 |
| Presiden Gambia Yahya Jammeh menuduh negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris berada dibalik serangan kudeta di negaranya. |
INHILKLIK.COM - Belasan tentara dan warga sipil ditahan setelah mereka gagal melakukan kudeta di Gambia. Seorang sumber intelijen mengatakan mereka juga berhasil menemukan sejumlah tempat penyimpanan senjata serta bahan peledak.
Para tersangka diperiksa dan ditahan di "empat vila" di dekat Banjul, ibu kota negara kecil yang terletak di Afrika barat itu, kata seorang sumber yang dekat dengan Badan Intelijen Nasional Gambia (NIA), Kamis (1/1).
Presiden Gambia Yahya Jammeh, sedang berada di Dubai saat serangan terjadi, menuduh para pembangkang asing menjadi dalang atas serangan pada Selasa (30/12) terhadap istana presiden.
"Itu adalah serangan para pembangkang yang bermarkas di AS, Jerman, dan Inggris," kata Jammeh dalam pidatonya pada Rabu (31/12). "Ini bukan kudeta. Ini adalah serangan kelompok teroris, yang didukung beberapa negara."
Jammeh menegaskan bahwa angkatan bersenjata "sangat setia" dan hanya para mantan tentara saja, termasuk seorang komandan senior, yang ikut serta dalam serangan terhadap istananya itu.
Para penyelidik telah mencium rencana serangan itu. Tiga tersangka, termasuk yang diduga pemimpin kelompok, tewas dalam kejadian kata seorang perwira militer.
Dari hasil pemeriksaan, pihak berwenang berhasil menemukan "banyak senjata otomatis canggih di sebuah peti kemas yang disamarkan sebagai peti pakaian bekas di pelabuhan Banjul”, kata sumber dari NIA.
Empat perwira yang diperkirakan ikut serta dalam usaha kudeta itu telah lari ke negara tetangga Guinea-Bissau, Afrika barat, kata sumber militer. (Antara/Rimanews)