke Bawaslu, mengumpulkan formulir C1, menyambangi KPU.

"Kita telusuri, suara kita banyak dicuri. Itu pastilah enggak enak, sakit hati, marah-marah. Apalagi setelah kita tahu 'oh, orang ini nyuri (suara)', dan kita baru tahu 'oh, begini cara nyurinya itu'," aku Delianur.

Ia jelas kecewa, namun ia mengaku bisa menguasai diri. Menurutnya, hal itu - sebagiannya - berkat renungan yang ia lalui usai beribadah pada satu hari sebelum hari pemungutan suara.

Ia memikirkan akan seperti apa kehidupannya bila ia benar-benar terpilih jadi anggota DPR. Di luar dugaan, yang terbayang olehnya justru kerumitan tanggung jawabnya kelak: kewajiban melayani konstituen hingga berpuluh jam, mengurus partai, mengawasi pemerintah, mengawal proses legislasi, mengikuti berbagai rapat, hingga kehidupan pribadi keluarganya yang akan jadi sorotan publik.

Ia terhenyak, namun gagasan itulah yang mempersiapkannya untuk hasil terburuk.

"Ketika hari H pemilihan, saya tidak nongkrongin TPS atau posko," ujarnya. "Saya sepedaan ke Dago, menikmati (waktu), siap menerima apa kalah, apa menang, karena akan sama rumitnya antara kalah dan menang."

Hal yang hampir sama terjadi lima tahun kemudian, alias pada pileg tahun 2019 kemarin. Delianur kembali maju dan kembali kalah.

Bedanya, pada pileg 2019, ia maju dari daerah pemilihan Sukabumi. Selain itu, ia tak ngoyoamat untuk jadi anggota legislatif, karena motivasinya maju pun karena dorongan teman-temannya.

"Sejujurnya saya sudah tidak ada itikad untuk maju lagi. Saya maju itu pada detik-detik terakhir," jelasnya.

Lewat pengalaman sebelumnya, ia kali itu lebih mahir membaca dinamika sosial dan politik. Ia pun mengendus aroma negatif pencalegannya akan kandas seperti tahun 2014.

Alhasil, ia hanya mengeluarkan dana kurang dari Rp200 juta untuk percobaan keduanya. "Kita menjadi realistis."

Dan pada waktu diumumkan gagal, ia tak banyak ambil pusing.

"Relatif sebetulnya udah biasa aja kalah (saat) itu. Selain kita pernah kalah, kita juga sudah memprediksi bahwasanya kita bakal kalah," imbuhnya.

Dukungan keluarga

Nurjani Astianti, istri Delianur, hanya menanyakan ini saat suaminya pertama kali kalah: "Buya, enggak apa-apa? Berikutnya mau ngapain?"

Bagi Jani, panggilan akrab Nurjani, penting baginya untuk tahu apa yang akan dilakukan suaminya ke depan, "karena itu akan menjadi motivasi untuk bergerak, move on."

Jani bukannya tidak kecewa sang suami tak lolos ke parlemen, tapi ia tahu ada peran lebih penting yang harus ia mainkan ketika sang suami kalah bertarung.

"Saya lebih banyak menyediakan kuping aja untuk dengar," ujar Jani santai.

Cekcok kadang terjadi, apalagi kondisi finansial mereka jatuh setelah Delianur gagal. Mereka terpaksa menggadaikan mobil yang masih dicicil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi, Jani dan sang suami mencoba mengisi masa-masa sulit itu dengan perbincangan mendalam dan menata ulang prioritas dan target hidup mereka berdua.

"Kalau tahu apa yang mau dilakukan ke depan, yuk disusun lagi," ujarnya.

Ketika kekalahan kedua mendarat di depan mata sebulan yang lalu, peran Jani tidak berubah. Ia tetap menjadi pendengar di kala sang suami terpuruk.

Tetapi kali ini mereka tak larut dalam kekecewaan. Keduanya sudah memasang garis antisipasi kalau-kalau - dan memang akhirnya terjadi - kalah kembali.

"Saya pun nanya ketika 2019, 'nyaleg lagi? Yakin? Udah siap kalau menang? Udah siap kalau gagal?' saya tanya itu," tutur Jani.

"Dan di 2019 sekarang saya merasakan bahwa mungkin yang dialami - kekecewaannya - tidak sebesar 2014, karena kita punya pengharapan lain yang lebih besar, ada prioritas lain."

Pengharapan itu adalah melanjutkan studi mereka di luar negeri dengan membawa serta anak-anak.

Sementara itu, Delianur bersyukur respons keluarganya tidak menyudutkannya ketika tahu ia gagal dan gagal lagi. Ia lega karena tidak diperlakukan sebagai "pesakitan hanya gara-gara kalah nyaleg".

"Istri saya ketika saya kalah itu, saya ingat betul, dia itu lebih memastikan kondisi psikologis saya, apakah saya down atau tidak," ungkap Delianur.

