
INHILKLIK - Di saat kelapa melimpah di kebun dan mudah didapat di lapangan, kenyataan pahit justru dirasakan pelaku usaha dan petani. Permintaan dari luar negeri melemah, penyerapan pasar tersendat, dan nilai jual kelapa bulat terus merosot, membuat rantai perdagangan di sentra kelapa seperti Indragiri Hilir berada dalam situasi sulit.
“Harga itu tergantung dari pasar,” ujar Awang, Toke eksportir kelapa bulat. Ia menampik anggapan bahwa toke atau perusahaan kelapa memiliki kendali untuk menentukan harga kelapa di tingkat petani.
Menurut Awang, dalam sistem perdagangan ekspor, harga sudah ditentukan oleh buyer luar negeri. Toke hanya menyesuaikan harga beli di lapangan berdasarkan harga yang berlaku di pasar tujuan ekspor.
“Kami tidak bisa menentukan harga sendiri karena harga dari buyer,” tegasnya.
Selama ini, Awang tidak pernah jual kelapa ke pabrik perusahaan kelapa dalam negeri. Seluruh penjualan kelapa bulat dilakukan untuk kebutuhan ekspor langsung. Dengan demikian, harga yang menjadi acuan bukan harga industri lokal, melainkan harga pasar dunia.
Awang menjelaskan bahwa faktor iklim dan musim di negara tujuan juga turut memengaruhi harga. Musim hujan atau kemarau di negara konsumen dan produsen global dapat berdampak pada permintaan dan harga kelapa secara keseluruhan.
.
“Pengaruh iklim dan musim itu dilihat dari harga negara tujuan,” ujar Awang.
Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan dari luar negeri mengalami penurunan. Dampaknya langsung dirasakan di Indragiri Hilir. Saat ini, pasokan kelapa relatif melimpah, namun penyerapan pasar melemah.
“Kalau permintaan banyak sementara kelapanya kurang, harga naik. Tapi sekarang kebalikannya, permintaan kurang, kelapa banyak, harga turun,” jelas Awang.
Kondisi tersebut membuat situasi perdagangan menjadi tidak seimbang. Ia menyebutkan bahwa saat ini lebih mudah mencari kelapa dibanding menjualnya. Situasi supply-demand inilah yang menekan harga di tingkat petani.
Dalam kondisi pasar yang lesu, risiko bisnis menjadi tidak terhindarkan. Toke eksportir harus menanggung potensi kerugian akibat penurunan harga global, penumpukan stok, hingga gangguan pengiriman.
“Namanya bisnis pasti ada risiko, seperti harga turun, kesusutan, sampai kapal tenggelam. Semua itu bisa menimbulkan kerugian,” ungkap Awang.
Awang menegaskan, jika permintaan global kembali pulih dan harga ekspor membaik, maka dampaknya akan langsung terasa hingga ke tingkat petani. Namun selama pasar dunia masih melemah, harga kelapa bulat akan tetap berada di bawah tekanan.