Kanal

Bahasa Orang Laut Inhil Diambang Kepunahan Tanpa Kepedulian dan Perhatian Pemerintah

Oleh: PRj. HARYONO.AS,S.Pd.,M SBw
(President Lembaga Adat Budaya dan Bahasa Orang Laut Indonesia, Dosen Muda Universitas Riau)



Sejak 1992, kemudian 2004 dieksistensikan yang tadinya kami adalah Orang Laut diganti nama menjadi Duanu sampai 2013, kemudian 28 November 2013 kami berubah nama lagi menjadi Orang Laut/ Suku Laut, sejak itu istilah Duanu sebenarnya tidak kita pakai lagi sesuai dengan beberapa temuan dalam penelitian kita.

Namun yang menjadi masalah pokok kami saat ini adalah bahasa Suku Laut atau Orang Laut yang diambang kepunahan, hal ihwal kepunahan bahasa laut pertama kali saya ketahui melalui Profesor Suwardi,MS kemudian berdasarkan info tersebut saya terus mencari sumber valid mengenai kebenaran kepunahan bahasa laut Inhil ini, diantaranya UNESCO lembaga PPB ini mengklaim bahwa “Suku bangsa yang penuturnya tidak mencapai 1 juta orang itu telah menandakan bahasanya masuk dalam kategori bahaya/mendekati kepunahan”. 

Sementara penutur bahasa laut saat ini hanya berjumlah dalam kisaran 12-15 ribu jiwa yang bahkan jauh dari angka 1 juta, kemudian Andrew Dalby menjelaskan bahwa separoh dari 5.000 bahasa didunia akan lenyap dalam waktu mendatang, hal senada diungkapkan oleh Kepala Balai Bahasa Prov. Riau, yaitu Drs. Agus Sri Danardana, M. Hum yang bertemu langsung dengan saya dan menyatakan “Salah satu bahasa yang akan lenyap adalah bahasa laut”. 

Hal ini diperkuat dengan fenomena dan penelitian kami dari Lembaga Adat Budaya dan Bahasa Orang Laut Indonesia yang hasilnya adalah anak Orang Laut usia 7 tahun – 20 tahun tidak lagi berbahasa laut didalam keseharian mereka, ini cukup menyimpulkan bahwa 10-20 tahun lagi bahasa laut yang menjadi khasananh kekayaan budaya inhil akan lenyap dan dibiarkan dengan sengaja padahal sangat penting bahasa ini dijaga sebab komunitas orang laut terbesar diindonesia adalah di Inhil bayangkan jika lenyap, saya tak terfikir apa yang terjadi, jika bahasanya lenyap maka akan berangsur hilang budaya laut yang lain yang sebenarnya ini bisa menjadi asset pariwisata inhil dan kebanggaan INHIL bahkan jika ingin melihat sejarah Inhil yang sebenarnya maka lihatlah Orang Laut. Jika ini punah apa yang mau dilihat.



Kami dari Lembaga Adat Budaya dan Bahasa Orang Laut Indonesia tidak tinggal diam, kami telah memulai dengan membuat buku diataranya Tata Bahasa Orang Laut Indragiri Hilir, Hikayat Sri Bijawangsa (Pahlawan Orang Laut), Sejarah Orang Laut, Kamus Bahasa Laut - Bahasa Indonesia Bergambar, Syair Orang Laut, dan dilengkapi dengan kurikulum untuk pembelajaran karena kami menyadari bahwa tempat sosialisasi bahasa yang baik adalah sekolah, sebab anak orang laut usia sekolah inilah yang menjadi harapan kami untuk melanjutkan dan melestarikan bahasa laut yang tadinya akan punah bisa dibendung atau diselamatkan dengan cara ini,

Namun usaha kami seperti bertepuk sebelah tangan usulan kami kepada Pemda Inhil hanya dipandang sebelah mata, buku kami hanya dibeli yang berjudul Tata Bahasa Orang Laut sebayak 40 buku oleh Dinas pendidikan Inhil dan hanya disimpan saja entah kapan dibagikan dan tentu jumlah 40 tak bisa dijadikan apa- apa kecuali menjadi prasasti ribuan tahun mendatang, padahal harapan kami bukan itu, harapan kami adalah Bahasa Laut Dimasukan dalam Muatan Lokal dan dibuat surat edaran ini wajib diajarkan disekolah Inhil yang ada orang lautnya. Itu saja, bukan semua diwilayah inhil, tetapi pertemuan dengan Bupati Inhil tidak membuahkan hasil, kami dilimpahkan ke Kepala Dinas Pendidikan namun dijawab dengan kekecewaan kami saja. Koordinasi untuk ini terus kami lakukan via telpon dan SMS kepada Kadis Pendidikan Inhil hasilnya nol juga, sementara nomor bupati yang diberikan tidak pernah aktif.

Kami benar-benar merasa tidak dipedulikan Pemkab Inhil terlebih ketika kami membaca berita di inhilklik.com bahwa Shalawat Nariyah dimasukan sebagai muatan lokal di Inhil oleh kadis Pendidikan Inhil, artinya sangat mudah jika Pemkab ingin melakukan penyelamatan bahasa Laut dari Kepunahan, namun tidak dilakukan. Hal ini terbukti ketika saya menyampaikan pesan singkat kepada Kadis Pendidikan Iinhil bahwa kami ingin bahasa Laut Menjadi Muatan Lokal DI Inhil seperti Salawat Nariyah namun sms saya tidak dibalas. (*)
Ikuti Terus InhilKlik

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER