Saat ini Tersisa 400 Ekor Harimau Sumatera
INHILKLIK.COM, PEKANBARU - Harimau Sumatera yang diberi nama Bonita sudah ditangkap tim Balai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau serta TNI. Harimau Bonita diketahui sudah memangsa 2 manusia hingga tewas meski dagingnya tidak dimakan.
Padahal, lokasi penangkapan Bonita Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, Riau itu merupakan habitat hewan bertaring tersebut, yang berdekatan dengan perusahaan sawit Tabung Haji Indo Plantation (THIP). Kini Bonita dibawa ke lokasi observasi harimau di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Wiratno, menyebutkan populasi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat ini tersisa sekitar 400 ekor.
"Populasi harimau di Sumatera hanya sekitar 400 ekor. Itu menyebar di Taman Nasional Ulu Masen dan membentang hingga ke Swaka Margasatwa Kerumutan, Rimbang Baling, Bukit Tiga Puluh terus ke Lampung," katanya, Sabtu (21/4).
Menurutnya, harimau sumatera yang merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini terus terancam keberadaannya akibat perubahan fungsi hutan di Sumatera. Hutan di Sumatera khususnya Riau banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Harimau itu top predator, harus ada siklus makanannya. Indikasi pakan menentukan populasi harimau. Kita sekarang ada perubahan (fungsi hutan) besar-besaran di Sumatera," kata dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Mulyo Hutomo mengatakan populasi harimau sumatera khusus di Provinsi Riau diperkirakan sebanyak 190 ekor. Jumlah itu merupakan sepertiga dari total populasi di Pulau Sumatera.
"Ya, kalau di Riau, harimau Sumatera diperkirakan sekitar 190 ekor," kata Hutomo.
Dia mengatakan, populasi satwa predator itu tersebar di sejumlah kantong-kantong harimau di Riau. Itu ermasuk salah satunya di SM Kerumutan, atau habitat Bonita, yang selama ini diincar karena telah memangsa manusia.
Bonita muncul ke pemukiman penduduk sejak Desember 2017, dan mulai memangsa seorang warga bernama Jumiati pada awal Januari 2018 lalu. Setelah itu, BBKSDA langsung mencari Bonita. Namun dalam pencarian, Bonita kembali menerkam warga bernama Yusri hingga tewas.
Baik Yusri maupun Jumiati diterkam dan digigit bagian tengkuk hingga tewas, namun daging manusia tersebut tidak dimakan harimau betina berusia 4 tahun itu.
Yusri dan Jumiati diterkam Bonita di sekitaran Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir. Bukan hanya harimau, daerah tersebut juga sering bermunculan satwa liar lainnya seperti beruang madu. Namun, petugas banyak mendemukan perangkap dan jebakan hewan yang dipasang sekelompok orang.
Bonita berhasil ditembak bius sebanyak 2 kali lalu dimasukkan ke dalam kandang oleh tim terpadu pada Jumat pagi (20/4) sekitar pukul 06.00 Wib.
Sumber: Merdeka.com
- Harimau Sumatera yang diberi nama Bonita sudah ditangkap tim Balai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau serta TNI. Harimau Bonita diketahui sudah memangsa 2 manusia hingga tewas meski dagingnya tidak dimakan.
Padahal, lokasi penangkapan Bonita Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, Riau itu merupakan habitat hewan bertaring tersebut, yang berdekatan dengan perusahaan sawit Tabung Haji Indo Plantation (THIP). Kini Bonita dibawa ke lokasi observasi harimau di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Wiratno, menyebutkan populasi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat ini tersisa sekitar 400 ekor.
"Populasi harimau di Sumatera hanya sekitar 400 ekor. Itu menyebar di Taman Nasional Ulu Masen dan membentang hingga ke Swaka Margasatwa Kerumutan, Rimbang Baling, Bukit Tiga Puluh terus ke Lampung," katanya, Sabtu (21/4).
Menurutnya, harimau sumatera yang merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini terus terancam keberadaannya akibat perubahan fungsi hutan di Sumatera. Hutan di Sumatera khususnya Riau banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Harimau itu top predator, harus ada siklus makanannya. Indikasi pakan menentukan populasi harimau. Kita sekarang ada perubahan (fungsi hutan) besar-besaran di Sumatera," kata dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Mulyo Hutomo mengatakan populasi harimau sumatera khusus di Provinsi Riau diperkirakan sebanyak 190 ekor. Jumlah itu merupakan sepertiga dari total populasi di Pulau Sumatera.
"Ya, kalau di Riau, harimau Sumatera diperkirakan sekitar 190 ekor," kata Hutomo.
Dia mengatakan, populasi satwa predator itu tersebar di sejumlah kantong-kantong harimau di Riau. Itu ermasuk salah satunya di SM Kerumutan, atau habitat Bonita, yang selama ini diincar karena telah memangsa manusia.
Bonita muncul ke pemukiman penduduk sejak Desember 2017, dan mulai memangsa seorang warga bernama Jumiati pada awal Januari 2018 lalu. Setelah itu, BBKSDA langsung mencari Bonita. Namun dalam pencarian, Bonita kembali menerkam warga bernama Yusri hingga tewas.
Baik Yusri maupun Jumiati diterkam dan digigit bagian tengkuk hingga tewas, namun daging manusia tersebut tidak dimakan harimau betina berusia 4 tahun itu.
Yusri dan Jumiati diterkam Bonita di sekitaran Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir. Bukan hanya harimau, daerah tersebut juga sering bermunculan satwa liar lainnya seperti beruang madu. Namun, petugas banyak mendemukan perangkap dan jebakan hewan yang dipasang sekelompok orang.
Bonita berhasil ditembak bius sebanyak 2 kali lalu dimasukkan ke dalam kandang oleh tim terpadu pada Jumat pagi (20/4) sekitar pukul 06.00 Wib.
Sumber: Merdeka.com
DLHP Inhil Tegaskan Komitmen Bersama Kelola Sampah, Ajak Warga Perkuat Kolaborasi
TEMBILAHAN - Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang di tengah masyarakat terkait pengelola.
PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Karhutla, Libatkan Masyarakat Desa
Indragiri Hilir – PT Guntung Idamannusa (PT GIN) menggelar kegiatan sosialisasi dan simulasi pe.
DPRD Inhil dan Pemda Bahas Darurat Sampah Tembilahan, Sepakati Langkah Strategis
Tembilahan — Menanggapi keluhan masyarakat terkait persoalan sampah yang kian tidak terkendali .
PT SRL Gelar Rapat Penilaian Desa Bebas Api, Dua Desa Raih Reward Rp100 Juta
TEMBILAHAN - PT Sumatera Riang Lestari (SRL) Blok VI, bersama komite Desa Bebas Api yang te.
PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Karlahutbun
Pelangiran — PT Guntung Idamannusa (GIN), anak perusahaan Musim Mas Group, bekerja sama dengan .
PT Bumipalma Lestaripersada Gelar Apel Siaga Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla
TEMBILAHAN - Fenomena el nino yang terjadi di bulan ini menyebabkan kekeringan di berbagai .
iKlik Network