"Keluarga cukup kondusif. (Mereka) tidak menganggap kekalahan itu sebuah kehinaan," tuturnya.

Ia kemudian menyadari bahwa peran keluarganya dalam kondisi itu amatlah penting. Sang istri, ibunda, ibu mertuanya, hingga saudara kandung maupun ipar tidak menuntut apa pun atau larut dalam kekecewaan. Padahal, berbagai bantuan juga diberikan oleh mereka.

"Istri memang perannya sangat vital, keluarga sangat vital, tetapi harus diingat, walaupun mereka punya peran sangat vital, tapi jangan menumpahkan semua masalah itu ke dia," imbuhnya.

Menurut Jani, akan ada banyak alasan untuk tenggelam dalam keterpurukan ketika sang suami gagal melaju ke parlemen. Akan tetapi, mereka punya alasan kuat untuk segera bangkit setiap mereka jatuh.

"Di sekeliling kami itu masih banyak yang perlu kami syukuri daripada kami sesali," katanya.

Pendampingan menjadi kunci penyembuhan

Psikiater di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Doktor Cipto Mangunkusumo (RSCM), dokter Hervita Diatri, mengatakan bahwa gejala stres sesungguhnya merupakan respons normal yang sering dialami manusia.

"Sangat wajar ketika kita pengin lulus, terus kita enggak lulus, kita merasa sedih, kita merasa kecewa, itu kan biasa saja," tutur Hervita kepada BBC News Indonesia.

Hal ini berlaku pula bagi para caleg yang gagal lolos ke parlemen. Respons stres menjadi hal yang wajar mereka alami.

Menurutnya, stres sesungguhnya bisa diatasi oleh individu masing-masing.

"Stres seharusnya dapat diatasi sendiri oleh yang bersangkutan maupun bantuan dari lingkungan sekitar."

Akan tetapi, ketika kondisinya semakin parah, stres bisa berubah menjadi suatu gangguan jiwa. Salah satu tandanya, individu tersebut tak mampu mengatasi sendiri stres yang ia alami dan membutuhkan bantuan dari pihak selain sistem pendukung (support system) yang ada.

"Ketika kondisi stres itu menjadi berlebihan, mengganggu fungsinya dia sehari-hari, menyebabkan penderitaan yang begitu mendalam untuk dia maupun keluarganya, maka kita sudah masuk area gangguan jiwa," tutur Hervita.

Mengamuk menjadi salah satu gejala gangguan jiwa yang bisa berawal dari stres. Ketika hal itu terjadi, pendampingan, terutama dari pihak ketiga, sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi kejiwaannya.

"Mau pendampingan spiritual, mau keagamaan, pokoknya pendampingan," tuturnya.

Menurut Hervita, pada kelompok itu, 90% di antaranya sembuh setelah mereka mengeluarkan perasaan mereka alias curhat selama masa pendampingan itu.

"Jadi betul-betul dia hanya mengeluarkan semua perasaannya, semua pikirannya, apapun dengan bebas, tanpa merasa dihakimi," imbuhnya.

Menurutnya, keberadaan panti-panti rehabilitasi yang melayani para caleg gagal bisa membantu proses penyembuhan itu.

"Karena terus ada tempat dia untuk curhat, boleh ngeluarin apa pun."

Harapan usai gagal

Setelah gagal di percobaan pertama, Arif langsung kapok. Ia tak mau lagi mempertaruhkan segalanya untuk menduduki jabatan sebagai anggota dewan.

"Nggak mau nyaleg (lagi) saya. Mau kerja aja, mau bisnis," imbuh Arif pelan.

Ia berencana akan menebus sertifikat usaha SPBN yang ia gadaikan ke bank. Ia ingin kembali ke keluarganya setelah bisa menerima kekalahan.

"Kalau sudah sembuh total saya mau pulang," ungkapnya.

Berbeda dengan Arif, Delianur tidak menutup pintu pencalegan untuk ketiga kalinya. Meski dua kali gagal dan harta terkuras banyak, ia masih punya sedikit asa di sana.

"Saya belum kepikiran lagi, saya masih berhitung-hitung," ujarnya.

Sang istri, Jani, pun akan mendampingi upaya sang suami bila jadi nyaleg lagi.

"Kita kan sepakat dari awal bahwa kita akan membangun keluarga ini atas dasar kompetensi. Ketika misalnya ini belum takdirnya nih 2014, siapa tahu ada takdir di tahun-tahun berikutnya, ya kompetensi itu sudah siap, tidak harus dadakan," ujarnya.

Yang jelas, Delianur tahu apa apa yang harus ia siapkan seandainya pilihan itu benar-benar ia jalani.

"Siap kalah aja. Hahaha..." (okezone)

[ Ikuti Terus InhilKlik Melalui Media Sosial ]







TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT