
post
Oleh: Abdul Malik Al-Munir
(Presiden Rumah Peradaban
Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka tiga momentum penting di negeri ini (Indonesia; Our beloved Country). Momentum yang dimaksud adalah Hijrah yang jatuh pada jum’at, tanggal 24 oktober 2014, sumpah pemuda pada hari selasa 28 oktober dan kelahiran Revolusi yang saya maksud adalah pada saatnya diumumkannya susunan “kabinet kerja” Presiden Jokowi pada hari minggu 25 oktober 2014. Tulisan ini juga bermotif sama dengan tulisan saya sebelumnya (baca; Jokowi dan Starterpoint untuk Bangsa) adalah tulisan provokasi untuk Indonesia yang lebih baik. Mengambil istilah jargon jokowi dan mitra koalisi untuk “Indonesia Hebat”.
Hijrah sebagaimana yang kita ketahui adalah suatu peristiwa berpindahnya nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke kota Madinah yang kemudian oleh khalifah Umar bin Khattab dijadikan awal penanggalan bagi tahun Hijriah. Tepat pada hari Jum’at tanggal 24 oktober 2014 ketika terbenamnya matahari adalah pertanda masuknya awal tahun hijriah 1436 H. Maka berbagai ucapan selamat pun dilayangkan seorang muslim kepada rekannya sesama muslim baik itu melalui sms, facebook, twitter dan lainnya. Bahkan lembaga-lembaga keislamanan juga mengadakan perayaan menyambut tahun baru ini. Perayaan semacam ini tentu baik, namun tidak sedikit yang hanya terhenti pada perayaan saja. Tidak ada yang meneguhkan tekad dengan slogan dan mengurainya dengan makna hijrah yang sebenarnya yaitu sebuah praktek untuk bergerak kearah yang lebih baik. Sedangkan hemat saya, seharusnya perayaan hijrah itu dijadikan bahan evalusi individu maupun lembaga untuk merumuskan ulang serta melakukan strategi transformatif dalam mencapai tujuan yang dikehendaki.
Peristiwa kedua yang penting yang terjadi dibulan ini adalah sumpah pemuda, sebuah sumpah yang diucapkan oleh kalangan pemuda di negeri ini dalam ikatan pikir dan rasa yang sama, yaitu se-Indonesia dalam bangsa, tanah air serta bahasa. Sumpah pemuda merupakan ikatan nasioalisme yang mempuni sebagai pijakan untuk komitmen keindonesian.
Dan peristiwa yang terakhir dibulan ini adalah terbentuknya “kabinet kerja” yang berupa komposisi para pembantu presiden Jokowi dan Yusuf Kala. Peristiwa-peristiwa yang saya sebutkan tadi mulai hijrah, sumpah pemuda dan terbentuknya “kabinet kerja” adalah dasar kita sebagai bangsa untuk melalukan Revolusi. Revolusi yang saya maksud adalah perubahan yang cepat untuk mewujudkan negara ini kepada kesejahteraan penduduknya. Revolusi itu saya bagi menjadi dua bagian. Pertama, Revolusi internal (diri) yaitu suatu usaha cepat untuk mengubah diri lebih baik. Semangat hijrah menjadi pendorong melakukan internalisasi nilai-nilai Islam dalam diri seseorang. Islam betul-betul tergambar dalam diri seorang muslim, untuk itu harus ada upaya intropeksi dari perseorangan terhadap nilai-nilai islam, apakah dirinya sudah akrab dengan nilai islam ketika melakukan aktivitas kesehariannya. Sedangkan semangat sumpah pemuda adalah upaya untuk menumbuhkan nilai keislaman dalam bingkai keindonesian, dimana kita memahami bahwa kita hidup dinegeri dengan kemajemukan penduduknya. Kedua, Revolusi bangsa, Revolusi bangsa yang saya maksud adalah upaya negara untuk mengadakan gerakan secepatnya dalam membenahi bangsa ini.
Revolusi itu adalah Revolusi etos kerja dan yang terpenting adalah Revolusi Saintifik. Revolusi etos kerja adalah dimana kita dengan hijrah dan sumpah pemudanya mendorong komponen bangsa untuk melakukan kerja dengan maksimal dan tidak surut untuk mencapai tujuan bangsa yang berkesejahteraan sampai Tuhan sendiri menyuruh kita berhenti (stop by God). Revolusi Saintifik adalah sebuah kemestian bagi negara kita, betapa tidak kalau hal ini tidak kita lakukan maka kita akan terus berada dalam “hegemoni negara lain” tidak berdikari dalam segala hal karena ketergantungan pada yang lain. Bung Karno mengatakan “Republik Indonesia harus mencapai tiga kesaktian bangsa (Trisakti) yaitu berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi, dan berkepribadian dibidang kebudayaan”.
Pernyataan Bung Karno tetap. Namun perlu ditambah untuk kondisi kekinian Indonesia. Hemat saya pernyataan Ayatollah Seyyed ‘Ali Khamenei lebih tepat untuk kita sadur, Khamenei mengatakan “Revolusi Islam telah mengantarkan Iran menjadi bangsa yang berdaulat dibidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berkepribadian dibidang kebudayaan agama, berkarya dibidang sains dan teknologi, dan bermartabat dalam pertanahan militer”.Pernyataan kedua terakhir dari Khamenei ini yang patut diambil dan diterapkan “berkarya sains dan teknologi” dan “bermartabat dalam pertahanan militer”. Maka revolusi saintifik adalah solusi untuk mewujudkan apa yang dikatan oleh kedua tokoh tadi.
Lantas, bagaimana caranya? Untuk revolusi saintifik ini, saya menawarkan dua gerak cepat. Pertama, Pemerintah harus memanggil putra-putri terbaik bangsa ini untuk mengabdikan keilmuannya dibangsa ini tentu atas dasar nasionalisme. Hal ini pernah dilakukan oleh Soeharto ketika memanggil Habibie Putra Indonesia yang jenius ini untuk mengabdi kepada negara ini. Terbayangkan kalau kita memiliki ribuan Habibie yang terpanggil untuk mengabdi dinegeri ini. Memanggil yang saya maksud adalah menyediakan lapangan untuk mereka berkreasi seluas-luasnya. Kedua, membuat visi sainstifik kenegaraan jangka panjang dan diterjemahkan dengan proyek-proyek sains. Untuk hal ini negara tidak boleh segan menggelorontorkan dana yang besar. maka melalui tulisan ini saya mengajak dan mendorog baik perseorangan telebih lagi pemerintah untuk melakukan Revolusi diri dan Revolusi Saintifik dengan semangat hijrah dalam bingkai “sumpah” kesetian “pemuda” pada negara ini. Bravo Indonesia. (**)