Al-Hashimi, Bos Baru ISIS Mengaku-ngaku Keturunan Nabi Muhammad

Jumat, 01 November 2019 - 23:05:39 WIB
Al-Hashimi, Bos Baru ISIS Mengaku-ngaku Keturunan Nabi Muhammad

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Kelompok ISIS menunjuk Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi sebagai pemimpin baru mereka setelah mengonfirmasi kematian pemimpin sebelumnya, Abu Bakr al-Baghdadi. Dalam pengumumannya kelompok ini kembali menebar ancaman terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat.

Al-Baghdadi dan juru bicara ISIS Abu Hassan al-Muhajir tewas dalam operasi pasukan khusus AS di Barisha, Idlib, Suriah pada Sabtu malam pekan lalu.

Sayap media kelompok teroris tersebut, Amaq, membuat pengumuman dalam rekaman audio yang dirilis pada hari Kamis (31/10/2019)

Hanya sedikit yang diketahui tentang al-Hashimi. Menurut laporan The Guardian, bos baru ISIS itu—seperti halnya al-Baghdadi—mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi Muhammad, terlebih dengan menggunakan nama belakang al-Qurayshi.

Klaim itu tak bisa ditelusuri kebenarannya, karena identitas al-Hashimi sangat minim untuk diketahui. Klaim itu bisa jadi bualan demi menaikkan posisi tawarnya di kelompok tersebut.

Rekaman audio ISIS tidak memberikan informasi tentang pemimpin baru mereka. Nama al-Hashimi juga tidak ada di antara nama-nama petinggi ISIS yang diperbincangkan sejak serangan AS. ISIS, dalam pengumumannya, menyerukan para pendukung untuk mengikuti arahan al-Baghdadi dan mengancam negara-negara barat.

"Amerika, tidakkah Anda menyadari bahwa ISIS sekarang berada di garis depan Eropa dan Afrika Barat? Diperluas dari Timur ke Barat," bunyi rekaman audio tersebut.

"Apakah Anda (AS) tidak melihat bahwa Anda telah menjadi bahan tertawaan bagi dunia? Nasib Anda dikendalikan oleh orang tua bodoh yang tidur dengan satu pendapat dan bangun dengan yang lain. Jangan merayakan atau menjadi sombong," lanjut pengumuman ISIS.

Kematian al-Baghdadi di Suriah adalah yang terbaru dalam serangkaian pukulan bagi kelompok itu. Sebelumnya, kelompok tersebut telah kehilangan banyak wilayah yang mereka duduki di Irak dan Suriah setelah mengalami kekalahan besar-besaran ketika diperangi AS dan koalisi internasionalnya serta Rusia dan para sekutunya.

sumber: sindonews.com

[ Ikuti Terus InhilKlik Melalui Media Sosial ]







TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT