Usai Vaksin Tetap Kena Covid-19, Menkes: Bukan Berarti Jadi Superman!

Kamis, 25 Maret 2021

INHILKLIK.COM - Sejumlah orang termasuk pejabat publik melaporkan dirinya terinfeksi Covid-19 usai divaksinasi. Hal itu diharapkan tidak memengaruhi minat masyarakat untuk mau divaksinasi. Sebab ada beberapa faktor mengapa seseorang tetap terinfeksi Covid-19 usai divaksinasi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan salah satu faktornya adalah seseorang mengabaikan protokol kesehatan usai divaksinasi. Sebab vaksin, kata dia, bukanlah sebuah pelindung utama yang bisa menjadikan seseorang mutlak kebal terhadap virus.

“Disuntik vaksin tak akan bikin kita jadi Superman. Enggak bisa bikin kita kebal virus,” katanya dalam pidatonya saat meresmikan layanan Vaksinasi Drive-Thru di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Kamis (25/3).

“Makanya kalau ada orang bilang, kok kena Covid-19 ya sudah divaksin? Ya iya, habisnya setelah divaksinasi jalan-jalan tanpa masker misalnya,” tambahnya.

Menkes Budi menegaskan antibodi kekebalan baru akan terbentuk setelah 28 hari usai suntik vaksin dosis kedua. Dan itupun tak menutup kemungkinan untuk kebal sepenuhnya dari virus.

“Setelah 28 hari pun bisa kena Covid-19, tapi tak akan parah. Karena kita punya antibodi,” ujarnya.

“Kalau terbentuk optimal pun tak membentuk bapak jadi Superman. Tapi sakit pun tak akan parah dan masuk RS,” tegasnya.

Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito. Ia mengingatkan masyarakay untuk terus disiplin protokol kesehatan. Sebab kini menurutnya mulai mengendur di banyak negara karena terlena dengan kedatangan vaksin. Mengingat laju penyuntikan vaksin tidak sebanding dengan laju penularan virus Covid-19.

“Kelalaian dalam menerapkan protokol kesehatan sangat berpotensi untuk menyebabkan potensi penularan di tengah penduduk,” katanya.

Prof Wiku mengingatkan sejalan dengan temuan itu, maka dia meminta semua orang untuk memandang vaksin sebagai solusi penanganan pandemi. Vaksin akan membantu menyelamatkan nyawa.

“Akan tetapi jika kita hanya mengandalkan vaksin maka kita membuat kesalahan. Perubahan perilaku harus menjadi pondasi utama dari usaha kita menghentikan penularan virus Covid-19 di Indonesia mengingat telah ditemukannya kasus mutasi baru Covid-19,” jelas Prof Wiku.

“Selanjutnya merupakan tanggung jawab kita semua untuk tetap mencegah penularan terjadi di tengah masyarakat dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya. (*)