 |
| Khairul |
INHILKLIK.COM, PEKANBARU - Kemajuan suatu daerah dapat dilihat dari konsep pembangunan yang maju pesat di setiap perkambangan kota. Provinsi Riau terdiri dari 12 Kabupaten/Kota, Pekanbaru salah satu kota yang saat ini pembangunannya sangat luar biasa baik inprastruktur, perkantoran, perhotelan, Restoran, pusat perbelajaan, dan sentral bisnis lainya.
Riau bukan saja dikenal mempunyai Sumbaer Daya Alam yang kaya, tetapi Riau juga dikenal sebagai Bumi Melayu dengan selogan
Lancang Kuning di mata Nasional bahkan Internasional.
Untuk tetap menjaga nilai kekayaan budaya melayu, diharapkan pemerintah membuat kebijakan untuk pembangunan gedung-gedung perkantoran, hotel, apertemen, dan gedung lain sebagainya harus menerapkan gaya arsitektur bernuansa melayu.
"Pembangunan di riau harus mempunyai aturan disetiap pembangunan yang akan dilakukan yaitu harus bernuasa melayu baik dari pembangunan perkatoran pemerintah, swasta, hotel, Mall, restoran, ataupun perkatoran pusat yang berada di daerah. Apabila hal ini tidak diterapkan dari sekarang saya rasa selogan Bumi Melayu di Riau hanya tinggal sebuah nama" ungkap Khairul yang merupakan mantan ketua Ikappama Pekanbaru periode 2012-2014 kepada Inhilklik.com, Rabu (10/12/2014).
Menyikpai persoalan tersebut, menurut Khairul Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis untuk mendorong pembangunan Riau yang bernuansa melayu.
"Saya berharap LAM sebagai lembaga adat yang sangat kita hormati mempunyai peran andil disetiap perkembangan dan kemajuan di riau didalam tata kota tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah, kita tidak ingin sepuluh ataupun dua puluh tahun kedepan nilai-nilai sejarah dibumi lancang kuning kita ini hilang bersama zaman yang begitu modren." Tegas alumni Universitas Islam Riau tersebut.
Khairul menilai dari segi pembangunan Nuasa Melayu di Riau cukup bagus dan juga mampu bersaing dengan kosep pembangunan modren.
"Kita mempunyai putra putri terbaik diriau untuk merancang konsep pembangunan modrn di riau tampa menghilangkan nilai sejarah, dan kalau perlu kita datangkan para pakar dasain pembangunan terhadap tiap –tiap pembangunan di Riau tampa menghilangkan nilai-nilai sejarah bumi melayu," tutup Kahirul (*)