
post
Oleh: Abdul Malik Al-Munir
(Putra kelahiran Indragiri Hilir, Ketua Himpunan Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kali Jaga)
Tepat dihari Jum'at tanggal 14 agustus 2015 bertempat di gedung nusantara komplek DPR RI, Presiden Jokowi Widodo menyampaikan pidato kenegaraannya.
Tentu isi pidato adalah luarbiasa, termasuk yang penulis inggin kembangkan disini adalah gerakan AYO KERJA. Sepertinya slogan AYO KERJA ini adalah slogan nasional, sebab sebelum menulis tulisan ini, saya juga mendapati spanduk hari kemerdekaan Republik ini yang dibuat oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir juga menyertakan slogan "gerakan nasional AYO KERJA".
Gerakan nasional AYO KERJA tentu sangatlah bagus, apalagi saat ini Indonesia mengalami keterpurukan bidang ekonomi, sampai-sampai pemerintah pusat mengganti menteri-menteri yang terkait bidang ekonomi.
Tapi perlu diingat gerakan nasional AYO KERJA tersebut jangan sampai berujung pada Dikerjain artinya AYO KERJA yang sejatinya dapat menciptakan kesejahteraan rakyat, eh diakhir malah NGERJAIN rakyat.
Gerakan nasional AYO KERJA tersebut tidak boleh berhenti pada sebuah slogan belaka, slogan itu perlu didukung oleh kerja-kerja nyata, misalnya penciptaan lapangan usaha, pengembangan industri kreatif, kemudahan sistem pelayaan buka usaha bagi pribumi, bantuan modal perbankan bagi usaha mikro, meminimalisir bahkan menghilang PHK, mencari peluang-peluang usaha.
Jika tidak seperti itu saya yakin, program gerakan nasional AYO KERJA hanyalah sebuah slogan, bahkan ia ada wujud dari NGERJAIN rakyat alias hanya ingin terlihat bahwa pemerintah telah berbuat.
Selain itu pemerintah perlu mendorong, agar rakyat punya kesadaran ekonomi (Financial awareness), kesadaran ekonomi yang kami maksud adalah rakyat mesti membuat dirinya mandiri bukan berarti menggantungkan dirinya pada pemerintah, sebagai contoh para lulusan perguruan tinggi harus diberi penjelasan bahwa sikap kewirausahaan jauh lebih dibutuhkan negara ketimbang menjadi pejabat publik atau pegawai negeri sipil.
Sebab dengan kewirausahaan ia telah mampu untuk bersikap mandiri bagi dirinya, syukur-syukur kemudian ia mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang lain.
Setelah kesadaraan ekonomi itu fase berikutnya adalah Jihad produksi, artinya pemerintah memotivasi, memberikan akses, serta jika dapat memfasilitasi tecipta produk-produk kreasi rakyat itu sendiri, dilapangan hari ini, suatu negara yang mampu serta banyak memproduksi maka negara tersebut akan maju dan sejahtera.
Dan fase yang juga amat penting adalah pemerintah secara serius melakukan Revolusi saintifik guna menghasilkan penemuan-penemuan yang mendukung bagi terciptanya produk-produk baru atau memperbaiki kualitas produk-produk lama.
Diakhir tulisan ini saya tentu sangat mendukung "gerakan nasional AYO KERJA" dan tidak ingin berujung pada DIKERJAIN", dikerjain dalam arti kata terhenti dislogan.
Mari kita bersama di titik 70 tahun kemerdekaan bangsa ini, berperan sesuai dengan status kita masing-masing, sebagai eksekutif layanilah rakyat dengan baik, sebagai legislatif cari, dengar dan bantulah keluh kesah rakyat, kepada penegak hukum (polisi dan jaksa) berilah rasa aman dan adil pada rakyat, kepada pemuka agama siramilah rohani rakyat, kepada guru didiklah murid dengan baik, kepada pelajar dan mahasiswa tuntut ilmu serta perbaikilah sikap. Dirgahayo Republik Indonesia, jayalah bangsaku. (*)