 |
| ilustrasi. http://akpol.ac.id |
INHILKLIK.COM, Pekanbaru - Subroto warga yang tinggal di Asrama Brimob Jalan KH Ahmad Dahlan Pekanbaru mengaku ditipu oleh calo yang menjanjikan anaknya agar bisa lulus penyeleksian Bintara Polisi. Uang milik Subroto senilai Rp 85 juta sudah raib, namun sang anak tidak lulus menjadi brigadir. Merasa dirugikan, Subroto melapor ke Polda Riau.
Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo SIK dikonfirmasi merdeka.com membenarkan adanya laporan tersebut. "Korban sudah melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau. Pelakunya masih diselidiki," katanya, Kamis (5/6).
Data di kepolisian menyebutkan, Subroto mengatakan seorang pria berpangkat Komisaris Besar (Kombes) Polisi telah menipu dirinya, setelah menjanjikan kelulusan sang anak. Dia ingin pria tersebut dicari dan diproses secara hukum.
Informasi dirangkum, penipuan ini berawal sewaktu anak korban Cintya Arum mendaftar menjadi Polwan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Pekanbaru. Dalam seleksi, anak korban gugur karena gagal menjalani seleksi.
Pada tanggal 27 Mei 2014, sekitar pukul 11.00 WIB, korban mendapat pesan singkat dari pria yang mengaku bernama Kombes Rasta. Nama tersebut mengaku sebagai panitia penerimaan calon siswa bintara di SPN Pekanbaru. Sang anak juga mendapat pesan yang sama.
Pria pengirim pesan itu mengatakan, anak korban dipanggil lagi dan diluluskan menjadi calon siswa. Tak lama kemudian, korban menerima telepon dari nomor yang sama dan menjanjikan hal serupa.
Penelpon membujuk korban agar mengirimkan uang Rp 20 juta, dengan janji kelulusan. Selanjutnya, pelaku kembali meminta uang secara bertahap sehingga totalnya menjadi Rp 85 juta.
Korban mau mengirimkan uang karena termakan bujuk rayu pelaku. Hingga sekarang, anak korban juga tidak dipanggil. Merasa tertipu, korban melapor ke polisi.
Sebelumnya, Guntur mengatakan, beberapa laporan penipuan seperti itu sudah masuk ke Polda Riau. Nama Kombes Rasta selalu dicatut oleh pelaku penipuan.
"Nomornya sudah diselidiki oleh Reserse Kriminal Umum Polda. Keberadaan orang yang menelepon berada di Makassar, tidak di Riau," ujar Guntur.
Atas kejadian ini, Guntur mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan pesan singkat atau telepon yang menjanjikan kelulusan, setelah gugur seleksi.
"Kalau sudah gugur, tidak bisa masuk lagi. Masyarakat bisa mendaftar untuk penerimaan selanjutnya. Dan ingat, penerimaan polisi tidak ada calo. Mendaftar polisi gratis, tanpa uang," tegas Guntur.
| merdeka