Menelusuri Jejak Sejarah Kota Pekanbaru, dari Halte Terminal hingga Tugu Titik Nol
INHILKLIK - Dua sejoli terlihat duduk santai di sebuah bangku taman di tepian Sungai Siak, Pekanbaru. Di belakang mereka terdapat bangunan dinding dan atap batu dengan warna cat yang mulai pudar. Sesekali keduanya terlihat tertawa sembari melihat layar ponsel.
Pasangan ini tidak sendiri, ada sedikitnya belasan orang yang duduk bercengkrama bersama rekan atau keluarga mereka pada Sabtu (22/6/2024) sore yang sejuk itu. Beberapa di antara mereka terlihat menikmati camilan yang dibeli pada pedagang yang banyak terdapat di Kampung Bandar, Senapelan itu.
Meski tempat tersebut selalu ramai, terutama pada pagi dan sore hari, ternyata ada yang tidak menyadari kalau ada cagar budaya di sana. Ya, bangunan batu itu adalah situs Cagar Budaya Halte Terminal maka yang masih tersisa.
"Tak tahu kalau ini bekas terminal lama. Saya kira hanya sekedar fasilitas taman," kata Rina, salahsatu pengunjung taman.
Bekas terminal ini berada di Jalan Perdagangan Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Terminal ini menjadi salahsatu saksi panjangnya sejarah Pekanbaru. Situs ini berada di bawah Jembatan Siak III tidak jauh dari tempat bersejarah lainnya, Rumah Tuan Kadi dan Pasar Bawah.
Di sini juga pernah menjadi pusat keramaian, sekitar tahun 1950 hingga 1970-an sebab terminal ini menjadi persinggahan angkutan umum sebelum menyeberangi Sungai Siak menggunakan ponton, baik dari Senapelan menuju Rumbai maupun sebaliknya. Setelah jembatan Leighton dibangun terminal ini mulai ditinggalkan.
Selain Situs Halte Terminal, ada sejumlah jejak sejarah Kota Pekanbaru yang masih tersisa. Ia menyimpan banyak cerita tentang perjalanan kota yang dulunya bernama Senapelan. Hari ini, Ahad (23/6/2024) Pekanbaru merayakan milad ke-240.
Perlu diketahui, munculnya Pekanbaru juga tak terlepas dari peran pelabuhan besar yang dibangun oleh Kerajaan Siak saat itu. Pelabuhan tersebut berada di Pinggir Sungai Siak, yang kini dikenal Pelabuhan Pelindo.
Pelabuhan itu merupakan pusat transportasi dan distribusi barang dan jasa. Karena di situ cikal bakal Pekanbaru, maka di situlah dimulai titik Nol Km Kota Pekanbaru.
Titik Nol Pekanbaru itu, kini juga sudah dimasukkan dalam kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) menjadi sebuah barang benda terduga Cagar Budaya yang harus dilestarikan yang diperkirakan dibangun Belanda tahun 1920.
Saat ini, Titik Nol Pekanbaru itu masih ada dan dapat dilihat di kawasan Pelabuhan Pelindo. Di lokasi itu, kini ditempati para pedagang Pasar Bawah yang direlokasi karena revitalisasi bangunan Pasar Wisata Pasar Bawah.
Titik Nol tersebut ditandai dengan tugu kecil yang bertuliskan angka 0 dan menunjukkan arah ke daerah luar Kota Pekanbaru. Pada batu berwarna kuning tertulis jarak dari Pekanbaru menuju Padang adalah sejauh 313 km, sedangkan ke Bangkinang 65 km.Dua sejoli terlihat duduk santai di sebuah bangku taman di tepian Sungai Siak, Pekanbaru. Di belakang mereka terdapat bangunan dinding dan atap batu dengan warna cat yang mulai pudar. Sesekali keduanya terlihat tertawa sembari melihat layar ponsel.
Pasangan ini tidak sendiri, ada sedikitnya belasan orang yang duduk bercengkrama bersama rekan atau keluarga mereka pada Sabtu (22/6/2024) sore yang sejuk itu. Beberapa di antara mereka terlihat menikmati camilan yang dibeli pada pedagang yang banyak terdapat di Kampung Bandar, Senapelan itu.
