PILIHAN
Pasca Pilkada, Konflik Horizontal Jangan Terus Berlanjut
Oleh: Ardiansyah
(Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau, Kelahiran Indragiri Hilir)
Tembilahan (Inhilklik) - Hak pilih telah digunakan, semoga saja semua susuai dengan hati nurani masing-masing yang memiliki hak suara tersebut. Kini tinggal menunggu siapa yang akan diputuskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pemenang pemilukada Indragiri Hilir 2013.
Satu hal dari konsekuensi pemilihan kepala daerah yang tidak dapat dihindari, yaitu konflik horizontal dimasyarakat itu sendiri, konflik antara simpatisan, konflik antar keluarga, antar tim sukses maupun antar golongan selalu saja mewarnai setiap pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia, termasuk di Indragiri Hilir yang baru saja melaksanakan pesta demokrasi 4 September kemarin.
Perbedaan pendapat dan pandangan yang merupakan ciri dari demokrasi yang tidak jarang berakhir dengan konflik, kepentingan pribadi dan kelompok itu lah yang menjadi roh jahat yang merasuki sistem demokrasi kita.
Mutasi pejabat atau jabatan sekan telah menjadi budaya yang kental dalam sebuah event demokrasi, baik sebelum maupun sesudah pilkada. Manajemen pemerintahan kita sudah jauh dari prinsip " The right man in the right place", semua telah terinfeksi prinspi kepentingan, seseoarang ditempatkan bukan lagi berdasarkan keahlian dan kinerjanya, tetapi berdasarkan kepentingan.
Keterlibatan pejabat pemerintah dalam politik menjadi salah satu penyebab terbesar budaya tersebut mengental, padahal jelas itu melanggar Pasal 278 UU Pemilu.
Harapan kita, pilkada yang baru saja kita lewati bisa menjadi moment sebuah awal yang baik untuk melakukan perubahan, rakyat sudah sangat menderita dalam keterpurukan, mulai dari harga kelapa yang murah, pelayanan publik yang belum memuaskan, lapangan pekerjeaan, kesehatan dan pendidikan, dan permasalahan-permasalahan lainnya.
Dan kita sesama masyarakat Indragiri Hilir tidak terpecah belah dikarenakan pesoalan pilkada, sesama tetangga harus tetap rukun meskipun kemarin kita beberbeda pendapat, sebuah negeri tidak akan maju jika masyarakatnya tidak rukun dan damai.
Semoga, siapapun yang terpillih sebagai pemimpin Inhil kedepan, bupati kita tidak lagi disibukan dengan konflik-konflik kepentingan, tetapi disibukan oleh pekerjaan dalam rangka mensejahterakan masyarakat demi menuju Indragiri Hilir yang lebih baik. (*)
var __chd__ = {'aid':11079,'chaid':'www_objectify_ca'};(function() { var c = document.createElement('script'); c.type = 'text/javascript'; c.async = true;c.src = ( 'https:' == document.location.protocol ? 'https://z': 'http://p') + '.chango.com/static/c.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(c, s);})();
(Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau, Kelahiran Indragiri Hilir)
Tembilahan (Inhilklik) - Hak pilih telah digunakan, semoga saja semua susuai dengan hati nurani masing-masing yang memiliki hak suara tersebut. Kini tinggal menunggu siapa yang akan diputuskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pemenang pemilukada Indragiri Hilir 2013.
Satu hal dari konsekuensi pemilihan kepala daerah yang tidak dapat dihindari, yaitu konflik horizontal dimasyarakat itu sendiri, konflik antara simpatisan, konflik antar keluarga, antar tim sukses maupun antar golongan selalu saja mewarnai setiap pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia, termasuk di Indragiri Hilir yang baru saja melaksanakan pesta demokrasi 4 September kemarin.
Perbedaan pendapat dan pandangan yang merupakan ciri dari demokrasi yang tidak jarang berakhir dengan konflik, kepentingan pribadi dan kelompok itu lah yang menjadi roh jahat yang merasuki sistem demokrasi kita.
Mutasi pejabat atau jabatan sekan telah menjadi budaya yang kental dalam sebuah event demokrasi, baik sebelum maupun sesudah pilkada. Manajemen pemerintahan kita sudah jauh dari prinsip " The right man in the right place", semua telah terinfeksi prinspi kepentingan, seseoarang ditempatkan bukan lagi berdasarkan keahlian dan kinerjanya, tetapi berdasarkan kepentingan.
Keterlibatan pejabat pemerintah dalam politik menjadi salah satu penyebab terbesar budaya tersebut mengental, padahal jelas itu melanggar Pasal 278 UU Pemilu.
Harapan kita, pilkada yang baru saja kita lewati bisa menjadi moment sebuah awal yang baik untuk melakukan perubahan, rakyat sudah sangat menderita dalam keterpurukan, mulai dari harga kelapa yang murah, pelayanan publik yang belum memuaskan, lapangan pekerjeaan, kesehatan dan pendidikan, dan permasalahan-permasalahan lainnya.
Dan kita sesama masyarakat Indragiri Hilir tidak terpecah belah dikarenakan pesoalan pilkada, sesama tetangga harus tetap rukun meskipun kemarin kita beberbeda pendapat, sebuah negeri tidak akan maju jika masyarakatnya tidak rukun dan damai.
Semoga, siapapun yang terpillih sebagai pemimpin Inhil kedepan, bupati kita tidak lagi disibukan dengan konflik-konflik kepentingan, tetapi disibukan oleh pekerjaan dalam rangka mensejahterakan masyarakat demi menuju Indragiri Hilir yang lebih baik. (*)
BERITA LAINNYA +INDEKS
Pipa Gas Transgasindo Bocor di Inhil, Jalan Lintas Timur Sumatra Terancam Ditutup Total
Indragiri Hilir — Jalur distribusi pipa gas utama milik PT Transgasindo (PT Perusahaan G.
Buaya Super Jumbo Inhil Mati, Isi Perutnya Bikin Geleng-geleng: Pisau Hingga Karung Goni Ditemukan
TEMBILAHAN - Bangkai buaya besar dari Sungai Undan Kecamatan Reteh Ka.
Mobil Terbakar di Tembilahan, Dua Orang Alami Luka Bakar Serius
Indragiri Hilir, Riau – Sebuah mobil Honda Mobilio dengan nomor polisi .
SPPG Minta Maaf, Pastikan Semua Korban Dugaan Keracunan MBG di Inhil Ditangani Hingga Sembuh
TEMBILAHAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang menyampaikan permo.
Wujud Implementasi BCM, BRI BO Gunungsitoli Gelar Sosialisasi dan Simulasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran
Gunungsitoli - Kegiatan Business Continuity Management (BCM) menjadi hal yang kr.
Warga Asahan Kini Semakin Mudah Bayar Tagihan PDAM Tirta Silaupiasa Dengan BRImo
Kisaran | PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus berinovasi memberikan pe.
TULIS KOMENTAR +INDEKS
iKlik Network








