Pemerintah akan Audit Perusahaan Hutan di Riau

Kamis, 26 Juni 2014

post

INHILKLIK.COM - Pemerintah akan mengaudit perusahaan perkebunan dan kehutanan terkait maraknya pembakaran hutan dan lahan untuk membuka lahan baru.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Raffles B Panjaitan dalam keterangan persnya kemarin menyebutkan tim gabungan dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan, Badan REDD, dan aparat penegak hukum akan turun ke Riau.

''Tim akan memeriksa kegiatan pengolahan lahan yang dilakukan perusahaan dan langkah antisipasi terhadap kebakaran,'' ujarnya.

Menurut Raffles, kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan perlu ditingkatkan karena saat ini sudah memasuki musim kemarau dan dampak El Nino yang menyebabkan kekeringan.

Berdasarkan pantauan satelit, Riau dilaporkan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak. Dari 236 titik panas yang terpantau di seluruh Indonesia, di Riau terdapat 76 titik. Titik panas banyak terpantau di Taman Nasional Tesso Nilo. Titik panas itu diduga berasal dari perambah yang membuka lahan untuk perkebunan dengan cara membakar.

''Tim pengendalian kebakaran hutan dan lahan di bawah koordinasi Badan Nasional Pengendalian Bencana terus bergerak untuk memadamkan api dan menangkap pelaku pembakaran,'' kata Raffles.

Pihak perusahaan pengelola kehutanan pun ikut andil mencegah terjadinya kebakaran hutan. Presiden Direktur Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL) Indonesia, Kusnan Rahmin telah menyatakan siap membantu pemerintah memadamkan api. ''Kami menyiapkan seluruh sumber daya yang ada. Kebakaran hutan adalah ancaman bagi kesehatan masyarakat dan juga bisnis kami,'' kata Kusnan.

APRIL Indonesia mengoperasikan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) untuk mengelola hutan tanaman industri di Pelalawan. Bantuan yang diberikan APRIL Indonesia untuk mengendalikan kebakaran hutan berupa pemantauan di darat dan udara, monitoring titik panas dengan satelit, meningkatkan cadangan air di kanal, menyiagakan 3 unit helikopter, dan 700 pasukan tim reaksi cepat pencegahan dan pemadaman kebakaran, termasuk 400 anggota Masyarakat Peduli Api. (mediaindonesia)