• Ahad, 05 Juli 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Dunia

Terungkap, Vaksin Virus Corona COVID-19 Mandeg karena Kurang Dana

Redaksi

Ahad, 12 April 2020 22:16:50 WIB
Cetak
Terungkap, Vaksin Virus Corona COVID-19 Mandeg karena Kurang Dana

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Banyak ilmuwan yang menyatakan perlunya vaksin untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Alasan vaksin Virus Corona COVID-19 belum ditemukan dan bertele-tele, salah satunya, karena kurang dana untuk riset. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah ilmuwan yang mengeluh.

Delapan belas tahun silam, virus tak dikenal menyebabkan wabah mematikan di Provinsi Guangzhou, China. Virus ini yang kemudian oleh ilmuwan dinamakan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Penyakit ini disebabkan oleh Virus Corona yang muncul pada hewan lalu menyebar ke manusia.

Dalam beberapa bulan, SARS menyebar ke 29 negara dan menginfeksi lebih dari 8 ribu orang dan menewaskan 10 persennya, atau sekitar 800 orang. Vaksin ini kemudian dikembangkan puluhan ilmuwan di Asia, Amerika Serikat (AS), dan Eropa untuk melawannya.

Beberapa calon vaksin muncul, dan siap untuk diuji coba secara klinis. Namun kemudian epidemi SARS berhasil dikendalikan, dan penelitian tentang Virus Corona diabaikan.

Jason Schwartz, profesor di Yale University School of Public Health, mengatakan persiapan untuk pandemi ini seharusnya sudah dilakukan sejak wabah SARS pada 2002.

"Jika kita tidak mengabaikan program riset vaksin SARS, kita akan punya fondasi untuk meneliti virus corona baru yang sangat berhubungan ini," katanya kepada majalah The Atlantic.

Virus penyebab Covid-19 bisa dibilang `sepupu dekat` dari penyebab SARS tahun 2002.

Virus penyebab COVID-19, yang disebut SARS Cov-2 bisa dibilang sepupu dekat dari penyebab SARS pada 2002. Secara genetis, 80 persen virus itu sama, kata Dr Bottazzi. Dan karena vaksin buatannya sudah melalui proses persetujuan, itu bisa diadaptasi dengan lebih cepat untuk virus corona baru.

"Kita akan sudah punya contoh bagaimana perilaku tipe-tipe vaksin ini dan sekalipun virusnya tidak sama, mereka dari jenis yang sama," paparnya kepada BBC Mundo.

“Kita akan sudah punya pengalaman melihat apa masalah vaksin ini dan bagaimana mengatasinya. Karena kita sudah punya pengalaman perilaku praklinis dari vaksin SARS dan kita bisa memperkirakan vaksin baru ini perilakunya akan kurang lebih sama".

`Proposal bisnis yang buruk`

Lalu mengapa penyelidikan terhadap vaksin virus corona terhenti? Semuanya, kata para ahli, tergantung ketersediaan dana untuk riset. "Kita tak meminta US$100 juta atau US$1 miliar," kata direktur Houston National School of Tropical Medicine.

"Kita meminta sekitar tiga sampai empat juta dolar. Dengan satu setengah juta dolar, kita bisa melaksanakan studi klinis terhadap profil untuk manusia. Namun mereka menghentikan pada saat kita hampir berhasil menemukan bukti yang penting.

Dana terhenti karena tidak ada pasar untuk vaksin tersebut, papar Peter Kolchinsky, seorang ahli virus dan direktur perusahaan bioteknologi RA Capital.

Ketersediaan dana merupakan kunci keberlangsungan riset.

 

"Kenyataannya, ketika ada pasar, ada solusi," katanya kepada BBC.

"Kini, kita punya ratusan vaksin virus corona, tapi untuk hewan: babi, ayam, sapi dan sebagainya".

Vaksin ini tersedia untuk mencegah penyakit yang bisa merugikan industri pangan yang bernilai puluhan jutaan dolar.

"Masalahnya, bagi perusahaan, ini merupakan proposal bisnis yang buruk untuk mengembangkan produk yang diperkirakan tak akan dipakai selama puluhan tahun ke depan, bahkan mungkin untuk selamanya".

“Ini adalah investasi yang harus dilakukan oleh pemerintah. Jika ini menjadi prioritas, tak diragukan bahwa pemerintah akan mendanai pengembangan vaksin untuk SARS,” kata Kolchinsky.

"Dan mungkin kita akan lebih siap untuk menghadapi Covid-19," tambahnya.

Vaksin baru

Kini kenyataannya kita butuh vaksin untuk melawan virus corona baru penyebab COVID-19. Kemungkinan besar ini tak akan siap hingga 12 sampai 18 bulan ke depan. Bisa jadi pada saat itu pandemi Corona sudah bisa dikendalikan.

