• Rabu, 22 Juli 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Peristiwa

Meski Fatima Diperkosa 40 Kali Semalam, Suami Tetap Cinta

Redaksi

Sabtu, 20 Oktober 2018 23:59:59 WIB
Cetak
Meski Fatima Diperkosa 40 Kali Semalam, Suami Tetap Cinta

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Fatima adalah korban pemerkosaan massal selama serangan terhadap warga muslim Rohingya di Myanmar. Dia sekarang berada di kamp pengungsi di Bangladesh.

Irama air hujan yang jatuh di atap terpal putih kami adalah satu-satunya suara yang terdengar di kamp pengungsi ini.

Tidak ada televisi, tidak ada musik, tidak ada suara anak-anak tertawa. Keheningan yang sangat kontras dengan suasana jalanan Cox’s Bazar yang bising, yang kami lewati dalam perjalanan ke sini.

Kesunyian hanya sesekali dipecah oleh suara azan; yang kel luar dari pengeras suara abu-abu perak yang tergantung di pohon di atas bukit dan memenuhi lembah yang berlumpur.

Kamp nomor 7 terletak di bagian timur laut Kutupalong, salah satu pemukiman pengungsi terbesar dunia. Para pejabat memperkirakan, ada sampai 40.000 orang hidup di areal seluas 250 hektar ini.

Tidak ada yang tahu jumlah sebenarnya. Warga Rohingya terdampar di kota pesisir ini di perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar, daerah yang dulunya merupakan hutan rimba. Beberapa laporan bahkan mengatakan, ada 1 juta orang yang tinggal di areal kamp ini, ada juga yang mengakatan 1,2 juta orang atau bahkan lebih.

Dari puncak bukit, kita bisa mengamati kamp ini. Deretan tenda dan rumah darurat membentang sejauh mata memandang. Terpal plastik berfungsi sebagai atap pada konstruksi yang terbuat dari bambu; hanya ada sedikit rumah yang memiliki atap seng.

Warga muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar sejak tahun 1970-an. Namun tahun lalu, selama beberapa bulan saja ada lebih dari 700.000 orang yang melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kebrutalan dan kekerasan yang terjadi di kampung halaman mereka.

Tidak ada yang tahu berapa banyak orang yang terbunuh saat itu, namun satu hal jelas: Ini adalah salah satu peristiwa genosida terburuk dalam sejarah modern Asia Selatan.

Fatima adalah salah satu yang selamat. Dia membersihkan gigi dengan jari-jarinya, membersihkan gusi yang meradang karena terlalu banyak mengunyah tembakau dan daun sirih. Kebiasaan itu bisa sedikit membantunya menghadapi masa-masa yang sangat traumatis, namun telah membuat giginya menjadi hitam.

Fatima berusia sekitar 20 tahun dan memiliki dua anak lelaki. Sebelum melarikan diri dari Myanmar, dia diperkosa 30 hingga 40 kali dalam semalam. Dia tidak ingat lagi tepatnya berapa kali atau berapa banyak lelaki yang memerkosanya.

“Aku meninggalkan tubuhku di sana,” katanya dengan suara lembut, tatapannya tertuju ke tanah.

“Kami duduk di atas karpet bergaris-garis pirus dan merah di ruang depan pondok Fatima. Suaminya, Ali, dua tahun lebih tua dari dia, duduk di sampingnya saat Fatima menceritakan kisahnya.

Tahun 2017 Ali terpaksa meninggalkan desanya, seperti banyak orang lainnya, untuk menghindari aksi pembunuhan membabi-buta oleh milisi yang datang. Dia meninggalkan istrinya dan putra mereka yang masih bayi.

Beberapa malam kemudian, milisi menyeret Fatima dan perempuan lain. Banyak dari mereka yang bersembunyi di gubuk, terpaksa lari ke hutan.

Para milisi lalu memerkosa mereka, termasuk Fatimah berulang kali. Tidak ada yang mendengar teriakan dan jeritan mereka. Suami dan saudara-saudara mereka sudah mati atau melarikan diri.

Entah bagaimana, Fatima berhasil kembali ke desanya. Dia mendapat perawatan sebelum mati karena pendarahan parah. Namun dia kemungkinan tidak bisa memiliki anak lagi.

Dengan mertuanya, Fatima melarikan diri menyeberang sungai ke perbatasan Bangladesh. Organisasi bantuan internasional lalu membantu dia menemukan suaminya.

Tapi banyak lelaki Rohingya yang meninggalkan pasangan mereka setelah jadi korban perkosaan. Untungnya Ali tidak demikian.

“Saya tidak punya masalah untuk tetap bersama dia,” kata Ali. “Fatima tidak memilih nasib seperti yang dia alami,” tambahnya.

