• Sabtu, 18 April 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Nasional

Inilah Alasan Laksamana Maeda Izinkan Penyusunan Naskah Proklamasi Dilakukan Dirumahnya

Redaksi

Kamis, 17 Agustus 2017 21:59:57 WIB
Cetak
Inilah Alasan Laksamana Maeda Izinkan Penyusunan Naskah Proklamasi Dilakukan Dirumahnya

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Wanita yang berdiri di sebelah kanan Ibu Fatmawati Soekarno tatkala Sang Saka Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah Nyonya S.K. Trimurti, doktoranda (ekonomi) Sulastri Karma Trimurti, istri Sayuti Melik, yang tulisan-tulisannya tentang Marhaenisme dan Soekarnoisme banyak dibaca orang.

Beberapa hari sebelum peristiwa bersejarah itu, Sayuti Melik dan istrinya dipanggil ke Jakarta oleh Bung Karno.

S.K. Trimurti termasuk murid Bung Karno yang pertama-tama.

Dengan kedatangannya di Jakarta, ia menjadi salah satu saksi daripada peristiwa-peristiwa bersejarah sekitar 17 Agustus 1945.

Ketika mereka berdua tiba di Jakarta, Bung Karno baru ke Saigon bersama dengan Bung Hatta dan almarhum Dr. Radjiman Wedyodiningrat, untuk membicarakan soal kemerdekaan dengan Marsekal Terauchi, Wakil panglima tertinggi balatentara Jepang di Asia Tenggara.

Pada tanggal 14 Agustus ketiga utusan itu tiba kembali di lapangan terbang Kemayoran.

Di depan orang banyak yang datang menyambut, Bung Karno berkata, “Kalau dahulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga.”

Selama di Jakarta, pak Sayuti dan istri tinggal di rumah Bung Karno, Pegangsaan Timur 56.

Menurut penuturannya sendiri ia bukan tokoh dalam kejadian-kejadian yang bersejarah. Ia hadir sekadar sebagai pembantu pribadi Bung Karno.

Sedangkan Bu Trimurti, murid lama Bung Karno, bertindak sebagai sekretaris pribadi.

Pada tanggal 16 Agustus malam, sewaktu mereka sedang duduk-duduk di beranda rumah Pegangsaan Timur 56, datanglah 2 orang pemuda Wikana dan Subadio.

Pak Sayuti dapat mendengarkan percakapan mereka dari tempat ia duduk. Kedua pemuda itu atas nama kawan-kawannya  mendesak agar diadakan proklamasi kemerdekaan segera.

Bung Karno menjawab, beliau punya kawan, karena itu sebelum bertindak sesuatu perlu konsultasi lebih dulu dengan mereka. Kalau tak percaya boleh digorok lehernya!

Kemudian datang tokoh-tokoh lain: Bung Hatta, Subardjo SH, Dr. Sanusi, Iwa Kusumasumantri SH, Dr. Buntara.

Antara Soekarno-Hatta dan golongan Pemuda tak ada perbedaan prinsip tentang kemerdekaan Indonesia, hanya berbeda dalam cara.

Juga di dalam zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti.

Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka.

Tetapi pada hakekatnya tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan kita sendiri.

Demikian amanat Bung Karno mendahului pembacaan Proklamasi menurut almarhum Prof. Moh. Yamin SH dalam bukunya Dari Proklamasi sampai Resopim.

Ada perbedaan pebdapat antara golongan Soekarno-Hatta dan golongan pemuda pada masa itu tentang unsur Jepang.

Golongan Pemuda tak mau tahu Jepang, mereka menolak sama sekali kemungkinan adanya kesan seakan-akan kemerdekaan yang akan diproklamasikan adalah “hadiah” Jepang.

Golongan Soekarno-Hatta juga tetap bersandar pada kekuatan sendiri, tetapi mereka memandang unsur kekuatan Jepang yang masih ada, sebagai realitas yang tak dapat diabaikan, justru untuk menyusun organisasi dan kekuatan revolusi selanjutnya.

Keduanya tetap hendak mempergunakan Panitia Persiapan Kemerdekaan yang ditambah dengan unsur Pemuda dan unsur-unsur lain sebagai tempat musyawarah dan penyalur.

Karena itu diputuskan berapat pada tanggal 16 Agustus jam 10 agi di kantor Dewan Sanyo Pejambon 2.

