Kanal

Kudeta Bayangi Duterte, Bos Polisi Filipina: Langkahi Mayat Saya

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Sumpah setia kepada Presiden Rodrigo Duterte diucapkan Kepala Polisi Nasional Filipina (PNP), Ronald "Bato" dela Rosa. Dela Rosa berjanji untuk memerangi mereka yang berusaha melengserkan pemerintahan Duterte.

Laporan media lokal mengatakan hal ini dilakukan di tengah penyelidikan oleh Pengadilan Pidana Internasional (ICC) terkait perang berdarah Duterte terhadap narkotika. Ribuan tersangka pengguna dan pengedar narkoba dilaporkan tewas sejak Duterte menjabat sebagai orang nomor satu di Filipina pada pertengahan 2016.

Menyebut para pencela Duterte sebagai orang yang tersesat, Dela Rosa mengatakan pengkritik Duterte tidak bisa menurunkan seorang presiden yang dipilih oleh rakyat dengan tingkat kepercayaan hingga 83 persen.

"Anda ingin menurunkan pemerintahan Duterte? Langkahi mayat saya," katanya seperti dikutip dari Asean Correspondent, Selasa (20/2/2018).

"Terserah Anda. Jika Anda menginginkan perang, saya menantang Anda. Jika Anda ingin meluncurkan kudeta, lakukanlah. Ayo buat perang. Jangan mengancam saya," cetusnya.

Dela Rosa mengatakan polisi tidak akan jatuh ke dalam "perangkap" yang disiapkan dalam penyelidikan ICC.

"Untuk Anda semua ketahui, penyelidikan itu dimulai karena upaya memfitnah Presiden. Itu bermotif politik. Dan sekarang Anda terus memberi informasi sampai Anda jatuh ke dalam perangkap mereka. Kami akan mencari bantuan layanan hukum untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, apa yang legal, dan apa yang benar," tuturnya.

Dela Rosa mengemukakan dengan jelas apakah PNP akan memberikan informasi substansial kepada ICC mengenai kampanye anti-narkoba, namun mengatakan bahwa penyelidikan tersebut dapat digunakan oleh pasukan anti-Duterte untuk menyusup ke dalam pemerintahan.

Perang obat bius yang dilancarkan Duterte dimulai pada bulan Juni 2016. Tindakan ini telah banyak dikecam oleh kelompok hak asasi manusia, lawan politik dan gereja Katolik di Filipina.

Human Rights Watch memperkirakan bulan ini bahwa lebih dari 12.000 orang telah terbunuh oleh polisi dan orang-orang bersenjata berpakaian rapi sejak kampanye anti-narkoba dimulai. Statistik resmi menyebutkan jumlah korban tewas sekitar 4.000 orang.

Pengacara Jude Sabio mengajukan pengaduan ke ICC pada April lalu yang mengklaim bahwa Duterte telah berulang kali, tidak berubah dan terus menerus melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Amnesty International baru-baru ini meminta sebuah penyelidikan oleh ICC atas pembunuhan dalam perang melawan narkoba, dengan mengklaim bahwa Filipina tidak dapat atau tidak mencoba memecahkan masalah narkoba dengan todongan senjata.

Juru bicara pihak istana kepresidenan Malacanang, Harry Roque mengatakan, Duterte "sakit dan lelah" karena dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia juga menegaskan bahwa upaya untuk mengadili Duterte di ICC akan gagal.

 

 

sindonews

Ikuti Terus InhilKlik

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER