• Sabtu, 18 April 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Dunia

“Keluargaku Alami Kebiadaban Terburuk Pada Zaman Saat Hak-Hak Binatang Pun Dihormati"

Redaksi

Selasa, 23 Maret 2021 17:27:13 WIB
Cetak
“Keluargaku Alami Kebiadaban Terburuk Pada Zaman Saat Hak-Hak Binatang Pun Dihormati
Penduduk wilayah Oromia, Ethiopia. ©Katy Migiro/Reuters

INHILKLIK.COM - Tibebu Girma tak bisa mengambil risiko lebih lama lagi. Pria 30 tahun ini sangat mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.

Tibebu, seorang petani di zona Qellem Wollega, wilayah Oromia, Ethiopia, selama ini hidup dari hasil menanam jagung dan menjualnya ke pasar tradisional di dekat desanya.

Tetapi rangkaian serangan mematikan terbaru yang menargetkan warga sipil etnis Amhara meyakinkannya, inilah saatnya berkemas dan pergi bersama istri dan anak laki-laki mereka yang masih bayi ke manapun yang lebih aman.

“Mereka bahkan tidak membedakan perempuan dan anak-anak,” kata Tibebu kepada Al Jazeera melalui telepon, dikutip Senin (22/3).

“Kami tidak aman di sini,” lanjutnya.

Sedikitnya 12 orang, termasuk anak tujuh tahun, dibacok sampai tewas dalam dua serangan keji pada 25 Februari di desa Boka dan Nehlu, bagian timur Oromia, seperti yang diceritakan sejumlah sumber kepada Al Jazeera. Di antara warga sipil yang terbunuh adalah paman Tibebu, Teshome Beyene dan Tadesse Muluneh, yang bekerja sebagai petani di area tersebut.

“Mereka bahkan tidak akan membiarkan kami sembuh,” kata Tibebu.

“Ada lagi pembunuhan di area yang sama pekan ini,” lanjutnya.

Menurut media pemerintah Ethiopia, 42 orang tewas dalam dua serangan berbeda pada 6 Maret dan 9 Maret yang menargetkan warga sipil Amhara di daerah Horo Guduru Waleg, Oromia.

Berlokasi sekitar 200 kilometer barat ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, Horo Guduru Welega adalah kawasan yang dihuni orang yang datang dari kelompok etnis Oromo dan Amhara, yang jika digabungkan membentuk sekitar dua pertiga dari 110 juta populasi negara tersebut.

Sayd Hassen kehilangan istrinya, Mulu Mekonnen, juga tidak anaknya dan seorang keponakan yang keempatnya berusia antara 10 dan 15 tahun. Mereka ditembak mati bersama sedikitnya 20 orang lainnya ketika desa mereka Dachin Gefersa diserang pada 9 Maret.

“Keluargaku mengalami kebiadaban terburuk pada zaman di mana bahkan hak-hak binatang pun dihormati,” ujar Sayd (56).

“Apa kejahatan yang telah dilakukan anak-anakku? Menjadi Amhara berarti mengorbankan nyawa mereka.”
Sayd mengungkapkan, para pembunuh menggeledah rumah keluarganya dan mengambil pakaian, uang, dan hewan ternak. Dia saat ini berlindung di sebuah sekolah bersama ratusan orang lainnya yang juga telantar akibat serangan tersebut.

“Hidup sebagai seorang pengemis di manapun yang akan akan lebih baik daripada tinggal di sini,” ujarnya.

“Para pembunuh keluargaku masih berada di luar sana.”

'Tak ada yang menghentikan mereka'

Para korban menyalahkan pejuang dari kelompok separatis Tentara Pembebasan Oromo (OLA) atas pembantaian tersebut.

OLA adalah organisasi sayap bersenjata yang memisahkan diri dari Front Pembebasan Oromo (OLF), yang didirikan pada tahun 1970-an untuk memperjuangkan kemerdekaan etnis Oromos. Pada 2018, janji reformasi politik oleh Perdana Menteri Abiy Ahmed yang baru menjabat membuat OLF didekriminalisasi dan diizinkan untuk bergabung dengan partai politik. Tetapi negosiasi dengan OLA memburuk, dan OLA terpecah dari organisasi politik tersebut dan melanjutkan pertempuran.

