Kanal

Esensi Hidup Adalah Pengabdian

Abdul Malik bersama anak didiknya
Oleh: Abdul Malik Al-Munir
(Mahasiswa Kelahiran Indragiri Hilir, Ketua  Ikatan Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (IKMP) UIN Sunan Kalijga Periode 2014-2015)

Tulisan ini saya tulis adalah dalam rangka menjawab pertanyaan yang sering saya jumpai ketika bertemu dengan seseorang terutama anak muda, baik yang seumuran dengan saya atau mereka yang lebih muda dari saya.

Pertanyaan mereka adalah “untuk apa sih sebetulnya hidup?”. Pertanyaan yang mendasar ini memang terkesan pendek, namun ia adalah tujuan dari diberikannya nikmat hidup oleh Sang Maha Pemberi hidup. Pertanyaan yang pendek, namun perjalanan untuk menjawab esensi (hakikat) dari pertanyaan tersebut cukup panjang, sepanjang usia hidup. 

Tidak jarang juga saya dapati dimedia sosial terutama facebook, anak muda menuliskan didinding facebooknya “sedang mencari jati diri”. Maka saya mencoba untuk mengetengahkan judul “esensi hidup adalah pengabdian” dari tulisan yang sederhana ini untuk menjawab pertanyaan diatas. ketika seseorang diberi hak hidup oleh Sang Maha Pemberi hidup maka tentu ada tujuan disebalik itu, tujuan akan hidupnya mahluk tentu hanya diketahui oleh Sang Pemberi Hidup.

Allah Swt sebagai Sang Pemberi Hidup sebenarnya sudah menegaskan bahwa hidup yang Ia berikan adalah pengabadian, pengabdian itulah sebagai esensi (hakikat makna) dalam Hidup. Hidup yang berupa pengabdian tersebut tertuang dalam QS. Adz Dzariyat (51): 56 “Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” ketika seseorang menyadari bahwa hakikat hidup adalah berupa pengabdian. Maka ia akan berusaha mengerahkan setiap potensi yang ada pada dirinya dalam wujud pengabdian, baik itu pengerahan yang berupa memasukkan potensi atau boleh juga pengembangan potensi yang ada pada diri serta mengeluarkan potensi itu itu dalam wujud pengabdian. 

Memasukkan potensi yang saya maksud adalah sesorang akan berusaha misalnya mencari ilmu-ilmu sebagai bekal pengabdiannya, sebagai contoh dokter, perawat, polisi, pendidik dan lain sebagainya,  mereka akan berusaha mencari ilmu-ilmu dibidang mereka yang akan mereka kerahkan untuk bekal pengabdian mereka.

Efek dari kesadaraan akan esensi hidup yang berupa pengabdian juga akan mendorong sesorang untuk menghadirkan yang terbaik dalam dirinya untuk mencapai kesempurnaan dalam pengabdian, bahkan Allah Swt mengingatkan hal tersebut dalam QS. Al-Muk (67):2 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik diantara kamu amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” dari ayat diatas jelaslah bahwa esensi diberikannya hidup adalah berupa perlombaan untuk menghadirkan kesempurnaan pengabdian dengan sebaik-baik perbuatan. Perlombaan dalam hal kebaikan ini juga yang dianjurkan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah (2): 148 “........”Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”.......... 

Oleh sebab itu, diakhir tulisan ini, saya mengajak kepada kita semua untuk mengerahkan potensi yang ada pada kita baik itu yang ada didalam diri seperti potensi fisik, potensi pikiran dan potensi jiwa, serta yang diluar diri seperti potensi harta yang dimiliki, potensi alam sekitar dan lain sebagaikan sebagai sarana untuk melakukan pengabdian ini. 

Saya yakin ketika kita sudah mau berfikir dan melalukan kerja nyata dalam pengabdian ini, lingkungan kita bahkan bangsa kita Indonesia akan bangkit dan sejahtera. Betapa tidak sesorang yang diliputi oleh ruh pengabdian akan berfikir dan berbuat untuk membuat dirinya, orang lain dan bangsa ini kearah yang lebaih baik. 

Dan akan ada istilah dalam dirinya “always give no take (selalu memberi bukan mengambil). Bertanyalah dalam diri “pengabdian apa yang sudah saya lakukan buat lingkungan dan bangsa ini? Bravo Indonesia. (*)
Ikuti Terus InhilKlik

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER