• Sabtu, 18 Juli 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Nasional

Perang Siak-Belanda, Guntung

Redaksi

Kamis, 15 Agustus 2019 20:49:41 WIB
Cetak
Perang Siak-Belanda, Guntung

INHILKLIK.COM, PEKANBARU - Perang Guntung menunjukkkan jika Kerajaan Siak mampu mengalahkan Belanda dengan strategi yang cerdik.

Semuanya bermula pada tahun 1746. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, atau juga lebih dikenal dengan Raja Kecik wafat. Dia digantikan puteranya, Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah atau lebih dikenal dengan nama Tengku Buang Asmara.

Saat itu, Belanda dan Kerajaan Siak memang bermusuhan dan saling berebut pengaruh di Selat Malaka. Belanda kemudian mendirikan sebuah loji atau benteng di Pulau Guntung, sebuah pulau kecil di muara Sungai Siak. Pembangunan loji ini dimulai pada tahun 1752, dan selesai pada bulan Maret 1755.

Di loji ini, Belanda menghentikan semua kapal yang menuju Siak, yang bertujuan untuk melemahkan Kerajaan Siak. Selain itu, VOC (perusahaan dagang Belanda) juga menghentikan kapal yang keluar dari Siak, dan memaksa penduduk Siak menjual hasil buminya kepada VOC, dengan harga yang ditentukan VOC.

"Belanda itu dengan sesuka hatinya juga meminta cukai kepada kapal yang berlayar menuju dan keluar Siak. Hasil bumi Siak juga harus dijual ke Belanda, dengan harga yang mereka tentukan. Tentu saja harganya murah dan tidak sesuai dengan harga pasar. Itu sama saja merampok hasil bumi Siak," kata keturunan bangsawan Siak, OK Nizami Jamil dikutip dari laman bertuahpos.com.

Tindakan Belanda ini memang bertujuan untuk melemahkan akses perdagangan di Siak, yang pada akhirnya melemahkan Kerajaan Siak. Pada akhirnya, Belanda akan bisa menaklukan Siak dan menjadi penguasa satu-satunya di Selat Malaka, yang merupakan jalur perdagangan di nusantara pada waktu itu.

Kesombongan Belanda menarik cukai dan memaksa rakyat Siak menjual hasil buminya kepada Belanda membuat Sultan Tengku Buang Asmara berang. Dia kemudian mengirimkan utusan kepada Belanda. Dialah Laksamana Raja Dilaut I, yang masih saudara Tengku Buang Asmara.

Kedatangan Laksamana Raja Dilaut I ke loji Belanda adalah untuk menyampaikan sikap Kerajaan Siak terhadap aksi sepihak Belanda. Namun, pertemuan Laksamana Raja Dilaut I dan Belanda sama sekali tidak menghasilkan kesepakatan. Akibatnya, ketegangan antara Kerajaan Siak dan Belanda semakin meningkat.

"Nah, kemudian Tengku Buang Asmara mengirimkan lagi utusannya. Ada dua orang utusannya kali ini, yaitu Raja Indra Pahlawan dan Laksamana Muhammad Ali," jelas Sejarawan Riau, Suwardi MS.

Namun, dalam perundingan yang kedua kalinya ini, tetap tidak ada kesepakatan antara dua belah pihak. Belanda mengajukan tiga syarat jika Kerajaan Siak ingin berdamai, yaitu tetap memungut bea cukai kepada kapal-kapal yang lewat di loji Pulau Guntung. Kedua, rakyat Siak harus menjual hasil bumi kepada Belanda, dengan harga yang ditetapkan Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda bersedia memberikan pakaian kepada Siak.

"Itu aneh. Tentu saja Sultan menolak syarat itu. Melalui Laksamana Muhammad Ali, Siak mengajukan syarat bahwa Belanda tidak boleh lagi memungut cukai kepada kapal yang lewat di loji Pulau Guntung. Jika Belanda ingin berdagang, harus dengan harga yang sesuai dan atas dasar suka sama suka, tidak ada pemaksaan," tambah Suwardi.


 
Akhirnya, tidak ada kata sepakat. Ketegangan terus semakin meningkat, Kerajaan Siak dan Belanda diambang perang.

Tahun 1751. Setelah tidak ada kata sepakat antara Laksamana Muhammad Ali dan Belanda di loji Pulau Guntung, perang pun pecah.

Dalam menyerang Belanda yang ada di loji Pulau Guntung, Kerajaan Siak menyiapkan kapal-kapal yang dinamakan 'Harimau Buas'. Kapal ini dilengkapi dengan perlengkapan perang secukupnya.

Armada kapal perang Kerajaan Siak dipimpin oleh Laksamana Muhammad Ali dan didampingi Raja Indra Pahlawan. 

"Tujuannya armada perang ini hanya satu, yakni mengusir Belanda dari loji Pulau Guntung. Yang memimpin saat itu adalah Laksamana Muhammad Ali. Perang ini dimulai 1752 sampai 1753," tambah Suwardi.

