INHILKLIK.COM, PEKANBARU - Aksi demo yang dilakukan oleh kelembagaan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UR) kemarin, Senin, 10 April 2017 berujung pada lumpuhnya aktivitas perkuliahan di fakultas tersebut.
Aksi demo berawal dari adanya dugaan penyelewengan pada hampir di seluruh fasilitas kampus, pelayanan wisuda, dana lembaga mahasiswa, jual beli nilai oleh oknum dosen hingga dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswi.
Massa aksi menuntut agar Dekan FISIP UR, Drs. Syafri Harto, M.Si mengundurkan diri dari jabatannya karena dianggap tak mampu memimpin fakultas.
Wakil Ketua Badan Legislatif Mahasiswa FISIP UR, Riki Prayogi dalam rilisnya mengatakan aksi ini merupakan aksi susulan setelah sebelumnya mahasiswa FISIP dan seluruh kelembagaan beberapa kali telah menyampaikan tuntutannya. Namun, pihak Dekanat tak kunjung mengindahkan tuntutan tersebut.
Sempat terjadi kericuhan saat aksi berlangsung. Sebab, aparat kepolisian turut memasuki kampus FISIP dan membuat terpancingnya emosi dari massa aksi.
“Mengapa pak polisi ada disini? Kami ingin berjumpa ayah kami saja kok dihalang-halangi. Dekan itu katanya ayah di FISIP Rumah Kita, kenapa kami diperlakukan seperti ini” teriak salah satu massa aksi, Ichwan Nurfadillah dalam orasinya.
Aksi yang juga mengakibatkan rusaknya fasilitas kampus terjadi karena pihak keamanan yang dibantu 2 pleton pihak kepolisian tidak mengizinkan massa aksi kelembagaan memasuki Dekanat untuk menemui Syafri Harto.
Tak hanya itu, beberapa massa aksi mengaku juga telah mendapat pukulan oleh pihak keamanan. Aksi dorong mendorong juga tak terelakkan saat demo terjadi.
Usai dari Dekanat FISIP UR, massa aksi lantas melanjutkan demo dengan melakukan long march dari Kampus FISIP menuju Gedung Rektorat UR.
Di Gedung Rektorat, massa aksi ditemui oleh Wakil Rektor III UR, DR Syafsan, ME. Syafsan menyebut pihaknya segera mengadakan rapat lanjutan menimbang aksi yang dilakukan telah terjadi selama sepekan hingga menyebabkan lumpuhnya aktivitas perkuliahan. (r24)