INHILKLIK.COM, BANTEN - Tsunami di Selat Sunda terjadi tanpa terdeteksi sebelumnya. Ternyata, salah satunya disebabkan rusaknya seismograf atau alat pengukur gempa.
Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kristianto mengatakan, seismograf itu seharusnya memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Ternyata alat itu rusak beberapa jam sebelum tsunami terjadi. Tepatnya pada Sabtu pagi (22/12/2018) sekitar pukul 09.03 WIB.
"Makanya tidak terpantau (aktivitas Gunung Anak Krakatau)," ujar Kristianto di kantor Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Cinangka, Banten, Selasa (25/12/2018).
Menurut dia, seismograf rusak yang berada di pos pemantauan Pulau Anak Krakatau. "Sementara pemantauan seismograf, kita masih beruntung, kita masih dapat di Pulau Sertung," kata dia seperti dikutip dari Liputan6.com.
Selain di Pulau Sertung, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dipantau dari pos pemantauan Cinangka. Pantauan hanya bisa dilihat dari seismograf, tak bisa memantau langsung Gunung Anak Krakatau lantaran cuaca buruk.
"Jadi kita dapat melihat aktivitasnya masih tinggi. Terlihat dari amplitudo sampai lebih dari 40 milimeter. Simpangan dari seismografnya, memang aktivitas di sana masih tinggi. Kemungkinan di sana masih ada aktivitas lontaran material, aliran larva, dan awan panas pun masih terjadi di Pulau Anak Krakatau. Ketinggian abu vulkanik susah melihatnya karena cuaca," jelas dia.
Hingga saat ini, korban meninggal akibat tsunami sudah mencapai 429 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melaporkan 1.485 luka-luka dan 154 hilang.
Sementara, 16.082 orang mengungsi akibat tsunami. Korban meninggal terdapat di wilayah Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus.