INHLKLIK.COM, PEKANBARU - Sudah saat ini di Riau melakukan hilirisasi dari kelapa kopra. Terutama bagi Indragiri Hilir (Inhil). Selama ini petani baru sebatas menjual hasil buah kopra secara bulat.
Menurut Direktur Pasca Sarjana Universitas Riau (UR) Prof DR Zulkarnain, SE, MM yang juga pakar Ekonomi usaha kecil mikro dan menengah (UMKM), sudah saatnya produk hilirisasi kopra Inhil itu dilakukan, dengan membangun sarana prasana untuk memproduksi berbagai jenis dari olahan kopra itu.
Jika ini bisa dilakukan kata Zul, ekonomi masyarakat terutama petani Kopra tersebut juga akan terangkat. Zul mengaku tengah menjajaki upaya ini dengan pihak-pihak terkait, sebab sektor ini akan memberikan multiplier effect besar pada masyarakat dan pemerintah setempat.
Ia mengatakan produk hilir dari kopra itu sangat banyak, misalnya, dari tempurung bisa diolah menjadi briket arang, harga briket juga cukup tinggi, kemudian dari sabut kelapa juga bisa menghasilkan produk lain, belum lagi air dan isi kelapa, bisa menjadi natedococo dan berbagai jenis pangan lainnya.
"Kalau sekarang kopra dijual bulat oleh petani sekitar Rp3.500/biji, kalau dijadikan produk hilir akan jauh lebih besar hasil secara ekonomis," Ini kita sekarang tengah jajaki," katanya kepada Media
Mengapa harus Inhil, menurut Zul, di daerah Riau ini, sebagian besar masyarakat yang bergantung pada komoditi Kopra adalah di Inhil.
Secara administrasi Inhil memiliki luas 1.367.551 hektare lahan, sekitar 55,09 persen diantaranya merupakan lahan perkebunan atau mencapai 753.450 hektare, dari luas pekerbunan tersebut 70 persen atau 429.110 hektare merupakan kebun kelapa yang tersebar di 20 kecamatan, kemudian 70 persen lebih merupakan milik masyarakat, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap komoditi unggulan di daerah tersebut sudah menjadi harapan dan tumpuan masyarakat.
"Ini patut diupayakan secara bersama agar bisa terwujud untuk meningkatkan ekonomi," pungkas guru besar ini. (src)