5 Fakta Soal Impor Pakaian Bekas, Tembilahan Tempat Penampungan Terbesar di Indonesia

Ahad, 08 Februari 2015

post

INHILKLIK.COM - Serbuan pakaian bekas yang impor Indonesia saat ini sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Selain memukul industri dalam negeri, pakaian bekas ini juga ditakutkan akan menularkan berbagai penyakit kepada konsumen. Berikut beberapa fakta dibalik importir pakaian bekas yang saat ini merjalalela di Indonesia seperti dikutip inhilklik dari merdeka.com. 1. Pakaian bekas tularkan virus HIV
Dari hasil riset yang dilakukan Kementerian Perdagangan, pakaian bekas menularkan banyak penyakit ke konsumennya. Bahkan, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menyebut mampu menularkan virus HIV. "Penyakit kulit, bisa kena HIV juga. Beneran, itu sudah ada hasil laboratorium," ujar Rachmat di DPR. Rachmat mengakui, wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan mempermudah masuknya impor pakaian bekas melalui jalur tikus. Apalagi, permintaan akan pakaian bekas juga tinggi dari masyarakat Indonesia sendiri. "Masuknya banyak di mana-mana, di Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara juga. Masuknya juga pakai kapal nelayan itu. Kalau dilihat pasarnya besar. Yang dilihat itu murah-murah, tapi murah tidak berkualitas. Kita mengakui produk itu dan konsumen menyukai padahal merugikan," tegasnya. 2. Celana bekas untuk wanita terbanyak mengandung bakteri
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan ratusan ribu koloni mikroba dan puluhan ribu koloni jamur dalam pakaian bekas impor yang diperjualbelikan masyarakat. Sebagai pembuktian, Kemendag telah melakukan uji sampel pada 25 baju dan celana bekas impor. Sebagai contoh, celana pendek wanita bahkan mengandung angka lempeng total 216.000 koloni per gram. Bahkan, celana pendek tersebut disinyalir bekas menstruasi. "Ternyata celana itu bekas mens. Paling banyak ditemukan, yang masuk ke Indonesia, sangat mengerikan," jelas dia. Menimbang hal tersebut pihaknya menegaskan baju bekas impor tak laik dipakai. "Dari sisi pengamatan kasat mata baju tidak layak pakai," ungkapnya. 3. Riau jadi pusat masuknya impor pakaian bekas
Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut Provinsi Riau menjadi pusat masuknya pakaian bekas ke Indonesia. Wilayah penampung pakaian bekas paling banyak adalah Tembilahan. Kemendag sendiri mengaku kesulitan memberantas pakaian bekas karena ada perlawanan dari berbagai pihak. Fakta ini diperparah dengan maraknya pelabuhan tikus yang membuat pemerintah sulit melakukan pengawasan masuknya impor pakaian bekas. "Seperti Sumatera bagian timur terlalu banyak pelabuhan tikus ada 130, di Batam ada 33. Memang pengawasannya sangat berat," jelas dia. 4. Importir pakaian bekas akan dipidana
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengancam akan memberikan sanksi pidana bagi importir nakal yang nekat mendatangkan pakaian bekas. Importasi pakaian bekas sebenarnya tidak mendapat izin dari Kementerian Perdagangan. Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel mengatakan pakaian bekas yang masuk ke Indonesia adalah ilegal. "Kalau itu ilegal sanksinya jelas yaitu pidana. Kita sedang coba melawan impor ilegal karena banyak merugikan masyarakat dan negara," tegas Rachmat di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (3/2). Rachmat mengklaim, langkah tegas perlu diambil untuk melindungi masyarakat dari bahaya barang impor berkualitas rendah. "Kita harus bisa memberikan pembinaan/informasi yang jelas kepada masyarakat bahwa pakaian bekas berdampak negatif pada kesehatan konsumen," jelasnya. 5. Pakaian bekas injak-injak harga diri bangsa
Direktur Jendral Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengaku kesal dengan merajalelanya pakaian bekas di Indonesia. Menurutnya, kejadian ini sama saja dengan menginjak-injak harga diri bangsa. "Baju bekas itu komoditi larangan, sehingga ada pembatasan. Kenapa? Pertama, dia mengganggu industri garmen. Kedua, mengganggu harga diri bangsa. Masa pakai barang bekas orang. Belum lagi masalah kesehatan, apakah barang itu bebas dari kuman," tegasnya. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel juga meradang menemukan fakta impor pakaian bekas yang mengandung ribuan bakteri. Menurutnya, ini sebagai pelecehan terhadap martabat bangsa. Rachmat meradang karena dari hasil uji sampe di laboratorium Kementerian Perdagangan, pakaian impor bekas yang masuk Indonesia mengandung ribuan bakteri berbahaya bagi manusia. "Impor kita itu yang kualitasnya rendah, barang konsumsi itu tinggi sekali. Coba kalau bangsa pasar kita diisi buah-buahan terkontaminasi, pakaian bekas ilegal, barang-barang berkualitas rendah. Yang rugi adalah konsumen. Dampak yang didapat konsumen adalah keselamatan, keamanan, kesehatannya," katanya. (ard/mdc)