Pertemuan itu urung, karena hari itu jam 4 pagi Bung Karno dan Bung Hatta oleh pemuda-pemuda Sukarni-Chairul Saleh dibawa ke Rengasdengklok.

Di antara pejabat-pejabat tinggi Jepang tokoh Laksamana Muda Maeda dari Kaigun sungguh menarik.

Oleh historicus Belanda H.J. De Graaf, Maeda dilukiskan sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang karena lebih banyak melihat dunia dalam tugasnya, lebih luas, dan lebih terang pandangannya terhadap situasi yang sebenarnya daripada perwira-perwira Angkatan Darat.

Ia berusaha mengadakan kontak dengan masyarakat a.l. melalui Kantor Penerangan yang pimpinannya dipegang oleh Subardjo SH.

Sayuti Melik dari semua tertarik oleh sikap Laksamana Muda Maeda. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang banyak makan garam, ia tak lantas percaya akan sikap baik perwira tinggi itu.

Ia mencari motifnya. Motif yang ia peroleh dari Maeda begitu bersifat manusiawi, sehingga ia dapat menerimanya.

Menurut Sayuti motif itu ialah: Setelah Jepang kalah, Maeda percaya tamatlah riwayat negara dan dirinya. Berakhirlah hidupnya.

Apakah ia membantu kemerdekaan bangsa Indonesia atau tidak, bagi dirinya sendiri sama ialah tamat riwayatnya.

Daripada pergi tanpa meninggalkan jasa, lebih baik pergi dengan meninggalkan nama. Kenangan baik itu ialah sikapnya yang bersimpati terhadap kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 16 Agustus pagi-pagi buta, Sayuti dibangunkan dan diberi tahu bahwa Bung Karno, Bu Fatmawati, dan Guntur tak ada.

Mereka mencari keterangan ke Subardjo SH, kemudian ke Maeda, tetapi tiada mendapatkan.

Pada waktu itu mereka-mereka pun belum tahu di mana Bung Karno.

Baru kemduian setelah diadakan penyelidikan perwira Jepang itu mengetahuinya.

Peristiwa itu kemudian kita kenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Pagi itu sekitar jam 4 pagi, Bung Karno dan Bung Hatta oleh pemuda-pemuda Sukarni, Chairul Saleh, dll dibawa ke Rengasdengklok ke sebuah asrama Peta.

Menurut para pemuda di sana tempatnya lebih aman untuk kedua pemimpin itu.

Akhirnya terdapat persesuaian paham antara Soekarno-Hatta, Pemuda, dan Maeda.

Kedua pemimpin itu dibawa kembali ke Jakarta, dan pada tanggal 16 Agustus malam diadakan pertemuan di rumah Laksamana Muda Maeda karena tempat yang direncanakan semua ialah Hotel Duta Indonesia ternyata sudah tutup.

Malam itu dibicarakan naskah Proklamasi yang akan diresmikan pagi harinya.

Semula naskah itu akan ditandatangani oleh “Wakil-wakil Bangsa Indonesia”, ialah orang-orang yang hadir pada malam itu termasuk orang-orang yang oleh golongan Pemuda dianggap kolaborator dari Jepang.

Maka Pemuda tak setuju dengan rumusan itu.

Tercapai mufakat, naskah Proklamasi hanya ditandatangani oleh Soekarno-Hatta “Atas nama Bangsa Indonesia”.

Pak Sayuti yang hadir pada malam itu ditugaskan mengetik naskah yang disetujui dan keesokan harinya dibaca oleh Bung Karo di depan rumah Pegangsaan Timur 56.

“Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkatnya. Jakarta 17 Agustus 1945. Atas nama Bangsa Indonesia Soekarno-Hatta.”

Itulah naskah asli, jadi bukan tulisan tangan Bung Karno yang fotokopinya kini menghiasi buku-buku dan dianggap sebagai naskah resmi.

Seperti dituturkan di atas, naskah tulisan tangan Bung Karno itu kemudian diubah dan perubahan itu diketik oleh pak Sayuti.

 Seorang historicus Indonesia, menyatakan, peristiwa Proklamasi itu masih begitu dekat jaraknya dengan kita, sehingga tulisan-tulisan yang ada, tak dapat dikatakan historischobjektif.

Diperlukan adanya distansi yang lebih jauh untuk menjadikan tulisan yang objektif.