Dr Bottazzi dan timnya bekerja mengembangkan vaksin dari vaksin SARS mereka pada 2016 serta vaksin baru untuk Covid-19. Mereka terus mencoba mendapat dana untuk riset-riset ini.

Peneliti memperkirakan akan butuh waktu 12 hingga 18 bulan sampai vaksin untuk virus corona baru siap.

 

“Lembaga donor telah memberi kami uang untuk lebih cepat mengembangkan vaksin tahun 2016. Dan National Institutes of Health memberi dana sebesar US$400 ribu untuk mulai mengembangkan vaksin baru untuk melawan Virus Corona COVID-19. Namun, kami tetap harus meyakinkan lembaga donor untuk menyediakan uang mempercepat penelitian ini”.

Keseluruhan proses ini, menurutnya, sangat bikin frustrasi. "Kami di laboratorium ingin mengembangkan vaksin-vaksin ini, tapi tak ada dukungan finansial atau dukungan pemerintah yang memberi kami dana untuk riset," kata Maria Elena Bottazzi kepada BBC Mundo.

"Karena kita tak punya program berkelanjutan, dan prioritas berganti tergantung keadaan".

sumber: viva.co.id


[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Dunia

Potensi Bitcoin Capai Rekor Baru di Tengah Kenaikan Data Ekonomi AS

Ahad, 15 Desember 2024 - 11:41:09 WIB

INHILKLIK - Bitcoin (BTC) dinilai memiliki peluang besar untuk mencapai level tertinggi baru, sei.

Dunia

Harga Minyak Naik Seiring Sanksi Baru terhadap Rusia dan Iran

Sabtu, 14 Desember 2024 - 11:32:41 WIB

INHILKLIK - Harga minyak naik 2% ke level tertinggi dalam 3 minggu pada perdagangan Jumat (13/12/.

Dunia

Harga Emas Dunia Turun Dibebani Imbal Hasil Obligasi AS

Jumat, 06 Desember 2024 - 10:56:36 WIB

INHILKLIK - Harga emas dunia melemah pada Kamis (5/12/2024) seiring kenaikan imbal hasil obligasi.

Dunia

Harga Emas Anjlok 3 Persen, Dipicu Berita Gencatan Senjata Israel-Hezbollah dan Bessent

Selasa, 26 November 2024 - 10:10:47 WIB

INHILKLIK - Harga emas turun lebih dari 3% pada Senin (25/11), mengakhiri reli lima sesi yang mem.

Dunia

Pertama Kali Terjadi dalam 130 Tahun, Gunung Fuji Kehilangan Lapisan Saljunya

Kamis, 07 November 2024 - 09:52:57 WIB

INHILKLIK - Gunung Fuji yang ikonis di Jepang, dikenal karena lapisan saljunya yang selalu bertah.

Dunia

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp15.840, Terpukul Sentimen Pilpres AS dan Kenaikan Dolar

Rabu, 06 November 2024 - 11:43:35 WIB

INHILKLIK - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.840 per dolar Amerika Serikat (AS) pad.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
04 Juli 2026
Pemdes Sungai Intan Salurkan Honor Perangkat Desa
03 Juli 2026
Bhabinkamtibmas Setelsel yang rutin Sambangi Lahan jagung
02 Juli 2026
Om Bhabin Milenial Polsek Tembilahan yang selalu Cek Tanaman Jagung
02 Juli 2026
Siap Siaga Padamkan Api, Kapolsek Kateman Apresiasi PT Pulau Sambu di Guntung
28 Juni 2026
PW-IWO Provinsi Riau dan PBH Peradi Pekanbaru Teken MoU, Perkuat Bantuan Hukum Gratis bagi Masyarakat dan Wartawan
27 Juni 2026
Jelang Panen, Polsek Sabak Auh Pantau Tanaman Jagung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
26 Juni 2026
Pimpinan BRI Tembilahan Sampaikan Ucapan Selamat Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir
25 Juni 2026
Kontingen KTNA Inhil Ikuti PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo
20 Juni 2026
Polsek Sabak Auh Pantau Lahan Jagung Pipil Program Asta Cita, Pertumbuhan Masih Terpantau Baik
18 Juni 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Siap Siaga Padamkan Api, Kapolsek Kateman Apresiasi PT Pulau Sambu di Guntung
  • 2 PW-IWO Provinsi Riau dan PBH Peradi Pekanbaru Teken MoU, Perkuat Bantuan Hukum Gratis bagi Masyarakat dan Wartawan
  • 3 Jelang Panen, Polsek Sabak Auh Pantau Tanaman Jagung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
  • 4 Pimpinan BRI Tembilahan Sampaikan Ucapan Selamat Milad ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir
  • 5 Kontingen KTNA Inhil Ikuti PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo
  • 6 Polsek Sabak Auh Pantau Lahan Jagung Pipil Program Asta Cita, Pertumbuhan Masih Terpantau Baik
  • 7 Selain Boleh Offline, Sistem Penerimaan Murid Baru di Inhil kini Diperpanjang
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network