Agar Calon Politikus Memperbaiki Politik Negara yang Kacau

Rabu, 15 Januari 2014

post

Melba Ferry Fadly
Oleh : Melba Ferry Fadly
(Mantan Pimpinan Umun Pers Mahaiswa UIN Suska Riau) 

Saya rasa semua sepakat bahwa kampus adalah miniatur sebuah negara. Layaknya sebuah negara akan bergelut dengan polemik dinamika pemerintahan yang sarat dengan kepentingan politik dalam merebut sebuah kekuasaan. Dalam buku Politik dan Kekuasaan, Adnan menuliskan bahwa politik adalah alat untuk mencapai kekuasaan.

Menarik kiranya jika sama-sama menjawab pertanyaan sederhana tentang apa itu politik? Untuk apa politik kampus? Untuk apa punya posisi strategis di BEM Universitas HMJ, BEM Fakultas, UKM/UKK? apa bertarung dan melakukan spekulasi-spekulasi memperebutkan posisi strategis itu? Dimanika ini tentunya akan membuahkan beragam pertanyaan dibenak, dan tidak butuh waktu sebentar untuk menjawabnya. Sederhananya Politik adalah seni dan strategi untuk memepengaruhi keputusan orang lain. Begitulah politik, pada hakikatnya adalah bersih dan netral dari kotoran, namun akan menjadi kotor ketika mental pelakunya kotor.

Gie, seorang aktivis 1966 bergolak dalam hatinya melihat pergerakan politik kampus pada tahun itu. Baginya politik itu tidak ubahnya seperti lumpur yang kotor. Tapi jika kita tidak kuat untuk menahannya, terjunlah. Dua kemungkinan yang akan terjadi. Kita akan berjalam dalam hakikat politik yang sesungguhnya, atau juga ikut kotor dengan lingkungan di dalamnya.

Dewasa ini perjalanan politik kampus berkembang pesat. Semua politik akan bergerak dibawah kepentingan. Berpolitik tidak ubahnya berstrategi. Bukan memikirkan apa strategi lawan politik yang merekan mainkan. Tapi lebih tepatnya ‘adu strategi’–saya agak sulit menjelaskan di bagian ini.
Ada beberapa catatan penting mengenai urgensi dari arena politik kampus. Pertama, Dengan berpartisipasi dalam arena perpolitikan, maka ada kesempatan menyuarakan kepentingan rakyat dan mayoritas mahasiswa konstituen. Secara praktis, tujuan-tujuan akan tersampaikan melalui lembaga kemahasiswaan baik BEM HMJ dan lain-lain. Lewat politik kampus kita belajar bagaimana menjadi pemimpin bagi rakyatnya, tidak hanya dalam lingkup kampus semata, akan tetapi meluas kepada kepentingan masyarakat.

Kedua, menganalisa kultur positif soal pengelolaan lembaga mahasiswa, dengan mengembangkan budaya jujur dan amanah. Sebab orang yang diutus untuk mengemban amah itu diharapkan menjalankan apa yang menjadi tujuan rakyatnya. Dengan demikian mahasiswa yang merasa punya pemimpin, merasa terwakili dan diayomi. Pemegang kekuasaan politik kampus akan jadi teladan kebaikan bagi rakyatnya.

Selanjutnya, jika kita sepakat kampus adalah miniatur negara, kita harus tahu syarat sebuah negara. Diantaranya; Mempunyai wilayah/ daerah tertentu. Adanya Rakyat, bahwa di dalam daerah/ wilayah tersebut terdapat masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu. Adanya pemerintahan, yaitu pemerintah yang berdaulat atas daerah dan rakyatnya. Adanya Pengakuan negara dari negara-negara lain. Adanya Tujuan negara.

Herannya, tidak semua pemimpin kampus yang paham mengapa mereka berpolitik dan untuk apa mereka berpolitik. Bahkan ada juga pemimpin yang duduk memimpin hanya jadi alat politik saja. Mereka bukan tidak tahu, tapi merelakan dirinya untuk menjadi bagian dari strategi politik. Bukan cara atau bagaimana mereka berpolitik di dalam kampus. Tapi bagaimana dan apa yang sudah dilakukan oleh para politikus kampus. Pemimpin di fakultas punya rakyat yang harus mereka ayomi. Pemimpin universitas punya rakyat yang harus diperhatikan. Para pemimpin kampus tetap saja mengurus persoalan politik di lembaga mereka, bukankah itu sebuah pengabaian terhadap rakyatnya–mahasiswa.

Pesta demokrasi kampus tidak ubahnya seperti sebuah negara yang sedang sibuk memilih pemimpinya. Ada bagian-bagian elemen yang ikut berpartisipasi, ada elemen antusias, ada elemen trategi pemenangan, ada pula elemen-elemen yang memang apatis dengan itu. Kehadiran semua eleman ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena juga masuk dalam ranah perpolitikan.
Jika kita kembali untuk menyadarkan diri bahwa kampus hanya miniatur negara, artinya kita sadar bahwa ranah intelektual ini hanyalah wadah pembelajaran. Wilayah politik sesungguhnya belum terjangkau. Saat berada dalam ranah pembelajaran saja situasi politik sudah semakin alot dengan janji yang menghipnotis kesadaran rakyat. Politik kampus seharusnya menjadi contoh bagi parpol di nagara ini. Bagaimana strategi sehat yang di utamakan. Sprortifitas yang di kedepankan. Menjaga kehormatan undang-undang. Menyayomi masyarakat dengan kecerdasan solusi–bukan dengan pencitraan. Menjungjung tinggi asas demokrasi. Menuntaskan agenda revormasi. Perbanyak agenda sosial daripada seminar. Menyelesaikan keluham dan aspirasi mahasiswa.

“Untuk bisa sampai pada satu tujuan mungkin harus melewati jalan berlumpur. Tapi jika kita sudah sampai ditujuan tersebut, maka bersihkanlah lumpur itu agar tetap indah dipandang mata.”

Karena keberadaan seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Bukan keuntungan di atas penderitaan rakyatnya.

Kampus adalah tempat belajar berpolitik. Agar calon-calon politikus bisa memperbaiki politik negara yang kacau.

Kampus adalah lembaga intelek, dengan cara berfikir yang bersih, strategi yang sehat dan sportifitas yang tinggi.

Jadikan politik kampus yang layak untuk di konsumsi masyarakat saat kita mewujudkannya dalam sebuah negara yang utuh. (*)