Namun, menaklukkan loji Pulau Guntung tidaklah semudah yang dibayangkan. Loji ini telah dilengkapi dengan pertahanan berlapis. Meriam-meriam besar juga telah disiapkan oleh Belanda, untuk menangkis serangan dari kerajaan Siak.

"Armada Siak terus berusaha untuk menaklukan loji atau benteng ini. Tapi, setelah berbulan-bulan, tidak ada kemajuan. Apalagi, bantuan Belanda yang datang dari Malaka. Korban terus berjatuhan dari dua belah pihak," tambah Suwardi.

Akhirnya, armada Siak mengundurkan diri kembali ke Siak. Laksamana Muhammad Ali dan Raja Indra Pahlawan mengambil keputusan bahwa dalam penyerangan ini tidak akan berhasil menaklukkan loji Pulau Guntung. 

Keputusan mundur yang dilakukan oleh Laksamana Muhammad Ali dan Raja Indra Pahlawan bukanlah untuk menyerah. Namun, untuk memikirkan strategi lain demi menaklukan Belanda yang bertahan dengan hebat di loji Pulau Guntung.

"Loji Belanda itu punya meriam yang sangat besar. Jumlahnya banyak. Pertahanan loji itu juga berlapis. Menaklukkan loji itu tidak mudah. Maka, mundur dan menyusun strategi selanjutnya, itulah langkah yang diambil Laksamana Muhammad Ali. Bukan menyerah," jelas Suwardi.

Akhirnya, peperangan diambil alih langsung oleh Sultan Tengku Buang Asmara. Siasat baru disusun. Setelah berunding dengan para laksamana dan panglima perang, Sultan akhirnya mau berunding langsung dengan Belanda. Perundingan ini juga berlokasi di Pulau Guntung. 

Dalam perundingan itu, Tengku Buang Asmara membawa banyak hadiah. Belanda sangat gembira, dan mengira bahwa Sultan Siak sudah menyerah, dan Kerajaan Siak telah mereka taklukkan.

Namun, dalam kegembiraannya, Belanda tidak menyadari bahwa loji mereka sudah dipenuhi prajurit Siak. Dengan aba-aba Tengku Buang Asmara, prajurit Siak segera menghunuskan pedangnya dan berhasil membunuh semua serdadu Belanda.

Dalam hikayat Siak, disebutkan bahwa komandan loji Belanda tersebut bernama Fetor. Dia dibunuh oleh menantu Sultan yang bernama Sayyid Umar Panglima. Tewaslah komandan tersebut.

Loji tersebut dibakar, dan Sultan beserta seluruh prajuritnya kembali ke Ibukota, Mempura pada saat itu, dengan membawa kemenangan.

"Semangat Sultan dan prajurit Siak ini telah mencerminkan bahwa sejak ratusan tahun yang lalu, Riau sudah berjuang melawan penjajahan. Semangat inilah yang harus dicontoh oleh generasi Riau saat ini," ujar budayawan Riau yang juga keturunan bangsawan Siak, OK Nizami Jamil. 


[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Nasional

Ketum BPC HIPMI Inhil Ardiansyah Julor Dukung Akbar Himawan Buchari Jadi Menpora

Senin, 15 September 2025 - 16:02:02 WIB

TEMBILAHAN – Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupate.

Nasional

2025 Harga Rokok Naik, Pemerintah Batasi Konsumsi Produk Berdampak Negatif bagi Kesehatan

Sabtu, 14 Desember 2024 - 12:07:53 WIB

INHILKLIK - Pemerintah telah menetapkan harga jual eceran (HJE) rokok untuk 2025.Meski tar.

Nasional

Rupiah Melemah di Awal Perdagangan

Senin, 09 Desember 2024 - 12:35:24 WIB

INHILKLIK - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini Senin (9/12/2024) terhadap kurs dolar Am.

Nasional

Potensi Transaksi Judi Online Mencapai Rp 1.000 Triliun pada 2026

Senin, 18 November 2024 - 10:21:25 WIB

INHILKLIK - Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengatakan, potensi transaksi judi online me.

Nasional

Indonesia Bakal Impor Beras 1 Juta Ton

Rabu, 30 Oktober 2024 - 11:28:48 WIB

INHILKLIK - Pemerintah membuka peluang impor beras 1 juta ton. Menteri Koordinator bidang Pangan .

Nasional

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp6.623 Triliun

Selasa, 15 Oktober 2024 - 12:39:33 WIB

INHILKLIK - Dalam rangka menjaga agar struktur Utang Luar Negeri (ULN) tetap sehat, Bank Indonesi.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Lapas Tembilahan Gagalkan Penyelundupan 2 Unit Handphone dalam Titipan Makanan
15 Juli 2026
Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
07 Juli 2026
Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
07 Juli 2026
BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
07 Juli 2026
PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
06 Juli 2026
Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
06 Juli 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
05 Juli 2026
Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
04 Juli 2026
Pemdes Sungai Intan Salurkan Honor Perangkat Desa
03 Juli 2026
Bhabinkamtibmas Setelsel yang rutin Sambangi Lahan jagung
02 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
  • 2 Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
  • 3 BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
  • 4 PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
  • 5 Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
  • 6 Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
  • 7 Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network