Kisah Pilu Bocah Pungkat Tangisi Ayah yang ditangkap polisi

Selasa, 02 September 2014

post

Solidaritas untuk Pungkat oleh sejumlah oragniasai/Inhilklik.com
INHILKLIK.COM - Kasus pembakaran alat berat PT Setia Agrindo Lestari (SAL) membuat sejumlah warga di Kabupaten Inhil meringis. Sejumlah wanita mengaku kehilangan suami mereka karena dianggap ikut bertanggung jawab dalam peristiwa tersebut.

Para istri mengaku menjadi korban intimidasi Polres Inhil dan PT Setia Agrindo Lestari (SAL) beberapa waktu yang lalu bercerita tentang apa yang dialaminya kepada wartawan, Rabu (3/9). Seperti pengakuan YS (30), istri dari 21 tersangka yang ditahan Polres Inhil.

YS menceritakan anaknya yang masih berusia 3 tahun selalu menangis tersedu-sedu memanggil ayahnya. Dengan polos, ia selalu bertanya alasan bapaknya ditangkap aparat.

"Ibu, ayah mana? Kenapa polisi tangkap ayah?" kata YS menirukan perkataan anaknya.

Terkadang, sebut YS, anaknya selalu menangis di malam hari karena selalu bermimpi tentang ayahnya yang dipukul oleh polisi beberapa waktu yang lalu. "Sewaktu malam mau tidur, anak saya sering terbangun, mengigau dan memanggil-manggil bapaknya seperti itu. Saya tetap berusaha menenangkan," ungkap YS.

Dalam pengakuannya lagi, semenjak 21 orang warga Desa Pungkat ditahan oleh Polres Inhil, kaum ibu-ibu tidak bekerja. Bahkan, saat ini ada salah seorang warga yang anaknya menderita sakit jantung dan tertahan di Rumah Sakit.

"Tidak bisa ambil obat tetangga saya ini bang. Karena suaminya ditahan," keluh YS.

Cerita lain juga dialami oleh DI (31) pada saat suaminya ditangkap, dirinya sedang tengah tertidur pulas. Dari arah pintu depan, ada sekumpulan orang memanggil suaminya.

"Pas saya buka pintu, tiga polisi langsung nodongkan senjata ke muka saya. Seorang lagi menodongkan pistol ke kaki saya. Kejadiannya malam jum'at itu," papar DI.

Polisi yang malam itu datang tanpa membawa surat perintah penangkapan, tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam kamar dan dapur mencari suaminya. "Saya bilang, pak suami saya tidak ada. Polisi itu tidak percaya dan mengatakan bahwa saya berbohong. Polisi itu sempat tidur-tidur diteras rumah saya," terang DI.

Karena tidak dapat mencari suaminya, sambung DI, Polisi lalu mengancam akan membawa DI sebagai pengganti suaminya. "Gini aja, kalau besok pagi suami ibu tidak ada kabar, saya bawa ibu, susu anak ibu saya belikan,"katanya menirukan perkataan polisi tersebut.

Karena mendapatkan ancaman tersebut, anak DI yang berumur 1 tahun ketakutan dan menangis histeris. "Semenjak itu anak saya yang namanya Irfan tidak mau pulang, tiga hari tidur rumah neneknya. Karena takut banyak polisi,"terang DI.

Seperti diberitakan sebelumnya, tragedi penangkapan sejumlah tersangka pelaku pembakaran alat berat PT SAL yang diduga disertai tindak kekerasan oleh oknum Polres Inhil menyisakan trauma mendalam bagi para istri dan anak para tersangka.

Suami mereka, ada yang ditahan dan ada yang berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron Polres Inhil. Atas tragedi itu, aliansi Gerakan Rakyat Tolak PT SAL saat menggelar konferensi pers di Gedung LAM Riau, Jalan Diponegoro Pekanbaru, Selasa (2/9) kemarin.

Mereka mengungkapkan fakta adanya dua orang perempuan yang mengalami trauma berat yang harus mendapat perhatian pemerintah. Bahkan, beban tanggung jawab nafkah keluarga terpaksa harus ditanggung para istri. Tak hanya itu, beban sosial juga harus ditanggung para istri, karena kini suami mereka dianggap sebagai penjahat atau kriminil.

Perhatian pada anak-anak yang traumatik juga dituntut sebagai wujud pelaksanaan Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Merdeka)