PILIHAN
Demam batu Cincin, Dari Keindahan Sampai Persoalan Klenik
INHILKLIK.COM - Saat ini, kegemaran akan batu akik menjadi fenomena sosial di Indonesia. Di banyak tempat bisa ditemui penjual-penjual batu cincin yang menyediakan berbagai jenis batu akik. Ada banyak alasan seseorang membeli batu cincin berbagai ukuran itu, mulai dari alasan keindahan hingga alasan klenik.
Sujarwanto Rahmat M. Arifin, salah seorang komisioner Komisi Penyiaran Indonesia, yang menaruh perhatian pada batu akik sejak 4 tahun lalu punya pandangan sendiri tentang fenomena kegemaran masyarakat akan batu akik.
Seperti dimuat Liputan6.com, Jumat (23/1/2015), awalnya Sujarwanto mengira bahwa fenomena batu cincin ini sama halnya dengan fenomena batu Ponari.
Ponari konon mendapat batu setelah disambar petir dan batu itu disebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemudian banyak orang berduyun-duyun datang ke ponari untuk minta disembuhkan dengan batunya itu. “Pada mulanya saya mengira bahwa fenomena kegemaran batu akik ini juga berkaitan dengan masalah klenik,” ucap Sujarwanto.
Merujuk pada bidang Sosiologi, Sujarwanto melihat bahwa fenomena sosial seperti yang terjadi pada kasus batu Ponari dapat disebut sebagai gejala Anomie. Anomie merupakan sebuah kondisi kekosongan atau kebingungan norma yang berakibat pada tindak-tindak yang “menyimpang”.
Namun setelah mengamati fenomena batu akik selama beberapa lama, Sujarwanto melihat bahwa hal tersebut sesungguhnya merupakan geliat ekonomi rakyat hasil perubahan kondisi masyarakat yang tadinya hanya memikirkan kebutuhan primer menjadi juga peduli dengan hobinya. Dikatakan Sujarwanto, “ini merupakan fenomena sosial ekonomi masyarakat di mana dampak kegemaran masyarakat akan batu akik berdampak pada bertambahnya perhatian pada potensi ekonomi dari batu akik tersebut.”
Sujarwanto mengatakan bahwa importir-importir batu dari berbagai negara, seperti Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea, dan lain sebagainya sudah masuk langsung ke pelosok-pelosok Indonesia untuk membeli batu-batu untuk kemudian diolah negara mereka sendiri. Menurutnya tentang potensi batu ini, Pemerintah Daerah seharusnya memberi perhatian yang lebih besar sehingga apa yang ditawarkan daerah bukan lagi batu-batu mentah tapi yang sudah diolah sehingga memiliki nilai tambah dalam perdagangan.
Kembali ke soal klenik batu akik, tak semua penggemar batu akik percaya akan hal-hal klenik. Mengenai orang-orang yang suka akik karena unsur kleniknya dikatakan Sujarwanto, “Memang ada sebagian orang yang suka batu akik karena kepercayaan kleniknya. Untuk hal ini merupakan tugas pemuka-pemuka agama untuk terus menyuarakan apa yang harusnya menjadi pedoman dalam berkegiatan, termasuk kegemaran akan batu akik.” (liputan6com)
Sujarwanto Rahmat M. Arifin, salah seorang komisioner Komisi Penyiaran Indonesia, yang menaruh perhatian pada batu akik sejak 4 tahun lalu punya pandangan sendiri tentang fenomena kegemaran masyarakat akan batu akik.
Seperti dimuat Liputan6.com, Jumat (23/1/2015), awalnya Sujarwanto mengira bahwa fenomena batu cincin ini sama halnya dengan fenomena batu Ponari.
Ponari konon mendapat batu setelah disambar petir dan batu itu disebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemudian banyak orang berduyun-duyun datang ke ponari untuk minta disembuhkan dengan batunya itu. “Pada mulanya saya mengira bahwa fenomena kegemaran batu akik ini juga berkaitan dengan masalah klenik,” ucap Sujarwanto.
Merujuk pada bidang Sosiologi, Sujarwanto melihat bahwa fenomena sosial seperti yang terjadi pada kasus batu Ponari dapat disebut sebagai gejala Anomie. Anomie merupakan sebuah kondisi kekosongan atau kebingungan norma yang berakibat pada tindak-tindak yang “menyimpang”.
Namun setelah mengamati fenomena batu akik selama beberapa lama, Sujarwanto melihat bahwa hal tersebut sesungguhnya merupakan geliat ekonomi rakyat hasil perubahan kondisi masyarakat yang tadinya hanya memikirkan kebutuhan primer menjadi juga peduli dengan hobinya. Dikatakan Sujarwanto, “ini merupakan fenomena sosial ekonomi masyarakat di mana dampak kegemaran masyarakat akan batu akik berdampak pada bertambahnya perhatian pada potensi ekonomi dari batu akik tersebut.”
Sujarwanto mengatakan bahwa importir-importir batu dari berbagai negara, seperti Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea, dan lain sebagainya sudah masuk langsung ke pelosok-pelosok Indonesia untuk membeli batu-batu untuk kemudian diolah negara mereka sendiri. Menurutnya tentang potensi batu ini, Pemerintah Daerah seharusnya memberi perhatian yang lebih besar sehingga apa yang ditawarkan daerah bukan lagi batu-batu mentah tapi yang sudah diolah sehingga memiliki nilai tambah dalam perdagangan.
Kembali ke soal klenik batu akik, tak semua penggemar batu akik percaya akan hal-hal klenik. Mengenai orang-orang yang suka akik karena unsur kleniknya dikatakan Sujarwanto, “Memang ada sebagian orang yang suka batu akik karena kepercayaan kleniknya. Untuk hal ini merupakan tugas pemuka-pemuka agama untuk terus menyuarakan apa yang harusnya menjadi pedoman dalam berkegiatan, termasuk kegemaran akan batu akik.” (liputan6com)
BERITA LAINNYA +INDEKS
Siap Siaga Padamkan Api, Kapolsek Kateman Apresiasi PT Pulau Sambu di Guntung
INDRAGIRI HILIR – Kapolsek Kateman Polres Indragiri Hilir KOMPOL BACHTIAR, S.H., M.H. memberika.
Kontingen KTNA Inhil Ikuti PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo
Gorontalo – Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indragiri H.
Kecamatan GAS Catat 131 Ekor Lembu dan 16 Ekor Kambing Kurban pada Idul Adha 1447 H
TELUK PINANG - Pelaksanaan ibadah kurban Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kecamatan Gaung Anak.
Panen Padi Bersama Masyarakat, Polsek Sungai Batang Komitmen Dukung Pertanian Lokal
Indragiri Hilir,- Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Polsek Sungai Batang, Polres.
Pipa Gas Transgasindo Bocor di Inhil, Jalan Lintas Timur Sumatra Terancam Ditutup Total
Indragiri Hilir — Jalur distribusi pipa gas utama milik PT Transgasindo (PT Perusahaan G.
Buaya Super Jumbo Inhil Mati, Isi Perutnya Bikin Geleng-geleng: Pisau Hingga Karung Goni Ditemukan
TEMBILAHAN - Bangkai buaya besar dari Sungai Undan Kecamatan Reteh Ka.
TULIS KOMENTAR +INDEKS
iKlik Network








