Yang Warga Inhil Harus Tau, Ikan Bakut (Betutu) Sangat Mahal di Luar Negeri

Senin, 02 Februari 2015

post

Ikan Bakut (Sumber: Wekipedia)
INHILKLIK.COM, TEMBILAHAN - Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) atau oleh warga Indragiri Hilir lebih dikenal dengan nama ikan Bakut, meskipun belum sepopuler ikan konsumsi lain seperti nila, mas, lele, patin, baung, dan gurami yang biasa menjadi makanan andalan rumah makan di tanah air, tetapi jangan salah, di mancanegara seperti Singapura, Taiwan dan Cina ikan Bakut adalah santapan favorit berkelas di restoran-restoran top.

Di Singapura, ikan yang juga hidup di daerah sunga-sungai di Kabupaten Indragiri Hilir itu harganya mencapai Rp. 400.000 per porsi. Di tanah air seperti di jakarta restoran-restoran eksklusif menjual ikan bakut yang berukuran 400 gr dengan harga Rp. 200.000 per porsi.

Mengapa ikan ini mahal dan diburu di mancanegara?, selain rasa dagingnya yang sangat lezat, ternyata ikan bakut dipercaya sangat berkhasiat untuk meningkatkan libido pria serta kandungan omega 3 yang berlimpah. Omega 3 sangat berguna untuk mengatasi berbagai penyakit seperti pikun, menstabilkan kolestrol serta mengobati penyakit gangguan jantung.

Ikan bakut asal Indonesia dinilai oleh importir negara asing lebih bagus dibading ikan bakut yang berasal dari Vietnam dan kamboja yang juga merupakan sumber pasokan ikan bakut dunia. Di Indonesia selain terdapat di Indragiri Hilir, ikan bakut juga hidup dibeberapa daerah lain seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Sumatra Selatan dan Jawa Barat.

Budidaya ikan bakut atau biasa juga disebut ikan malas belum terlalu memasyarakat seperti ikan lele ataupun ikan  mas karena  jarang  muncul sebagai komoditas yang diperjualbelikan  di  pasar tradisional. Tetapi  di sisi lain pangsa pasar ikan bskut cukup bergengsi karena dipasok ke restoran-restoran kota besar bahkan menjadi komoditi ekspor dengan harga cukup tinggi

Semoga saja potensi Ikan Bakut di Kabupaten Indragiri Hilir menjadi perhatian pemerintah setempat untuk dikelola dan membudidayakannya, karena ikan bakut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan menjanjikan. (Ard)