Siapa Tony Fernandes, Pemilik AirAsia?

Selasa, 30 Desember 2014

post

CEO AirAsia Tony Fernandes saat menjawab pertanyaan wartawan di Crisis Center di Surabaya, Jawa Timur, atas hilangnya pesawat dengan penerbangan QZ8501./Rimanews.com
INHILKLIK,COM - Tony Fernandes mendadak terkenal pasca hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura. Wajah CEO AirAsia itu belakangan menjadi sangat familiar karena telah beberapa kali muncul di layar kaca Indonesia.

Tony mengatakan bahwa hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 merupakan mimpi buruk baginya dan juga AirAsia sendiri. Sejauh ini, pengusaha yang sukses membawa AirAsia bangkit dari kubangan hutang itu sangat kooperatif dalam usaha pencarian, baik kepada keluarga maupun tim penyelamat.

Tony, yang juga pemilik klub Liga Premier Inggris Queens Park Rangers, membeli AirAsia dari pemerintah Malaysia pada September 2001 dengan harga fantastis, 1 ringgit atau hanya sekitar Rp 3.000!

Namun, harga itu termasuk utang 11 juta dolar AS yang dimiliki maskapai tersebut. Saat itu, AirAsia hanya memiliki dua jet penumpang. Tony berhasil membawa maskapai yang hampir bangkrut tersebut menjadi salah satu operator low-cost carrier (LCC) terkemuka dunia hanya dalam waktu 13 tahun.

AirAsia kini memiliki anak perusahaan di India, Jepang, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Maskapai Malaysia itu saat ini memiliki 86 pesawat dengan 100 tujuan di 22 negara.

Siapa Tony?

Tony lahir di Kuala Lumpur pada tahun 1964 dan bersekolah di sekolah Alice Smith.

Saat usianya 12 tahun, ia bersekolah di Epsom College, Inggris, sebelum mendapat gelar akuntansi dari London School of Economics.

Tony sempat bekerja sebentar sebagai auditor untuk Virgin Atlantic dan pengendali keuangan di Virgin Records di London pada tahun 1987 hingga 1989.

Pada tahun 2001, ia bertemu mantan perdana menteri Malaysia Mahatir Mohammed yang menyarankannya untuk membeli sebuah maskapai penerbangan yang ada.

Meski terkenal karena membeli AirAsia dengan harga Rp 3.000 saja, Tony ternyata harus menggadaikan rumah dan menggunakan tabungan pribadi untuk melunasi utang besarnya.

Saat itu, “keberuntungan” memang benar-benar berada di pihak Tony. Akibat serangan 11 September, biaya penyewaan pesawat jatuh 40 persen dan PHK maskapai lain membuatnya mendapat banyak pilihan staf berpengalaman.

Pada tahun 2014, maskapai ini memiliki omset tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 12,41 triliun dan lebih dari 10.000 karyawan.

Selain maskapai penerbangan, Tony juga memiliki usaha perhotelan yang dimulainya pada tahun 2007. Ia juga sempat memiliki sebuah tim Formula One, Caterham (Lotus), sebelum dijual kepada konsorsium Swiss dan Timur Tengah.

Tony memiliki beberapa gelar kehormatan, di antaranya gelar Tan Sri dan Dato’ Sri yang diberikan Raja Malaysia, Legion of Honour dari pemerintah Perancis, dan CBE oleh pemerintah Inggris "atas jasanya mempromosikan hubungan komersial dan pendidikan" antara Malaysia dan Inggris. Hal ini terkait AirAsia X, layanan internasional AirAsia, yang menghubungkan Malaysia dan Inggris secara langsung. Inggris adalah rute pertama AirAsia X saat pertama kali diluncurkan.

Selama enam tahun berturut-turut, 2009-2014, Tony berhasil membawa maskapainya meraih penghargaan sebagai LCC terbaik dunia menuru Skytrax.

Tony mengutarakan bahwa kunci sukses AirAsia dirinya sebagai pengusaha adalah ia tahu kapan harus “move on”.

"Jika Anda hanya duduk di menara gading dan melihat laporan keuangan, Anda membuat beberapa kesalahan besar," katanya kepada BBC.

Ia diketahui sering melakukan “blusukan” sebagai gaya khasnya dalam memanajemen AirAsia. Tony turun langsung dan bekerja bersama awak lapangan dan awak kabin dalam beberapa hari setiap bulannya.

Pada tahun 2014, ia memiliki kekayaan pribadi bersih senilai 798 juta dolar AS.


Sumber : ABC/Rimanews