Kanal

Ini Yang Bakal Terjadi Jika Trump Perang Dengan Korea Utara

INHILKLIK.COM, WASHINGTON DC - Hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat saat ini semakin memanas. Terlebih saat AS melancarkan serangan senjata rudal ke Suriah, negara sekutu Korut, sebagai balasan atas serangan senjata kimia di Suriah yang menewaskan puluhan warga sipil.

Tak hanya itu, uji coba senjata nuklir yang dilakukan Korut belakangan ini, membuat AS semakin meradang. Banyak yang memprediksi akan terjadi perang antara kedua negara tersebut.

Mantan Duta Besar AS untuk China, Max Baucus, mengatakan jika sampai AS melakukan serangan rudal ke Korut maka konsekuensi mengerikan akan terjadi.

“Setelah serangan yang dilakukan ke Suriah, seharusnya Presiden Donald Trump memiliki pertimbangan yang lebih matang lagi untuk menyerang negara otoriter. Karena satu saja serangan rudal AS ke Korut akan menimbulkan bencana yang sangat besar,” kata dubes yang menjabat pada masa pemerintahan mantan Presiden Barack Obama itu, seperti dilansir dari Independent, Rabu (26/4).

“Tapi saya yakin Pentagon, departemen negara bagian serta semua penasihatnya telah menjelaskan bahwa sebuah serangan rudal yang diprakarsai oleh AS saat ini akan benar-benar menimbulkan bencana dan konsekuensi buruk. Saya pikir dia cukup bijak untuk tidak menginginkan itu terjadi,” sambungnya.

Saat ini, Trump mengerahkan seluruh senator AS untuk berkumpul di Gedung Putih dalam rangka membahas tentang ancaman nuklir Korut. Sebab, di bawah kepemimpinan Trump AS menempatkan isu Korut di garda terdepan politik luar negerinya.

“Selama 40 tahun bertugas di Kongres, saya tidak pernah mengingat ada pertemuan yang melibatkan 100 anggota untuk berkumpul di Gedung Putih membahas keamanan nasional,” tuturnya.

“Saya hanya bisa menduga presiden sedang mencoba untuk mengatur panggung tentang tindakan yang akan dilakukannya nanti, entah itu tindakan diplomatik atau mungkin juga militer. Ini sangat luar biasa dan mengejutkan,” sambungnya.

Menurut Baucus, yang terpenting saat ini adalah upaya diplomatis yang seharusnya dilakukan oleh kedua negara. Meski dia mengakui bahwa pada pemerintahan sebelumnya, AS merasa khawatir untuk duduk bersama dengan diktator Korut membicarakan masalah ini, namun hal ini harus diubah di masa sekarang.

“Perundingan diplomatik antara kedua negara jauh lebih penting saat ini,” cetusnya.

Pernyataan untuk saling serang antara AS dan Korut memang kerap terjadi pada beberapa hari terakhir. Senin (23/4) lalu, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menjelaskan bahwa Washington akan “mendekat” jika Korut terus melakukan provokasi dengan kembali melakukan tes rudal nuklir.

Sementara itu, kantor berita Korea Utara mengklaim bahwa pasukan militer Kim Jong-un dapat menghancurkan alutsista milik Trump dalam sekali serang dengan senjata buatannya.

Dalam beberapa hari terakhir AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selamnya ke Semenanjung Korea buat mengantisipasi rencana uji coba rudal nuklir Korut berikutnya.

Militer AS juga mulai memasang sistem pertahanan rudal THAAD di Korea Selatan seiring meningkatnya ketegangan dengan Korea Utara.

Sistem rudal THAAD dirancang untuk mengantisipasi dan menghancurkan serangan rudal balistik jarak dekat dan menengah.

“Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang bekerja sama untuk mengoperasikan sistem THAAD untuk merespons ancaman rudal nuklir Korea Utara,” kata pernyataan militer Korsel.

(merdeka.com)

Ikuti Terus InhilKlik

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER