Modren Menurut Kita, Sebenarnya Tradisional Menurut Mereka

Rabu, 11 Februari 2015

post

Foto: Penampilan teater 'Wak Zam' yang merupakan garapan sangar Titah Negeri di Gedung Idrus Tintin Komplek Purnama MTQ Pekanbaru (Dok, Sanggar Titah Negeri)










"Sekilas Pemahaman Tentang Teater di Riau"

Oleh: Saipudin Ikwhan (Boboy)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Riau (UR) 2010


Perkembangan teater di Riau tidak bisa dilihat hanya satu atau dua dekade ini saja, ada perjalanan panjang dari masa kemasa, dan setiap masa itu saling berhubungan, ibarat sususanan mata rantai yang membentuk sebuah rantai panjang. Tapi dewasa ini ada banyak istilah teater yang tanpa kita sadari mengkotak-kotakkan insan teater itu sendiri, bahkan berpotensi memecah teaterawan itu sendiri. 

Jika kita cermati dengan baik ada beberapa istilah golongan atau sebutan teater yang sekarang banyak dibicarakan, yaitu: Teater Tradisional, Teater Modren, dan Teater Kontemporer. Apapun artinya menurut siapapun itu, apakah menurut ahli bahasa, atau bahkan menurut saya yang bukan siapa-siapa dalam dunia teater ini  sekalipun seharusnya sebutan-sebutan ini tidak membatasi kita untuk berkarya dan membuat para teaterawan terpecah. 
Kesenian adalah sebuah ekspresi dari seniman yang dibalut dengan bingkai kreativitas dan patut kita hargai. 

Mungkin terasa perlu untuk memberikan klasifikasi atas teater tersebut, akan tetapi apalah arti klasifikasi jika itu tidak dimengarti oleh kebanyakan orang; karena tidak semua penggiat dan budak teater mengerti dengan istilah-istilah teoritis akademisi teater. 

Setiap jenis-jenis teater berdasarkan sebutannya itu merupakan sebuah interprestasi dari apa yang dilihat dan yang terjadi didunia teater. Perubahan dan perkembangan teater tidak akan terbendung sebab yang menggerakkan itu adalah kreativitas insan seni yang pada dasanya sangat sulit untuk dibatasi. Maka dari itu akan ada terus sebutan yang muncul untuk menamai perubahan perkembangan teater. 

Kembali ke sebutan – sebutan diatas. 
Teater (sama-sama kita sepakati adalah sebuah seni yang dipentaskan, membalut banyak unsur seni lain dalam pertunjukannya; seperti drama, musik, sastra, tari, lukis, dll).

1. Teater Tradisional
Tradisional berasal dari kata tradisi yang artinya adat, kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan  didalam suatu masyarakat. Tradisional sendiri berarti; sikap dan cara berfikir, serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada adat kebiasaan yang ada secara turun-menurun. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011, hlm:567) 
Jadi bisa dikatan teater tradisi/tradisional adalah teater yang dalam pementasannya masih memegang adat istiadat dan norma kebiasaan masyarakat setempat.   

2. Teater Modren
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Modern berarti terbaru; muktahir. Sikap dan cara berfikir serta tindakan sesuai dengan tuntutan zaman. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011, hlm:327). Jadi bisa dikatakan teater modern adalah teater yang dalam pementasannya adalah baru dan sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Teater kontemporer
Kontemporer berarti pada waktu yang sama; semasa;sewaktu; atau pada masa kini; dewasa ini. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011, hlm:244) Terlihat tidak ada beda antara arti kontemporer dan modern. Mereka sama-sama baru dan sesuai dengan masa kini, (tuntutan zaman).

Namun memaknai teater bagi sebagian orang tidaklah sesederhana itu, karena pada dasarnya teater memiliki banyak unsur seperti dialog, artistik, kostum, dll. Tapi sebenarnya  setiap unsur itu bisa saja ada yang modern dan ada yang tradisional. 

Sebagai contoh, sebutan apa yang kita pakai untuk teater yang Ceritanya tradisi, namun peratalan cahaya, dan panggung adalah modern?. Lalu teater apa pula yang ceritanya adalah kekinian atau modern, tetapi prilaku, dialog dan tindakan diatas panggung memegang teguh adat istiadat masyarakat setempat?

Membingungkan bukan?, tetapi tugas saya bukan untuk menjawab itu, biarlah pada akademisi teater dan para teaterawan yang lebih senior dan berpengalaman yang menjawab itu. Karena yang ingin saya katakan lebih serius dalam tulisan ini adalah bagaimana proses kita memaknai bahwa sesuatu itu modern dan sebaliknya, bagaimana proses kita mengatakan itu adalah tradisional.

Modren atau tradisi itu terikat ruang dan waktu.
Ada banyak hal yang kita sebut modern dalam kehidupan ini, mulai dari peralatan elektronik hingga kesenian; yang pada dasarnya itu adalah sebuah kebudayaan. Karena kebudayaan itu tidak dibatasi oleh modern atau tradisional; mereka sama-sama kebudayaan; sama-sama buah pikir, tindakan dan karya manusia.

Modern menurut kita di Indonesia akan berbeda dengan modern menurut orang barat (amerika, eropa). Modern menurut Negara berkembang akan berbeda dengan modern menurut Negara maju. Penggunaan komputer mungkin sangat modern ketika pertama kali ada di Indonesia. Tetapi sebenarnya itu sudah terlebih dahulu modern dikalangan militer amerika saat perang dunia dulu, dan mungkin saat komputer masuk ke Indonesia sudah tidak lagi dianggap modern oleh orang barat. 

