PILIHAN
Atasi Asap di Riau, BNPB Datangkan Pesawat Rusia
Pesawat ini nantinya diharapkan bisa melakukan kegiatan pemadaman pada ratusan titik api yang masih tersebar di Provinsi Riau.
Kepala pusat data informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, rencananya pesawat amfibi jenis BE 200 dari Rusia itu akan membantu pesawat-pesawat yang sebelumnya telah melakukan pemadaman.
"Namun pesawat dari Rusia ini lebih canggih. Sekali angkut mampu membawa 40 ribu liter air. Pesawat ini juga bisa bergerak cepat mengambil air dari laut maupun sungai, untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan," kata Sutopo saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (12/3).
Sebelumnya, Kepala BNPB, Syamsul Maarif mengaku kondisi kabut asap akibat kebakaran lahan yang saat ini terjadi di Riau, diperkirakan masih akan terjadi untuk waktu yang lama. Hal tersebut karena musim kemarau diperkirakan akan terjadi hingga Juni mendatang.
Untuk itu pihaknya sudah menyiapkan operasi darat dan udara untuk penanggulangan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan.
Namun, dalam menggunakan heli dan pesawat untuk operasi udara, BNPB masih mempertimbangkan menurunkan pesawat jenis Amphibi karena biaya operasionalnya yang sangat besar.
"Pesawat Amphibi masih kita pertimbangkan kapan dioperasikan, karena biayanya mahal sekali. Untuk 45 hari saja 1 pesawat perlu sekitar Rp 100 milyar. Nanti kita siapkan untuk puncaknya bulan Juni (2014)," kata Syamsul Maarif saat RDP dengan Komisi VIII DPR RI beberapa waktu lalu.
Namun sepertinya biaya mahal untuk menyewa pesawat amfibi itu sudah sangat mendesak. Apalagi Gubernur Riau Anas Maamun, juga sudah mengeluarkan pernyataan pasrah atas bencana kabut asap yang seolah tak mau pergi dari langit Riau.
"Kita sudah menurunkan tim banyak yang bekerja memadamkan api. Sekarang tinggal berserah diri kepada Allah saja," kata Anas yang baru dilantik menjadi Gubernur itu.
Berlarut-larutnya bencana kabut asap, membuat masyarakat mulai mempertanyakan komitmen pemerintah. Terutama bagi kesehatan masyarakat di Riau, yang kini terpaksa hidup dengan ancaman terpapar penyakit saluran pernafasan atau ISPA.
"Kalau seminggu dua minggu gak masalah. Ini sudah sebulan lebih. Masa tidak ada perubahan berarti. Anak-anak yang kasihan, sudah sebulan lebih tidak menghirup udara segar," keluh Suryatin, seorang ibu rumah tangga. | jpnn
BERITA LAINNYA +INDEKS
Pipa Gas Transgasindo Bocor di Inhil, Jalan Lintas Timur Sumatra Terancam Ditutup Total
Indragiri Hilir — Jalur distribusi pipa gas utama milik PT Transgasindo (PT Perusahaan G.
Buaya Super Jumbo Inhil Mati, Isi Perutnya Bikin Geleng-geleng: Pisau Hingga Karung Goni Ditemukan
TEMBILAHAN - Bangkai buaya besar dari Sungai Undan Kecamatan Reteh Ka.
Mobil Terbakar di Tembilahan, Dua Orang Alami Luka Bakar Serius
Indragiri Hilir, Riau – Sebuah mobil Honda Mobilio dengan nomor polisi .
SPPG Minta Maaf, Pastikan Semua Korban Dugaan Keracunan MBG di Inhil Ditangani Hingga Sembuh
TEMBILAHAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang menyampaikan permo.
Wujud Implementasi BCM, BRI BO Gunungsitoli Gelar Sosialisasi dan Simulasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran
Gunungsitoli - Kegiatan Business Continuity Management (BCM) menjadi hal yang kr.
Warga Asahan Kini Semakin Mudah Bayar Tagihan PDAM Tirta Silaupiasa Dengan BRImo
Kisaran | PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus berinovasi memberikan pe.
TULIS KOMENTAR +INDEKS
iKlik Network