Meski tempat tersebut selalu ramai, terutama pada pagi dan sore hari, ternyata ada yang tidak menyadari kalau ada cagar budaya di sana. Ya, bangunan batu itu adalah situs Cagar Budaya Halte Terminal maka yang masih tersisa.
"Tak tahu kalau ini bekas terminal lama. Saya kira hanya sekedar fasilitas taman," kata Rina, salahsatu pengunjung taman.
Bekas terminal ini berada di Jalan Perdagangan Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Terminal ini menjadi salahsatu saksi panjangnya sejarah Pekanbaru. Situs ini berada di bawah Jembatan Siak III tidak jauh dari tempat bersejarah lainnya, Rumah Tuan Kadi dan Pasar Bawah.
Di sini juga pernah menjadi pusat keramaian, sekitar tahun 1950 hingga 1970-an sebab terminal ini menjadi persinggahan angkutan umum sebelum menyeberangi Sungai Siak menggunakan ponton, baik dari Senapelan menuju Rumbai maupun sebaliknya. Setelah jembatan Leighton dibangun terminal ini mulai ditinggalkan.
Selain Situs Halte Terminal, ada sejumlah jejak sejarah Kota Pekanbaru yang masih tersisa. Ia menyimpan banyak cerita tentang perjalanan kota yang dulunya bernama Senapelan. Hari ini, Ahad (23/6/2024) Pekanbaru merayakan milad ke-240.
Perlu diketahui, munculnya Pekanbaru juga tak terlepas dari peran pelabuhan besar yang dibangun oleh Kerajaan Siak saat itu. Pelabuhan tersebut berada di Pinggir Sungai Siak, yang kini dikenal Pelabuhan Pelindo.
Pelabuhan itu merupakan pusat transportasi dan distribusi barang dan jasa. Karena di situ cikal bakal Pekanbaru, maka di situlah dimulai titik Nol Km Kota Pekanbaru.
Titik Nol Pekanbaru itu, kini juga sudah dimasukkan dalam kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) menjadi sebuah barang benda terduga Cagar Budaya yang harus dilestarikan yang diperkirakan dibangun Belanda tahun 1920.
Saat ini, Titik Nol Pekanbaru itu masih ada dan dapat dilihat di kawasan Pelabuhan Pelindo. Di lokasi itu, kini ditempati para pedagang Pasar Bawah yang direlokasi karena revitalisasi bangunan Pasar Wisata Pasar Bawah.
Titik Nol tersebut ditandai dengan tugu kecil yang bertuliskan angka 0 dan menunjukkan arah ke daerah luar Kota Pekanbaru. Pada batu berwarna kuning tertulis jarak dari Pekanbaru menuju Padang adalah sejauh 313 km, sedangkan ke Bangkinang 65 km.
Tak jauh dari situ, Rumah Singgah Tuan Kadi hingga kini masih berdiri kokoh di Pinggir Sungai Siak, tepatnya di bawah Jembatan Siak III.
Kemudian makam pendiri Pekanbaru, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah, juga berada tak jauh dari pinggir Sungai Siak, tepatnya di Komplek Masjid Raya Kota Pekanbaru, Jalan Senapelan, Kecamatan Senapelan. Di lokasi itu ada beberapa makam pendiri Pekanbaru. Komplek tersebut diberi nama Makam Marhum Pekan.
Bergeser sedikit menjauh dari Pasar Bawah, terdapat prasasti yang menjadi penanda lokasi pertama kali pengibaran bendera Merah Putih di Pekanbaru. Cagar budaya ini berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Intergritas depan Museum RRI atau depan kediaman Walikota Pekanbaru.
Untuk diketahui, jauh sebelum bernama Pekanbaru daerah ini dikenal dengan sebutan Senapelan, yang kala itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah ini terus mengalami perkembangan menjadi kawasan pemukiman baru.
Seiring waktu, daerah teras berubah menjadi Dusun Payung Sekaki yang terletak di muara Sungai Siak. Kemudian pada tanggal 9 April 1689, sebuah perjanjian antara Kejaraan Johor dengan Belanda (VOC) memberikan hak yang lebih luas.
