INHILKLIK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau menyampaikan, potensi sumberdaya minyak dan gas alam yang dimiliki Provinsi Riau 33,57 persen terhadap PDRB setiap tahun. Cadangan minyak bumi Riau terbesar di Indonesia, yakni 5 miliar barrel atau 51,5 persen dari cadangan nasional 9,7 miliar barrel.
Produksi minyak bumi Riau 365 ribu barrel perhari (133,4 juta barrel pertahun) atau 40,7 persen dari produksi nasional 895 ribu barrel perhari (314 juta barrel pertahun). Produksi 133,4 juta barrel pertahun hanya 64,6 juta barrel (49,4 persen) diproses di kilang minyak Dumai dan Sungai Pakning, sebesar 18,6 juta barrel diproses di kilang minyak Bolongan, dan 50,2 juta barrel (37,6 persen) produksi minyak Riau diekspor.
"Potensi gas alam cair cukup besar, dengan produksi antara 23,7 juta MSCF. Komoditas lainnya yang potensial adalah batubara memiliki cadangan 1,4 ribu ton, timah putih/hitam dengan cadangan 74,6 ribu ton, cadangan semen di Rohul seluas 3.500 hektare (100 tahun), serta emas, pasir, krikil, bentonit, endosit, oil shell/bitumen," papar Plt Gubri di hadapan Peserta Konvensi dan Pameran Indonesia Petroleum Association (IPA), Kamis (21/5/2015) di Jakarta.
Provinsi Riau berada di bibir Selat Melaka, yang merupakan lintas pelayaran perdagangan internasional dan poros maritim dunia, berbatasan langsung dengan Malaysia, dan tidak langsung dengan Singapura dan Thailand.
Luas Provinsi Riau 107,9 ribu km2, terdiri daratan 86,5 km2 (80,11 persen), laut dan perairan 21,4 km2 (19,89 persen), dan memiliki 12 kabupaten/kota, 151 kecamatan, serta 1.609 desa dan kelurahan.
Secara geografis Riau memiliki outlooking opportunity yang strategis di kawasan Asean dan Asia Pasifik, kerana memiliki karakteristik spesifik, yakni pantai pesisir panjangnya 2.811 km kaya potensi sumber daya perairan.
"Ada hutan bakau di kawasan estuaria kaya 1.244 species ikan tawar payau dan populer di dunia, di antaranya ikan arwana dan belida. Sepanjang perairan Selat Melaka sampai Selat Karimata, terdapat 87 buah pulau besar kecil, kaya potensi geologi migas (offshore) pasir, timah dan aneka sumber daya laut yang potensial," sambungnya.
Kawasan daratan memiliki hutan, pertanian dan tambang geologi (onshore) yang kaya dan potensial, didukung 4 daerah aliran sungai seluas 8,6 juta hektare, 4 sungai besar, 15 sungai kecil yang menjadi urat nadi ekonomi Riau. Ada 4,3 juta hektare lahan gambut dan 3,9 juta hektare kawasan pasang potensial untuk energi terbarukan dan industri terapan.
"Perkebunan merupakan andalan Riau, dimana kontribusi kepada PDRB Riau sebesar 28,79 persen. Kelapa sawit seluas 2.3 juta hektare (42 persen dari luas nasional 5,4 juta hektar), menghasilkan CPO (crude palm oil) 7,34 juta ton, merupakan yang terbesar di Indonesia atau 34,88 persen dari total produksi minyak sawit Indonesia (21,04 juta ton)," jelas Andi Rachman.
Produksi lain adalah karet seluas 500 hektare dengan produksi 350 ribu ton pertahun, kakao seluas 6,36 hektare produksi 2.607 ton, kopi seluas 4,36 hektare produksi 2.500 ton, dan sagu seluas 82 hektare dengan produksi 281 ton ton. Kelapa hebrida/dalam 521 hektare dengan produksi 550 ribu ton pertahun, terbesar di Indonesia yakni 14,90 persen dari total 3,1 juta ton setara kopra, di samping ekspor crude coconut oil 27,18 persen dari total ekspor produk olahan kelapa, diikuti kelapa bulat (20,25 persen), dan copra extration pallets (13,80 persen).
Pada sektor kehutanan, berdasarkan RTRW Provinsi Riau 2007-2026 memiliki luas 8,9 juta hektare, terdiri atas kawasan lindung 2,1 juta hektare, kawasan hutan 2,6 juta hektare, kawasan perkebunan 3,2 juta hektare, kawasan tanaman pangan 602,6 ribu hektare dan kawasan peruntukkan lainnya 360,7 hektar.
Hutan Riau memiliki potensi SDA kekayaan menghasilkan pulp 4,1 ton, chips 153,5 ribu ton, kayu gergajian 105,7 ribu M3, kayu lapis 185,7 ribu M2, veneer 30,2 ribu M3 dan blockboard 16,7 ribu M3. Potensi lainnya ada pinang seluas 91 hektare dengan produksi 10,8 ton, gambir seluas 4,93 hektare dengan produksi 4.230 ton, enau 35 hektare produksi 19 ribu ton.
Di dalam hutan konservasi terdapat 2.103 jenis kayu yang memiliki nilai ekspor tinggi dan mahal yaitu meranti, kulim, punak, sungkai, jelutung, medang, tembusai, bakau, dan lainnya.
Di samping itu Riau juga memiliki 17 kawasan strategis potensial alam hutan lestari yakni 2 cagar alam biosfer, 10 suaka margasatwa, 2 taman wisata, taman buru, taman hutan raya, pusat latihan gajah, taman nasional bukit tigapuluh. Khusus produk hutan Riau bubur kayu jenis bleach handwood dan uncoated wood, merupakan ekspor primadona ke Cina, AS dan Afrika.
Plt Gubri memberikan paparan dengan tema 'Kerjasama Lintas Sektor dalam Mengembangkan Minyak dan Gas Bumi di Provinsi Riau'.
Acara tersebut dihadiri dihadiri Deputy Bidang Ekonomi dan Mineral Kemenko Ekonomi, Staff Ahli Kemen LH & Hut, Direktur Perencanaan Investasi Pertanian dan SDA BKPM, Plt Ketua KPK RI, Presiden & GM ExxonMobil Indonesia (Keynote speaker). (rls/goriau)