Didalam kesenianpun juga demikian, yang dulu ada di sana, tapi tidak ada disini akan dianggap modern oleh orang sini, padahal kesenian itu sudah dianggap tradisional oleh orang sana. Begitu sebaliknya, yang sudah dari zaman dulu ada disini tetapi tidak ada disana akan dikatakan modern oleh orang sana. Percaya atau tidak ini adalah fakta yang harus kita telan walau pahit.

Mengapa saya katakan pahit?, karena selama ini banyak diantara kita memilih untuk bertungkus lumus menggunakan dan mengagungkan yang sebenarnya tradisional di Negara lain tetapi kita anggap modern di tempat kita. Sedangkan mereka  bangga dan tersenyum lebar melihat tingkah kita, karena kebudayaan mereka dengan senang hati pakai mengakar ditempat kita. Apakah ini salah?, tentunya secara hukum tidak salah. Tetapi secara mental dan kekuatan budaya kita kalah. 

Sebagai contoh: 
di Indonesia banyak berkembang komunitas kimono (mungkin ada sebutan lain) atau sekumpulan orang indonesia yang dengan bangga memakai kostum tokoh-tokoh animasi jepang. Mereka menganggap hal ini adalah sesuatu yang kontemporer atau modern. Lebih tepatnya modern menurut kita, sedangkan menurut orang jepang adalah kuno atau trasidi. Tokoh-tokoh yang ada dalam animasi-animasi tersebut rata-rata adalah tokoh yang ada dalam cerita-cerita legenda jepang yang dipercaya hidup ratusan tahun yang lalu. Jika kita lihat dari waktu (ratusan tahun yang lalu) itu sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Hang Tuah, Gatot Kaca, Jaka Tinggkir, Angling Dharma, Semar, Nyi Roro Kidul, dan lain-lain.

Timbul pertanyaan dalam benak saya, mengapa kita merasa malu dan aneh jika memakai pakaian yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita legenda di tempat kita; yang jumlahnya sangat banyak, tetapi tidak malu memakai kostum tokoh-tokoh legendan jepang. Bukankah itu sama-sama cerita legenda, sejarah, hikayat, atau paling tidak sama-sama dipercaya ada pada ratusan bahkan ribuan tahun lalu, hanya saja berbeda dimensi ruang, tetapi sama dalam dimensi waktu. 

Selain cosplay atau kimono, bisa kita lihat fenomena Stand Up Comedi yang belakangan ini sangat banjir dan dianggap sebuah bentuk lawak yang modern oleh orang Indonesia. Padahal Stand Up Comedi adalah jenis kesenian yang sudah ratusan tahun lalu ada di Negara asalnya, yaitu Negeri paman Sam. Bagi kita itu adalah sebuah hal modern, tetapi bagi masyarakat asalnya itu adalah barang lama, dan tidak modern lagi.

Lalu dalam hal kesenian teater kita juga demikian, Saya tidak ingin katakan dengan jelas hal apa yang dalam dunia teater kita seperti contoh diatas, mari kita sama-sama merenung, apakah dari hal cerita, dialog, gaya garapan, norma panggung, kostum, atau alat elektronik seperti alat musik, penggunaan artistik atau pencahayaan. Harus kita pahami dan sadari banyak hal-hal yang diangap modern ditempat kita, tetapi pada dasarnya itu adalah sangat tradisi di Negara asalanya. Karena modern atau tidak itu tergantung ruang dan waktu, dimana dan kapan kebudayaan itu muncul dan berkembang hingga tersebar.

Apakah salah kita memakai tradisi orang dan kita anggap modern?, sekali lagi tidak ada yang salah dimata hukum; tetapi sekali lagi, kita lemah, dan kita kalah. Mengapa mereka bisa pasarkan budaya mereka ke tempat kita hingga sebagian besar masyarakat kita mengatakannya modern, mengapa kita tidak bisa pasarkan budaya kita hingga orang sana mengatakan budaya kita modern, dan mereka memakai tradisi kita.

Pertanyaan yang akan saya ajukan adalah, “anda lebih suka tradisi kita diangap modern oleh orang, atau tradisi orang yang kita anggap modren ditempat kita?”. Silahkan jawab. 
Diakhir tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk bertahan dan bergandengan tangan bersama-sama berkarya, lupakan sebutan-sebutan diatas. 

Pada hakikatnya kita berkesenian adalah untuk memenuhi kebutuhan jiwa, dan sosial, kalaupun bisa juga memenuhi kebutuhan raga itu adalah efek samping yang akan hadir sendiri sesuai dengan kualitas dan penerimaan masyarakat menghargai karya kita. Untuk hal tradisi dan modern menurut kita atau menurut orang asing itu kembali pada diri kita masing-masing, karena sebenarnya kebudayaan Indonesia juga hasil dari akulturasi dengan kebudayaan asing pada zaman dahulu, bahkan sebelum zaman kolonial. 

Hanya saja mari kita dengan bijak memilah dan memilih budaya mana yang akan kita ambil dari sekian banyak budaya asing, dan kalau bisa kebudayaan kita tetap memiliki ke-khasan. Karena semakin lama suatu benda, maka semakin tinggi nilai jualnya dan akan semakin dihargai. Seperti halnya Vespa, semakin lama tahun produksi, maka harga jualnya akan semakin tinggi, seperti yang kita tahu, begitu juga kesenian kita yang sudah sampai kemanca Negara. (*)