Isi dalam perjanjian itu diantaranya, pembebasan cukai dan monopoli terhadap beberapa jenis barang dagangan. Selain itu Belanda juga mendirikan Loji di Petapahan yang saat itu merupakan kawasan yang maju dan cukup penting.
Namun, karena kapal Belanda tidak dapat masuk ke Petapahan, maka Senapelan menjadi tempat perhentian kapal-kapal Belanda. Selanjutnya pelayaran ke Petapahan dilanjutkan dengan perahu-perahu kecil.
Dengan kondisi itu, Payung Sekaki atau Senapelan menjadi tempat penumpukan berbagai komoditi perdagangan baik dari luar untuk diangkut ke pedalaman, maupun dari pedalaman untuk dibawa keluar berupa bahan tambang seperti timah, emas, barang kerajinan kayu dan hasil hutan lainnya.
Semakin berkembang, Payung Sekaki atau Senapelan memegang peranan penting dalam lalu lintas perdagangan. Letak Senapelan yang strategis dan kondisi Sungai Siak yang tenang dan dalam membuat perkampungan ini memegang posisi silang baik dari pedalaman Tapung maupun pedalaman Minangkabau dan Kampar.
Hal ini juga merangsang berkembangnya sarana jalan darat melalui rute Teratak Buluh (Sungai Kelulut), Tangkerang hingga ke Senapelan sebagai daerah yang strategis dan menjadi pintu gerbang perdagangan yang cukup penting.
Perkembangan Senapelan sangat erat dengan Kerajaan Siak Sri Indra Pura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan, beliau membangun Istana di Kampung Bukit dan diperkirakan Istana tersebut terletak disekitar lokasi Masjid Raya sekarang.
Sultan kemudian berinisiatif membuat pekan atau pasar di Senapelan namun tidak berkembang. Kemudian usaha yang dirintis tersebut dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah meskipun lokasi pasar bergeser di sekitar Pelabuhan Pekanbaru sekarang.
Akhirnya menurut catatan yang dibuat oleh Imam Suhil Siak, Senapelan yang kemudian lebih popular disebut Pekanbaru resmi didirikan pada tanggal 21 Rajab hari Selasa tahun 1204 H bersamaan dengan 23 Juni 1784 M oleh Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah di bawah pemerintahan Sultan Yahya yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Pekanbaru.
Sejak ditinggal oleh Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah, penguasaan Senapelan diserahkan kepada Datuk Bandar yang dibantu oleh empat Datuk besar yaitu Datuk Lima Puluh, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir dan Datuk Kampar. Mereka tidak memiliki wilayah sendiri tetapi mendampingi Datuk Bandar. Keempat Datuk tersebut bertanggungjawab kepada Sultan Siak dan jalannya pemerintahan berada sepenuhnya ditangan Datuk Bandar.
Saat ini, nama Senapelan masih digunakan sebagai nama kecamatan di Pekanbaru. Wilayahnya masih meliputi daerah asal Kota Pekanbaru, yakni di Pinggir Sungai Siak, yang di lokasi itu juga ditempatkan sebagai Titik Nol Kota Pekanbaru.
Pimpinan BRI Tembilahan Sampaikan Ucapan Selamat Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir
Tembilahan – Dalam rangka memperingati Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Pimpinan .
Aplikasi i-potret jadi Kendala Awal Anak-anak Inhil Masuk Sekolah
TEMBILAHAN - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menyerukan kepada masyar.
APINDO Serahkan Bantuan Alat Damkar dan Sembako di Pulau Kijang
RETEH – DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Riau bersama DPK APINDO Indragiri Hilir (Inhi.
Polsek Sungai Batang Nandur Jagung Bersama Kelompok Tani Dukung Swasembada Pangan 2026
SUNGAI BATANG, - Personel Polsek Sungai Batang turun langsung ke lahan dan menanam jagung bersama.
Peran Aktif Bhabinkamtibmas Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil di Lahan 1 Hektare
SIAK- Dalam rangka mendukung program pemerintah Asta Cita di bidang ketahanan pangan, jajaran Pol.
Polsek Sabak Auh Hadir di Tengah Masyarakat, Bhabinkamtibmas Beri Imbauan Kamtibmas
SIAK – Dalam upaya mempererat hubungan dengan masyarakat serta menjaga situasi keamanan dan ket.
iKlik Network