Pemerintah Ehiopia menyalahkan mereka atas penculikan, pembunuhan para pejabat dan tindakan kejahatan lainnya di seluruh Oromia. OLA membantah berada di balik pembunuhan warga sipil dan justru menyalahkan mantan serdadu yang membelot dari kelompok mereka.

“Mereka (pejuang OLA) mudah dikenali dengan gaya rambut mereka,” kata seorang penduduk distrik Jardega Jarte yang meminta tak disebutkan namanya kepada Al Jazeera.

Gambar para pejuang kelompok itu yang diunggah ke media sosial biasanya menunjukkan pemuda berpakaian kamuflase dengan rambut gimbal.
“Mereka membunuh, mencuri, melakukan apa yang mereka suka dan tidak ada yang menghentikan mereka,” kata penduduk ini.

Penduduk menuduh Horo Guduru Welega dan pemerintah di zona tetangga mereka mengetahui masalah tersebut tetapi biasanya tidak mengambil tindakan, menutup mata terhadap penderitaan penduduk desa etnis Amhara.

“Kami telah memohon kepada mereka berkali-kali agar melakukan sesuatu dengan kondisi keamanan, tapi mereka tidak melakukan apapun,” kata Damtew Kassa, seorang petani yang tinggal di sebuah desa dekat daerah Shambu.

Sepupu Damtew, Kindeneh Gizachew (25), salah satu korban tewas dalam serangan 25 Februari di Nechlu. Tubuhnya dimutilasi telah ditemukan, lengannya terikat.

Damtew mengatakan yakin pihak berwenang berada di pihak penyerang.

“Polisi tidak muncul sampai setelah para penyerang pergi, atau kadang-kadang tidak muncul sama sekali,” ujarnya.

“Pemerintah tahu masalah ini. Tidak ada yang pernah ditangkapkan karena kejahatan ini.”

Pemerintah terlibat?

Tewodros Tirfe, ketua organisasi advokasi Amhara Association of America yang berbasis di Amerika Serikat yang mendokumentasikan pelanggaran hak di wilayah tersebut, sepakat dengan pandangan bahwa pemerintah regional memperburuk masalah.

“Ada indikasi jelas bahwa pejabat lokal terlibat dalam serangan itu,” katanya kepada Al Jazeera.

“OLA telah melakukan banyak pembantaian, baik sebelum pasukan keamanan tiba atau setelah mereka dan pemerintah daerah meninggalkan daerah tersebut. Ini menyiratkan ada kebocoran informasi atau semacam kolaborasi.”

Al Jazeera menghubungi kepala pemerintahan zona Horo Guduru Welega, Bekele Dechassa melalui telepon. Dia ditanyai terkait keluhan di daerah pemilihannya bahwa kepemimpinannya terlibat dalam pembunuhan baru-baru ini atau menutup mata terhadap serangan tersebut.

“Ini adalah tuduhan yang tidak berdasar,” bantahnya.

Namun Bekele juga tak mau membahas secara spesifik tentang tanggapan pemerintahannya terhadap tragedi baru-baru ini di wilayah kekuasannya.

Polisi tak bertindak

Pemerintah federal menuduh para pemimpin bekas pemerintah daerah Tigray yang dipimpin oleh Front Pembebasan Rakyat Tigrayan (TPLF) Tigray, yang menjadi sasaran operasi militer akhir tahun lalu, merancang serangan terhadap warga sipil di seluruh negeri. Namun klaim ini tak disertai bukti.

“Dalam dua tahun terakhir, ada 113 insiden besar di mana nyawa-nyawa melayang dan bangunan dihancurkan,” ujar PM Abiy dalam pidatonya di parlemen pada November lalu.

“Memanfaatkan orang-orang di dalam dan upaya terkoordinasi, (TPLF) memastikan akan ada teror di seluruh negeri.”

Pada Desember tahun lalu, pasukan federal menangkap lima pejabat dari pemerintahan regional Benishangul-Gumuz di Ethiopia barat, yang dituduh memfasilitasi serangan terhadap warga sipil di wilayah itu.