Fatima dan Ali tinggal di salah satu kamp ilegal Kutupalong, yang dibangun dengan cepat tahun lalu untuk menampung orang-orang yang terlantar yang mencapai jumlah ratusan ribu.

Konstruksi tempat tinggal mereka memang dimaksudkan sebagai tempat tinggal darurat, bukan sebagai akomodasi jangka panjang.

Fatima dan Ali memperkirakan, mereka akan tetap tinggal di sana untuk waktu lama.

Pemerintah Myanmar belum mengambil langkah-langkah untuk mengeluarkan dokumen resmi bagi warga Muslim Rohingya yang mengungsi atau mengijinkan mereka untuk pulang.

Tanpa dokumen yang sah, para pengungsi secara resmi adalah orang tanpa kewarganegaraan, dan tergantung pada belas kasihan pemerintah Bangladesh.

Di kamp-kamp penampungan pengungsi, para perempuan hampir tidak pernah meninggalkan pondok mereka, meski terik matahari musim panas, ketika suhu udara bisa mencapai 40 derajat celcius.

Di bawah koordinasi organisasi internasional, ada 19 rumah khusus perempuan yang tersebar di seluruh kamp. Di rumah-rumah khusus ini, para perempuan memiliki akses ke sarana medis. Ada toilet yang layak dan tempat untuk memandikan anak-anak.

Pada awalnya, ada tempat dan pengertian besar dari warga Bangladesh bagi para pengungsi. Namun situasinya mulai berubah. Banyak warga Bangladesh merasa bahwa negara mereka telah melakukan lebih dari cukup untuk membantu para pengungsi.

Bangladesh sendiri adalah negara miskin yang sering dilanda bencana alam. Ada juga ketakutan yang meluas bahwa para pemuda Muslim bisa menjadi radikal.

Orang-orang yang putus asa memang dianggap sangat rentan terhadap metode rekrutmen kelompok-kelompok radikal.

Secara resmi, para pengungsi Rohingya tidak diizinkan meninggalkan kamp mereka, apalagi untuk bekerja. Hanya anak-anak yang difasilitasi menerima pendidikan sekolah dasar.

Fatima ingin kembali ke Myanmar. Mungkin dia merasa tidak punya kekuatan lagi untuk memulai kehidupan baru di sebuah negara yang asing.

Hujan terus berderap di atap terpal plastik putih; irama hujan telah menjadi irama penantian di tengah keterasingan.

 

Sumber: Pojoksatu.id


[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Peristiwa

Siap Siaga Padamkan Api, Kapolsek Kateman Apresiasi PT Pulau Sambu di Guntung

Ahad, 28 Juni 2026 - 11:42:19 WIB

INDRAGIRI HILIR – Kapolsek Kateman Polres Indragiri Hilir KOMPOL BACHTIAR, S.H., M.H. memberika.

Peristiwa

Kontingen KTNA Inhil Ikuti PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:52:36 WIB

Gorontalo – Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indragiri H.

Peristiwa

Kecamatan GAS Catat 131 Ekor Lembu dan 16 Ekor Kambing Kurban pada Idul Adha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:09:29 WIB

TELUK PINANG - Pelaksanaan ibadah kurban Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kecamatan Gaung Anak.

Peristiwa

Panen Padi Bersama Masyarakat, Polsek Sungai Batang Komitmen Dukung Pertanian Lokal

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:05:41 WIB

Indragiri Hilir,- Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Polsek Sungai Batang, Polres.

Peristiwa

Pipa Gas Transgasindo Bocor di Inhil, Jalan Lintas Timur Sumatra Terancam Ditutup Total

Jumat, 02 Januari 2026 - 19:27:18 WIB

Indragiri Hilir — Jalur distribusi pipa gas utama milik PT Transgasindo (PT Perusahaan G.

Peristiwa

Buaya Super Jumbo Inhil Mati, Isi Perutnya Bikin Geleng-geleng: Pisau Hingga Karung Goni Ditemukan

Ahad, 23 November 2025 - 09:38:56 WIB

TEMBILAHAN - Bangkai buaya besar dari Sungai Undan Kecamatan Reteh Ka.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Lapas Tembilahan Gagalkan Penyelundupan 2 Unit Handphone dalam Titipan Makanan
15 Juli 2026
Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
07 Juli 2026
Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
07 Juli 2026
BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
07 Juli 2026
PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
06 Juli 2026
Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
06 Juli 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
05 Juli 2026
Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
04 Juli 2026
Pemdes Sungai Intan Salurkan Honor Perangkat Desa
03 Juli 2026
Bhabinkamtibmas Setelsel yang rutin Sambangi Lahan jagung
02 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Lapas Tembilahan Gagalkan Penyelundupan 2 Unit Handphone dalam Titipan Makanan
  • 2 Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
  • 3 Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
  • 4 BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
  • 5 PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
  • 6 Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
  • 7 Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network