Anas Kisahkan Perjalanan Politiknya dari HMI Hingga Demokrat

Sabtu, 06 September 2014

post

Anas Urbaningrum
Annas Urbaningrum/Sayangi.com

INHILKLIK.COM, Jakarta - Anas Urbaningrum mengungkapkan perjalanan politiknya sejak mahasiswa, aktivi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Karir politik yang dijalaninya jauh dari cita-cita awal Anas yakni menjadi dosen.


"Ketika kuliah di FISIP Universitas Airlanga, saya tergolong mahasiswa sungguh-sungguh, selain belajar organisasi saya jadi mahasiwa yang agak serius, tujuan saya adalah nilai akademik saya tidak jeblok. Alhamdulilah hasilnya baik, saya lulusan terbaik, saya merasa punya hak untuk menjadi dosen lalu mendaftar untuk menjadi tenaga pengajar di kampus saya, tapi dua kali tidak berhasil alias gagal," kata Anas saat diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (4/9) malam.

Setelah dua kali ditolak menjadi dosen, Anas mengaku tidak lagi punya cita-cita.

"Setelah itu saya tidak punya definisi tentang cita-cita karena saya sudah mengusahakan belajar serius, lulusan terbaik, cum laude, mestinya pantas jadi dosen, tapi karena tidak diterima, jadi saya tidak punya cita-cita definitif harus jadi apa. Saya serahkan ke aliran sejarah saja," tambah Anas.

Ia pun akhirnya memutuskan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Menjadi aktivis pada organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia tersebut karir anas meroket hingga menjadi ketua umum Pengurus Besar HMI.

"Saya melanjutkan aktif di organisasi sampai diminta untuk menjadi salah satu ketua di pengurus besar HMI, dan teman-teman meminta saya sebagai calon ketua umum HMI. Saya tidak pernah meminta tapi diminta. Saya waktu itu ingat betul arusnya adalah arus politik intelektualisme, saya calon yang paling 'kecil' dan dipercaya jadi ketua umum Pengurus Besar HMI," jelas Anas.

Pasca-reformasi ia pun ikut menjadi salah satu anggota tim yang menyempurnakan UU Politik yang terdiri dari UU Parpol, UU Pemilu, UU Keormasan, dan perangkat politik lainnya.

"Pada 1998, Pak Ryas Rasyid membentuk Tim 7 yaitu tim revisi UU Politik dan saya diminta membantu menjadi anggota, setelah itu saya membantu Tim 11 yang membentuk KPU pada 1999, tim ini yang menyeleksi Parpol 1999, setelah itu saya diminta meneruskan tugas di KPU, setelah itu saya menjadi pengurus DPP Partai Demokrat," tambah Anas.

Di Demokrat, ia pun dicalonkan sebagai Ketua Umum oleh sejumlah pihak.

"Saya ingat betul saya tidak pernah menawarkan diri, apalagi karena ada pengalaman akibat ikhtiar pribadi saya menjadi dosen ternyata tidak berhasil," tambah Anas.

Saat menjadi pengurus DPP Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Hadi Utomo sebagai ketua umum Anas banyak keliling daerah untuk kegiatan kaderisasi partai dan mengurus sejumlah Pilkada menempel kepada sang Ketua Umum. 

"Sejak 2005, saya membantu Pak Hadi Utomo, keliling untuk musyawarah daerah, kegiatan kaderisasi dan pemenangan pilkada-pilkada, di situ kegiatan-kegiatan politiknya sudah di-cover oleh biaya DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dan terus terang saya mendapat berkah dari nempelnya saya untuk membantu Pak Hadi Utomo," kata Anas.

Berkah yang dimaksud Anas adalah sehabis kampanye, ia mendapatkan sejumlah imbalan dari kandidat pilkada.

"Kalau habis kampanye pilkada, pulangnya ada perhatian dari kandidat yang kita ikut terjun kampanye, kalau misalnya calon kepala daerah dan kepala daerahnya menang, maka dia ingat pak Hadi, dan Pak Hadinya juga ingat kepada saya," ujar Anas yang menolak menjelaskan lebih lanjut mengenai imbalan yang diperolehnya tersebut.

Namun Anas mengakui ada ongkos yang dikeluarkan untuk kongres Partai Demokrat yang diselenggarakan pada Mei 2010.

"Biaya tentu ada, tidak mungkin tidak ada, itu bagian political cost," ukar Anas.

Namun ia tidak mengurusi mengenai besaran uang yang dikeluarkan sejumlah relawan yang mendukungnya untuk menjadi ketua umum.

"Soal biaya dari mana saya tidak tahu, apakah betul biaya itu dari Nazar atau tidak saya tidak tahu atau dari pihak yang lain saya juga tidak tahu," kata Anas.

Namun Anas kembali menegaskan bahwa tugasnya bukan mengurusi hal-hal teknis karena itu merupakan bagian relawan pendukungnya.

"Pemberian terhadap DPC saya tidak tahu dan saya yakin tidak ada, saya yakin tidak ada (pemberian) dari kordinator pemenangan," ujar Anas.

Anas pun mengaku bahwa pemberian uang dalam bentuk dolar kepada para pimpinan Dewan Pimpinan Cabang maupun blackberry hanyalah karangan dan imajinasi Nazaruddin. (Sayangi)