Pada Januari, Komisi HAM Ethiopia merilis sebuah laporan menuduh pemerintah daerah lamban dalam menghadapi serangkaian serangan yang menargetkan etnis Amhara, menyusul pembunuhan musisi Ethiopia ternama dan ikon Oromo, Hachalu Hundessa pada 29 Juni.

Menurut laporan tersebut, para korban yang memohon bantuandiberitahu bahwa “atasan tidak memberikan perintah untuk campur tangan”.

Seorang penduduk di kota Dera yang dikutip laporan itu mengatakan, kontingen polisi yang terdiri dari 150 orang yang berbasis di kota itu berdiri diam pada malam tanggal 29 Juni, ketika para penyerang membunuh orang dan membakar rumah.

'Tidak lebih baik dari hukum rimba'

Meningkatnya kekerasan etnis dalam beberapa tahun terakhir telah menghancurkan komunitas etnis Amhara di bagian barat Ethiopia. Pada November, lebih dari 50 etnis Amhara dibantai di kompleks sekolah di Oromia barat. Pada 23 Desember, penyerang membunuh lebih dari 200 warga sipil dari etnis Amhara, Shinasha dan Oromo di wilayah tetangga Benishangul-Gumuz.

Menurut data PBB, kekerasan telah menyebabkan sedikitnya 100.000 orang mengungsi dari wilayah itu sejak Juli 2020.

“Politik etnis biasanya mengarah pada demonisasi minoritas ketika pejabat lokal saling berlomba untuk meningkatkan popularitas mereka dengan mengucilkan minoritas. Sistem tersebut karenanya mengorbankan yang lemah dan kelompok berbeda, dan mendorong narasi yang memicu kekerasan,” jelas Addisu Lashitew, peneliti di Brookings Institution.

“Mempertimbangkan hal ini, target pembunuhan puluhan minoritas Amhara di zona Horo Guduru seharusnya tidak mengejutkan,” tambahnya, menyerukan pengamanan hukum untuk melindungi minoritas selain memberikan mereka perwakilan politik.

“Sistem politik yang gagal dari prinsip dasar ini tidak jauh lebih baik daripada hukum rimba.”

 

Jutaan orang telantar

Pada akhir 2019, ada lebih dari 1,4 juta orang telantar di seluruh Ethiopia, menurut Pusat Pemantauan Pengungsi Internal yang berbasis di Jenewa. Konflik Tigray telah memaksa ratusan ribu orang lainnya meninggalkan rumah mereka, sementara tren saat ini di Ethiopia barat yang dilanda kekerasan tampaknya akan memperburuk kesengsaraan populasi pengungsi internal yang sudah parah di negara itu.

“Sampai beberapa tahun yang lalu, di sini damai, tapi sekarang semuanya hancur,” kata Damtew bersedih.

“Sepupuku tinggal di sini selama sekitar satu dekade sebelum dia dibunuh. Kami tidak pernah mendengar ada masalah apapun dengan Oromo atau siapapun.”

Damtew sedang dalam proses memindahkan keluarganya ke wilayah tetangga Amhara di Gojam, dengan alasan bahaya yang semakin meningkat. Dia mengatakan banyak orang lain akan mengikutinya.

“Di desa saya, Amhara dan Oromo itu menikah. Saya berbicara dalam kedua bahasa, yang umum,” kata Faisal Ibrahim kepada Al Jazeera dari Bahir Dar.

Faisal melarikan diri dari Bereecha di Horo Guduru tahun lalu.

“Tapi untuk shene, itu tidak akan cukup,” kata pria berusia 30 tahun itu, menggunakan istilah yang biasa digunakan oleh beberapa orang Etiopia untuk merujuk pada OLA.