Sebaliknya semakin banyak tulisan tentang peristiwa bersejarah itu, semakin baik sebagai sumber penulisan sejarah di kemudian hari.

Terutama tulisan-tulisan oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa-peristiwa itu.

Orang seperti Pak Sayuti Melik dapat menyumbangkan tulisannya.

Pemuda kelahiran Sleman itu pejuang sejak muda.

Dari usianya yang kini 55 tahun setengah, 17 tahun ia habiskan dalam penjara. Tatkala berusia 25 tahun, sudah 8 tahun ia meringkuk dalam penjara Digul.

Ia mulai berjuang dalam usia 16 tahun, waktu itu pelajar Sekolah Guru di Solo. Salah satu gurunya dalam perjuangan ialah Ali Archam, baru kemudian menjadi murid Bung Karno.

Ia tertarik kepada PKI karena disanalah semangat radikal dan revolusionernya terpenuhi.

Kemudian setelah mempelajari ajaran Bung Karno dan buku-buku Marxisme-Leninisme lebih mendalam, dan kenyang keluar-masuk penjara, keyakinannya berubah.

Tetap menjunjung Marxisme, tetapi Marxisme yang diterapkan dalam kondisi-kondisi di Indonesia.

Pada tahun 1933 keluar dari penjara Digul, lalu bekerja seabgai “cattle attendant” (penjaga ternak) pada kapal asing.

Sekali waktu ia dibentak oleh Kapten kapal karena enggan menyerahkan tempatnya yang teduh dalam kapal untuk ternak-ternak.

Ia menetap di Malaya, bergerak di bawah tanah menjadi anggota Partai Komunis Malaya dan Ketua Liga Anti Imperialis Asia Tenggara.

Kemudian ketahuan dan dipenjarakan. Pada tahun 1937 dibebaskan, tetapi harus meninggalkan wilayah Inggris.

Ternyata mereka sudah “tst” dengan pemerintah Belanda, buktinya sampai di Jawa terus langsung dimasukkan penjara.

Baru tahun 1938 dibebaskan. Terus ke Semarang dan bekerja sebagai penjual kain.

Di sana bertemu dengan Sulastri alias S.K. Trimurti, murid Bung Karno yang pada masa itu memimpin majalah Suara Marhaeni.

Dalam penjara tahun 1937, pak Sayuti  merasa paling bahagia. Mengapa? Karena dalam penjara ia merasa lebih “bebas” daripada di luar penjara.

Bebas membaca buku, makan, tidur, berpikir. Orangtua, saudara, sengaja tak ia pikirkan agar tak menyedihkan hati, malahan memberitahu kepada mereka pun tidak.

Di Semarang ada surat kabar Sinar Selatan yang dipimpin oleh seorang Jepang, Hiraki namanya. Pak Sayuti sering menulis tajut untuk surat kabar itu. Akibatnya ia masuk penjara lagi.

Kemudian ia menerbitkan majalah Pesat, sampai 1941. Dalam zaman Jepang masuk penjara lagi.

Dari penjara ia ikut sayembara mengarang tentang “Kebudayaan dan Kemerdekaan” dengan nama samaran Mantri Penjara.

Juri dari sayembara itu antara lain Bung Karno dan almarhum Prof. Moh. Yamin SH.

Karangan pak Sayuti mendapat hadiah pertama. Tetapi yang menerima hadiahnya bukan penulisnya yang pada saat penyerahan hadiah masih meringkuk dalam penjara, melainkan R.M. Hadikusumo yang kedudukannya sebagai Mantri Penjara dipimjam oleh pak Sayuti.

Pada peristiwa 3 Juli 1947 pak Sayuti masuk penjara lagi sampai 2 tahun, sekalipun akhirnya dibebaskan karena ia memang tak ikut dalam gerakan itu.

Perjuangan pak Sayuti dan bu Trimurti dianugerahi oleh Pemerintah dengan pengangkatan mereka sebagai Mahaputera.

Dianugerahi juga 2 orang anak lelaki, yang satu kadet AMN, satunya lagi calon sarjana ekonomi seperti ibunya. Sudah 1 tahun lebih Bu Trimurti memperdalam ilmu di Yugoslavia.

Kalau mau, dengan bakat dan jasa perjuangan seperti pak Sayuti suami-istri, tak sukar kiranya menciptakan suasana hidup mewah.

