 |
| Abdul Malik Al-Munir (Foto: Istimewa) |
Oleh: Abdul Malik Al-Munir
(Presiden Rumah Peradaban)
Tepat tanggal 20 oktober 2014, bangsa Indonesia akan mendapat presiden baru, presiden hasil pemilihan umum beberapa bulan kemarin, presiden itu bernama jokowi. Jokowi sendiri sebelum menjabat presiden adalah seorang walikota solo dan Gubenur Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Karir Jokowi sendiri melejit begitu pesat terhitung baru dua tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sudah mencuri hati Rakyat Indonesia, hal itu tidak terlepas dari kinerja Jokowi yang selalu mengakrabkan diri dengan media sehingga Jokowi dibuat tenar. Terlepas dari itu semua, ada harapan besar dari rakyat Indonesia terhadap kepemimpinan Jokowi. Suatu kepemimpinan yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik. Rakyat Indonesia tentu menagih realisasi janji-janji Jokowi saat bertemu rakyat semasa kampanyenya.
Tulisan ini mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk menjadikan meomentum pelantikan Jokowi sebagai Presiden untuk tempat pijakan awal (starter point) bagi bangsa Indonesia untuk merubah diri. Tentu kita setuju bahwa perubahan itu sendiri tidak bisa diciptakan oleh Jokowi seandainya rakyat Indonesia mempunyai keenggan untuk merubah dirinya. Kita tentu masih ingat dengan slogan besar yang terpampang disetiap sudut kota dinegeri ini ketika prosesi kampanye berlangsung “Jokowi adalah Kita” kata ini sangat sederhana, namun penuh makna. Betapa tidak, kata ini mengadung ada KESATUAN antara kita (rakyat) dan Jokowi.
Kesatuan ini bisa menjadi KEBANGGAAN bagi kita, namun juga bisa menjadi BOMERANG. Kebanggaan ketika KITA (Jokowi dan Rakyat) mampu membawa negeri ini lebih baik. Boomerang ketika KITA (Jokowi dan Rakyat) hidup dalam kemunduran kesejahteraan.
Maka dengan pelantikan Jokowi ini mari semua komponen bangsa bekerja secara bahu-membahu untuk menjadikan negeri ini terbilang, gemilang dan cemerlang. Apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Sebetulnya cukup sederhana namun harus ada kesungguhan yang luar biasa bagi pelaksana, sikap yang harus dilakukan adalah “PROFESIONAL” disetiap bidang yang digeluti.
Profesioanal yang saya maksud adalah suatu kesungguhan yang hanya berhenti ketika Tuhan menghentikannya
(Stop by God). Artinya tidak disebut sebagai sikap professional kalau belum mengarahkan seluruh kemampuan yang dimiliki yang hanya bisa berhenti dititik ketentuan Tuhan
(role of God). Namun disatu sisi jangan cepat-cepat menghakimi bahwa ini adalah ketentuan Tuhan
(role of God) ketika belum ada usaha puncak. Sikap professional ini dilakukan serentak oleh KITA, yaitu setiap orang mengambil peran professional ini, seorang pelajar/mahasiswa dengan kesungguhan dunia Akademiknya, seorang peneliti dengan Penelitiannya, seorang petani dengan produktivitas tanamannya, seorang pengusaha dengan produktivitas barangnya dan kesejahteraan pekerjanya, seorang pejabat dengan pelayan dan tentu tidak korupsinya.
Diakhir tulisan ini KITA dengan kesatuan Jokowinya tetap mengatakan bahwa Jokowi adalah Nakhodanya, meminjam Istilah yang dipakai Prabowo “tidak ada yang salah dari anak buah pemimpinnyalah yang salah” maka Jokowi mesti betul-betul harus menjadi contoh bagi kita, apalagi ketika Jokowi sudah menyematkan pada diri kata KITA. Kita pun karena sudah menjadi bagian dari Jokowi mesti menegurnya ketika Jokowi sudah MELENCENG dari jalan yang diharapkan. Wahai anak bangsa “kalau bukan kita,siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan Lagi?. Bravo INDONESIA. (*)