“Meskipun Anda berbicara dalam bahasa mereka, mereka akan tetap memegang ponsel Anda dan memeriksa apakah Anda mendengarkan musik Amharik atau Oromo. Hanya itu yang diperlukan bagi mereka untuk membunuh Anda.” (*)


Sumber : merdeka.com /  Editor : Ahmad

[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Dunia

Potensi Bitcoin Capai Rekor Baru di Tengah Kenaikan Data Ekonomi AS

Ahad, 15 Desember 2024 - 11:41:09 WIB

INHILKLIK - Bitcoin (BTC) dinilai memiliki peluang besar untuk mencapai level tertinggi baru, sei.

Dunia

Harga Minyak Naik Seiring Sanksi Baru terhadap Rusia dan Iran

Sabtu, 14 Desember 2024 - 11:32:41 WIB

INHILKLIK - Harga minyak naik 2% ke level tertinggi dalam 3 minggu pada perdagangan Jumat (13/12/.

Dunia

Harga Emas Dunia Turun Dibebani Imbal Hasil Obligasi AS

Jumat, 06 Desember 2024 - 10:56:36 WIB

INHILKLIK - Harga emas dunia melemah pada Kamis (5/12/2024) seiring kenaikan imbal hasil obligasi.

Dunia

Harga Emas Anjlok 3 Persen, Dipicu Berita Gencatan Senjata Israel-Hezbollah dan Bessent

Selasa, 26 November 2024 - 10:10:47 WIB

INHILKLIK - Harga emas turun lebih dari 3% pada Senin (25/11), mengakhiri reli lima sesi yang mem.

Dunia

Pertama Kali Terjadi dalam 130 Tahun, Gunung Fuji Kehilangan Lapisan Saljunya

Kamis, 07 November 2024 - 09:52:57 WIB

INHILKLIK - Gunung Fuji yang ikonis di Jepang, dikenal karena lapisan saljunya yang selalu bertah.

Dunia

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp15.840, Terpukul Sentimen Pilpres AS dan Kenaikan Dolar

Rabu, 06 November 2024 - 11:43:35 WIB

INHILKLIK - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.840 per dolar Amerika Serikat (AS) pad.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Lebih dari Kemitraan, Sambu Group Perkuat Ekosistem Lewat Kenduri Kelapa
17 April 2026
PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Karhutla, Libatkan Masyarakat Desa
14 April 2026
Kades dan Bhabinkamtibmas Tanjung Simpang Imbau Masyarakat Jangan Membakar Lahan
09 April 2026
DPRD Inhil dan Pemda Bahas Darurat Sampah Tembilahan, Sepakati Langkah Strategis
31 Maret 2026
PT RSUP Sigap Tangani Karhutla di Labuan Bilik Inhil
31 Maret 2026
Kadis Koperindag Inhil Angkat Bicara soal Lonjakan Harga Ayam dan Daging Jelang Lebaran ‎
20 Maret 2026
PT BumiPalma LestariPersada Gelar Bazar Murah Minyak Goreng di 4 Kecamatan Inhil
18 Maret 2026
Pemdes Sungai Intan Gelar Patroli Poskamling, Ciptakan Keamanan dan Ketertiban di Bulan Ramadhan
12 Maret 2026
Merajut Kepedulian Ramadan, PT Pulau Sambu di Kuala Enok & YBDA Santuni Anak Yatim
11 Maret 2026
Safari Ramadhan PT Guntung Idamannusa Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim dan Berbagi 180 Paket Sembako
09 Maret 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 PT Guntung Idamannusa Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Karhutla, Libatkan Masyarakat Desa
  • 2 Kades dan Bhabinkamtibmas Tanjung Simpang Imbau Masyarakat Jangan Membakar Lahan
  • 3 DPRD Inhil dan Pemda Bahas Darurat Sampah Tembilahan, Sepakati Langkah Strategis
  • 4 PT RSUP Sigap Tangani Karhutla di Labuan Bilik Inhil
  • 5 Kadis Koperindag Inhil Angkat Bicara soal Lonjakan Harga Ayam dan Daging Jelang Lebaran ‎
  • 6 PT BumiPalma LestariPersada Gelar Bazar Murah Minyak Goreng di 4 Kecamatan Inhil
  • 7 Pemdes Sungai Intan Gelar Patroli Poskamling, Ciptakan Keamanan dan Ketertiban di Bulan Ramadhan
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network