 |
| Kebakaran hutan/Intrnet |
INHILKLIK.COM, Pekanbaru - Kebakaran lahan yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Riau membuat negara harus menderita kerugian Rp 15 Triliun. Bahkan untuk biaya pengendalian kebakaran selama tiga minggu, pemerintah pusat menghabiskan anggaran Rp 150 miliar.
“Itu baru hitungan kasar, belum hitungan yang di derita masyarakat akibat kebakaran lahan dan sakit ispa akibat asap kebakaran,” kata Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Riau, Dr Haris Gunawan, dalam lokakarya wartawan meliput perubahan iklim (MPI)
“Kunjungan Kawasan di Riau yang digelar Lembaga Pers Dr Soetomo dan Kedutaan Besar Norwegia di hotel Grand Zuri Pekanbaru, Jumat (30/5) siang.
Hutan di Riau mudah terbakar karena sebagian besar tanahnya adalah gambut. Saat cuaca panas dan gambut mengering, maka lahan tersebut akan mudah terbakar. Bahkan dengan cepat menyebar dan hanya bisa dipadamkan oleh hujan.
Kebakaran hutan di Riau mulai marak terjadi sejak tahun 1997. Dimana saat itu, banyak perusahaan atau warga yang menjadikan hutan sebagai lahan untuk menanam sawit. Akibatnya, setiap tahun lahan hutan yang terbakar semakin luas hingga sampai kepemukiman warga yang tinggal di dekat lahan yang terbakar.
“Kebakaran lahan gambut semakin meluas dan susah dipadamkan. Warga Riau dan sekitarnya merasakan hal itu hampir dua bulan. Ini adalah “kejahatan” yang disengaja. Pemicu utamanya adalah illegal loging,” terang
Menurut dia, hampir satu bulan kondisi udara di Riau berada dilevel berbahaya. Dan sebanyak 58 ribu masyarakat Riau teserang Ispa. Saat berkendaraan warga juga selalu menghidupkan lampu baik itu malam maupun siang hari karena ketebalan kabut yang sangat luar biasa akibat kebakaran hutan.
“Saat level berbahaya, rencananya masyarakat akan dievakuasi. Namun tak jadi, karena level berbahaya berkurang dengan adanya upaya pemerintah untuk memadamkan. Bahkan RI 1 yakni SBY, mengakui jika kondisi Riau sudah sangat berbahaya,” jelasnya. | batampos.co.id