INHILKLIK.COM - Majalah Charlie Hebdo sepertinya belum kapok setelah mendapat serangan pekan lalu yang menewaskan beberapa staff redaksinya. Dalam edisi khususnya minggu ini, mereka akan kembali memuat karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari itu, pengacara majalah tersebut, Richard Malka bahkan mengumumkan pada Senin (12/1) bahwa edisi khusus Charlie Hebdo minggu ini akan dicetak sebanyak 3 juta kopi.
Edisi khusus Charlie Hebdo yang diterbitkan pada Rabu (13/1) itu juga akan diterjemahkan ke dalam 16 bahasa.
Majalah Perancis itu telah berulang kali dengan sengaja memancing kemarahan umat Muslim dengan menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW.
Akibat kebablasan dalam mengekspresikan hak kebebasan berpendapat itu, kantor Charlie Hebdo akhirnya mendapat serangan teror pekan lalu. Empat orang staffnya, termasuk seorang editor, tewas dalam kejadian itu.
Meski pelaku diduga merupakan anggota al-Qaeda, terlalu sempurnanya aksi teror mematikan itu mengundang banyak tanya. Seorang analis politik Rusia, Alexei Martynov bahkan mengklaim bahwa serangan itu didalangi oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA).
Sumber: Rimanews.com
Lebih dari itu, pengacara majalah tersebut, Richard Malka bahkan mengumumkan pada Senin (12/1) bahwa edisi khusus Charlie Hebdo minggu ini akan dicetak sebanyak 3 juta kopi.
Edisi khusus Charlie Hebdo yang diterbitkan pada Rabu (13/1) itu juga akan diterjemahkan ke dalam 16 bahasa.
Majalah Perancis itu telah berulang kali dengan sengaja memancing kemarahan umat Muslim dengan menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW.
Akibat kebablasan dalam mengekspresikan hak kebebasan berpendapat itu, kantor Charlie Hebdo akhirnya mendapat serangan teror pekan lalu. Empat orang staffnya, termasuk seorang editor, tewas dalam kejadian itu.
Meski pelaku diduga merupakan anggota al-Qaeda, terlalu sempurnanya aksi teror mematikan itu mengundang banyak tanya. Seorang analis politik Rusia, Alexei Martynov bahkan mengklaim bahwa serangan itu didalangi oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA).
Sumber: Rimanews.com