Tetapi suami-istri itu tetap setia kepada prinsip perjuangan. Hidup mereka tetap di rumah Kramat Lontar yang amat sederhana dan karena itu menyegarkan jiwa.

Sering ia berkata, “Sudah 40 tahun saya berjuang. Paling lama 5 – 10 tahun lagi saya hidup. Karena itu tak mau saya nodai perjuangan saya karena kedudukan ataupun rasa takut.”

Tulisan-tulisannya terus terang, jujur, bukan mencerminkan penyanjungan yang mempunyai pamrih, melainkan keyakinan yang dihayati sehari-hari.

Seorang rekan berkata, “Jika Proklamasinya masih murni.” (trb)


[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Nasional

Ketum BPC HIPMI Inhil Ardiansyah Julor Dukung Akbar Himawan Buchari Jadi Menpora

Senin, 15 September 2025 - 16:02:02 WIB

TEMBILAHAN – Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupate.

Nasional

2025 Harga Rokok Naik, Pemerintah Batasi Konsumsi Produk Berdampak Negatif bagi Kesehatan

Sabtu, 14 Desember 2024 - 12:07:53 WIB

INHILKLIK - Pemerintah telah menetapkan harga jual eceran (HJE) rokok untuk 2025.Meski tar.

Nasional

Rupiah Melemah di Awal Perdagangan

Senin, 09 Desember 2024 - 12:35:24 WIB

INHILKLIK - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini Senin (9/12/2024) terhadap kurs dolar Am.

Nasional

Potensi Transaksi Judi Online Mencapai Rp 1.000 Triliun pada 2026

Senin, 18 November 2024 - 10:21:25 WIB

INHILKLIK - Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengatakan, potensi transaksi judi online me.

Nasional

Indonesia Bakal Impor Beras 1 Juta Ton

Rabu, 30 Oktober 2024 - 11:28:48 WIB

INHILKLIK - Pemerintah membuka peluang impor beras 1 juta ton. Menteri Koordinator bidang Pangan .

Nasional

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp6.623 Triliun

Selasa, 15 Oktober 2024 - 12:39:33 WIB

INHILKLIK - Dalam rangka menjaga agar struktur Utang Luar Negeri (ULN) tetap sehat, Bank Indonesi.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Lebih dari Kemitraan, Sambu Group Perkuat Ekosistem Lewat Kenduri Kelapa
17 April 2026
PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Karhutla, Libatkan Masyarakat Desa
14 April 2026
Kades dan Bhabinkamtibmas Tanjung Simpang Imbau Masyarakat Jangan Membakar Lahan
09 April 2026
DPRD Inhil dan Pemda Bahas Darurat Sampah Tembilahan, Sepakati Langkah Strategis
31 Maret 2026
PT RSUP Sigap Tangani Karhutla di Labuan Bilik Inhil
31 Maret 2026
Kadis Koperindag Inhil Angkat Bicara soal Lonjakan Harga Ayam dan Daging Jelang Lebaran ‎
20 Maret 2026
PT BumiPalma LestariPersada Gelar Bazar Murah Minyak Goreng di 4 Kecamatan Inhil
18 Maret 2026
Pemdes Sungai Intan Gelar Patroli Poskamling, Ciptakan Keamanan dan Ketertiban di Bulan Ramadhan
12 Maret 2026
Merajut Kepedulian Ramadan, PT Pulau Sambu di Kuala Enok & YBDA Santuni Anak Yatim
11 Maret 2026
Safari Ramadhan PT Guntung Idamannusa Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim dan Berbagi 180 Paket Sembako
09 Maret 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Karhutla, Libatkan Masyarakat Desa
  • 2 Kades dan Bhabinkamtibmas Tanjung Simpang Imbau Masyarakat Jangan Membakar Lahan
  • 3 DPRD Inhil dan Pemda Bahas Darurat Sampah Tembilahan, Sepakati Langkah Strategis
  • 4 PT RSUP Sigap Tangani Karhutla di Labuan Bilik Inhil
  • 5 Kadis Koperindag Inhil Angkat Bicara soal Lonjakan Harga Ayam dan Daging Jelang Lebaran ‎
  • 6 PT BumiPalma LestariPersada Gelar Bazar Murah Minyak Goreng di 4 Kecamatan Inhil
  • 7 Pemdes Sungai Intan Gelar Patroli Poskamling, Ciptakan Keamanan dan Ketertiban di Bulan Ramadhan
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network