Kanal

Keluarga Petani Tersangka Karhutla di Inhil Sangat Memprihatinkan

http://riauterkini.com/gambar/nesta.jpg
Pondok tempat tinggal Salmah dan anaknya. 
INHILKLIK.COM, Tembilahan - Miris, melihat nasib Salmah (35) bersama dua anaknya sejak suaminya, Suryono (36) ditahan polisi, karena disangkakan melakukan pembakaran lahan, Sabtub(15/3/14) lalu.

"Beginilah nasib kami sekarang pak, untuk memberi makan dua anak saya hanya menjual ubi yang ditanam ini," cerita Salmah kepada rombongan Masyarakat Peduli Indragiri Hilir (MPI) yang melihat langsung kondisinya di Parit Surau Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra, Rabu (23/4/14) sore.

Diceritakan, sejak suaminya ditangkap tersebut, otomatis ia yang harus merawat tanam ubi dan sedikit tanaman sayur lain bagi mencari sesuai nasi dan biaya sekolah anak lelaki tertuanya, Andre (12) yang saat ini duduk di kelas VI SD tersebut.

"Saya juga tidak tahu kelanjutan sekolah anak saya ini, sejak ayahnya ditahan," ujarnya sambil menggendong anak bungsunya, Nazila (3).

Selama ini, suaminya hanya bekerja sebagai petani ubi dan sayur di lahan yang hanya seukuran empat baris atau sekitar 0,63 hektar. Mereka tidak memiliki kebun kelapa.

"Kami tidak memiliki tanaman kelapa, hanya menanam ubi ini saja, suami saya juga biasanya bekerja sebagai buruh angkut di pasar," katanya. Selama ini suaminya harus membawa ubi hasil panennnya ke Pasar Lama Sapat dengan jarak sekitar satu jam dari tempat tinggal mereka.

Sejak ditinggal suaminya, ia bersama dua anaknya 'memberanikan' diri tinggal di pondok (bukan rumah) yang berukuran sekitar 2,5 x 4 meter beratap dan berdinding daun rumbia. Kasihannya, pondoknya ini kalau malam sepi tanpa penerangan listrik, kecuali lampu teplok dan jauh dari pemukiman warga.

"Takut juga kalau malam, tapi mau macam mana lagi, inilah tempat tinggal kami," kisahnya.

Kedua anaknya, Andre dan Nazila selalu ingat ayahnya dan selalu bertanya. Si kecil Nazila juga kerap demam sejak ditinggal ayahnya. Ia mengharapkan suaminya, kalau pun dianggap bersalah dihukum ringan.

"Saya minta suami saya dapat segera berkumpul dengan kami, karena ia merupakan tulang punggung keluarga," pintanya.

Beberapa warga yang melihat kedatangan rombongan MPI juga berdatangan dan menyampaikan keprihatinan mereka atas nasib Salmah dan anak-anaknya tersebut.

"Kasihan kami melihat nasib mereka ini, padahal selama ini lahan yang dikerjakan suaminya ini hanya untuk bertanam ubi, karena tidak memiliki tanaman kelapa," sebut seseorang yang mengaku guru Andre, anak paling tua Salmah.

Adapun bekas pembakaran yang disangkakan sebagai pembakaran lahan merupakan bekas tumpukan hasil tebasan dengan ukuran sekitar sedepa orang dewasa yang dibakar untuk membersihkan lahan yang akan ditanami ubi.

"Sejak nenek moyang kami, kalau membersihkan lahan dengan cara seperti ini, bukan dibakar semuanya, tapi hanya bekas tebasan yang ditumpuk, itupun dalam ukuran kecil kemudian dibakar dan dijaga agar tidak membakar lahan atau tanaman lainnya," sebut pria tua yang mengaku masih kerabat dari Suryono.

Sejak ditangkapnya Suryono, para petani juga merasa was-was mengelola lahannya, karena takut dituding membakar lahan. Padahal, sudah lumrah pembakaran bekas tebasan, selain untuk membersihkan lahan dalam skala kecil secara tradisional. Juga biasanya untuk mengusir nyamuk dan binatang liar lainnya saat malam hari, biasanya dibakar tak jauh dari tempat tinggal.

"Sekarang kami membersihkan lahan menjadi takut, nanti membakar sikit saja dikira membakar lahan. Bahkan, saat menyalai (mengeringkan kelapa dengan cara dipanaskan dengan bara tempurung dan sabut kelapa) juga khawatir," imbuh warga lainnya.

Aktifis MPI, Tengku Suhandi alias Comel menyampaikan, pihaknya akan mengawal kasus yang menimpa Suryono ini.

"Kami bukan membela pelaku pembakaran lahan, silahkan lakukan penegakan hukum. Tapi, hendaknya juga harus melihat kearifan lokal dari petani saat mengolah lahannya dan melihat keadilan bagi petani ini," sebutnya.

Seharusnya, penegakan hukum juga harus tegas kepada perusahaan yang diduga sengaja dan atau lalai sehingga lahannya terbakar, ini biasanya yang langsung membawa dampak lingkungan hidup, yakni kabut asap. (*)


Source: riauterkini.com
Ikuti Terus InhilKlik

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER