![]() |
| Sanggar Tengku Sulung seni Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta Komisariat Indragiri Hilir (IPRY-INHIL) |
Sanggar seni yang diberi nama Tengku Sulung ini didirikan pada tanggal 03 maret 2012. Sanggar yang kini dimotori oleh Muhammad Nurohkim ini mulai menunjukkan eksistensinya di kota pelajar Yogyakarta. Menurut Rohkim, pemakaian nama Tengku Sulung merupakan cara Sanggar ini utuk memotivasi anggotanya agar memiliki samangat pahlawan dalam memperjuangkan dan memperkenalkan budaya Melayu di rantau khususnya Daerah Iatimewa Yogyakarta.
“Tengku Sulung itu merupakan salah satu pahlawan Melayu. dengan digunakannya nama Tengku Sulung untuk sanggar ini, tentunya kami berharap semangat sanggar ini akan dapat mengikuti jejak perjuangan Tengku Sulung sebagai Pejuang.
Perjuangan kami saat ini ialah memperjuangkan agar kebudayaan Melayu tetap eksis dan dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta” demikianlah ucapan Rokhim saat diwawancarai mengenai Sanggar yang dipimpinnya pada hari selasa malam 185.
Sanggar yang baru berusia 3 tahun ini, kini mulai menampakkan dirinya sebagai salah satu sanggar Melayu yang eksis di Yogyakarta. Selain kerap mengikuti pertandingan maupun gelar budaya, sanggar Tengku Sulung juga kerap di minta untuk mengisi acara-acara seremonial di kota gudeg ini.
Rokhim juga menambahkan, untuk tetap mempertahankan eksistensi sanggar ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, disamping dirinya tetap mengutamakan niat utama menempuh studinya, kurangnya SDM dan dana yang dimiliki membuat sanggar ini sedikit lambat dalam melangkah.
“Sementara ini kami belum memiliki dana tetap, dana yang kami dapat merupakan bantuan dari organisasi IPRY-INHIL, bayaran dari permintaan untuk tampil dan hadiah ketika memenangi perlombaan tari. Untuk alat music dan kostum juga kami kerap meminjam kepada sanggar yang telah memilikinya”.
Sanggar Tengku Sulung juga merupakan tempat menyalurkan bakat-bakat terpendam bagi mahasiswa dari Indragiri Hilir untuk mengaktualisasikan dirinya demi melakukan kegiatan yang positif.
Salah satu tarian baru yang di ciptakan ialah tarian yang berjudul “Manongkah” menurut Riska Idayu sang koreografer, tari ini bercerita tentang aktivitas masyarakat suku Duano (orang laut) di Indragiri Hilir dalam mencari kerang di laut.
Keunikan aktivitas manongkah yang hamper memiliki kesamaan dengan surfing membuat tradisi asli tersebut sanggat unik dan harus dipublikasikan agar diketahui masyarakat luas. Tarian yang memadukan gerakan tradisi dan kreasi ini merupakan salah satu karya terbaik yang pernah diciptakannya.
Walaupun terdapat kendala-kendala, namun semangat yang tertanam didalam diri untuk menjaga, dan mengembangkan budaya Melayu jauh dari tanah kelahiran merupakan niat yang wajib di apresiasi dan dihargai agar keberadaan Melayu tetap menggaung hingga keluar daerah. (*)
Source: karimuntoday.com
