Kuala Enok — Upaya pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja UPT Puskesmas Kuala Enok menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berkat inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat bertajuk "Bunda Jentik", kasus DBD di kawasan ini berhasil ditekan secara signifikan selama 10 tahun terakhir.
Program "Bunda Jentik" pertama kali diluncurkan pada Maret 2015, menyusul terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD pada 2013–2014 yang mencatat lebih dari 30 kasus hingga menimbulkan korban jiwa. Diprakarsai oleh Kepala UPT Puskesmas saat itu, H. Muhammad Syum, SKM, MM, program ini bertujuan untuk melakukan pemantauan dan edukasi langsung ke masyarakat melalui kader-kader perempuan di tingkat RT.
Sebanyak 30 ibu-ibu dilibatkan dalam program ini dan ditetapkan secara resmi melalui SK Kepala Puskesmas. Setiap RT memiliki dua orang "Bunda Jentik" yang bertugas melakukan tiga kegiatan utama yaitu Pemantauan jentik nyamuk dari rumah ke rumah, Penaburan abate pada wadah yang ditemukan mengandung jentik, Edukasi kepada keluarga, terutama di rumah yang ditemukan jentik.

Foto Kepala UPT Puskesmas Kuala Enok H. Muhammad Syum,SKM,MM Bersama Linsek dan Bunda Jentik pada saatMonitoring Inovasi Bunda Jentik
Dalam pelaksanaannya, rumah yang ditemukan jentik akan diberi tanda bendera merah, sedangkan rumah bebas jentik diberi bendera putih. Evaluasi terhadap efektivitas program dilakukan setiap tiga bulan oleh kepala puskesmas dan penanggung jawab program.
Hasilnya sangat signifikan. Data kasus DBD di Kelurahan Kuala Enok menunjukkan penurunan drastis dalam lima tahun terakhir:
| Tahun | Jumlah Kasus | Keterangan |
|---|---|---|
| 2020 | 0 | — |
| 2021 | 0 | — |
| 2022 | 1 | — |
| 2023 | 0 | — |
| 2024 | 3 | 3 Kasus didapat dari perjalanan luar daerah |
| 2025 | 1 | Desa Sungai Laut, perjalanan keluar daerah |
Kasus DBD di Kelurahan Kuala Enok sampai juni 2025 alhamdullilah masih 0
Meskipun begitu, program ini juga menghadapi tantangan, seperti keterbatasan stok abate, dan adanya sebagian masyarakat yang enggan rumahnya dikunjungi petugas atau tidak menggunakan abate yang telah diberikan.
UPT Puskesmas Kuala Enok saat ini memiliki satu penanggung jawab program DBD yang juga merangkap sebagai penanggung jawab surveilans, serta dilengkapi satu unit mesin fogging. Namun, fogging hanya dilakukan satu kali dalam 10 tahun terakhir, menegaskan bahwa pengasapan bukan solusi utama.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus mendukung kegiatan Bunda Jentik. Pencegahan DBD dimulai dari kesadaran bersama,” ujar H. Muhammad Syum.
Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh Bunda Jentik atas dedikasi mereka dalam menjaga kesehatan lingkungan. “Berkat kerja keras mereka, masyarakat Kuala Enok kini merasa lebih aman dan nyaman dari ancaman DBD,” ujarnya.