• Sabtu, 18 Juli 2026
  • Pikiran Rakyat Icon iKlik Network
  • Home
  • Daerah
    • Samosir
    • Serdang Bedagai
    • Meranti
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Inhil
    • Inhu
    • Pelalawan
    • Kuansing
    • Rokan Hulu
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • More
    • Opini
    • Desa
    • Parlemen
    • Lingkungan
    • Sport
    • Advertorial
    • Edukasi
    • Kesehatan
    • Travelling
    • Autotekno
    • Video
    • Lifestyle
    • Gallery
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Ragam
  • Nasional
  • Dunia
  • Opini
  • Desa
  • Parlemen
  • Lingkungan
  • Sport
  • Advertorial
  • Edukasi
  • Kesehatan
  • Travelling
  • Autotekno
  • Video
  • Lifestyle
  • Gallery
  • Daerah
  • Ubah Laku
  • Feature
  • Pekanbaru
  • Kampar
  • Rokan Hulu
  • Kuansing
  • Pelalawan
  • Inhu
  • Inhil
  • Siak
  • Bengkalis
  • Dumai
  • Rokan Hilir
  • Meranti
  • Serdang Bedagai
  • Samosir
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Pemkab Sergai Dorong Pendidikan Karakter, Wabup Adlin Resmikan Pembangunan Musala Sekolah
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Nasional, Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan
Sepeda Motor Scorpio Milik Warga Teluk Mengkudu Raib Digondol Maling
Diresmikan PJ Bupati Inhil, PT BEST Mulai Produksi Biomassa untuk PLTU Tembilahan
Cara Menjaga Organ Pernapasan Tetap Sehat dari Dinkes Inhil

  • Home
  • Dunia

Selfie Remaja Suriah di Tengah Perang Ghouta Curi Perhatian

Redaksi

Ahad, 25 Februari 2018 23:56:05 WIB
Cetak
Selfie Remaja Suriah di Tengah Perang Ghouta Curi Perhatian

INHILKLIK.COM, JAKARTA - Sebuah foto selfie seorang remaja Suriah di Ghouta yang tengah dibombardir telah menimbulkan reaksi keras. Sebagian kalangan melihatnya sebagai kesaksian akan kengerian perang, yang lain melihatnya sebagai bentuk perlawanan.

Dalam sebuah video yang diposting pada 2 Januari 2018, remaja itu menatap diam ke kamerea. Di belakangnya tampak segumpal asap naik membumbung tinggi dari bangunan yang hancur. Ia tidak berbicara, tapi sirene dan suara seperti anak kecil menangis bisa terdengar di belakangnya. Sesudah satu menit, ia pun berbalik untuk mengamati pemandangan itu sebelum menatap kembali pada kamera. Ia adalah subyek dan dokumenter. Ia menyebutnya #BreakGhoutaSiege.

Remaja bernama Muhammad Najem itu menggambarkan dirinya berusia 15 tahun dan tinggal di Ghouta Timur. Ghouta Timur adalah daerah kantong pejuang di dekat Damaskus, yang telah mengalami pemboman hampir terus menerus oleh jet Suriah dan Rusia.

Di video lain, remaja itu, yang selalu menghadap kamera, berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak jelas karena suara perang: "Kami terbunuh oleh kesunyian Anda," katanya.

"(Presiden Suriah) Bashar al-Assad, (Presiden Rusia Vladimir) Putin, dan (Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali) Khamenei membunuh masa kecil kami," sambungnya seperti dikutip dari France24, Minggu (25/2/2018).

Terkadang ia didampingi anak-anak lain, namun di hampir semua tweet ia memohon kepada dunia untuk bersaksi dan melakukan sesuatu.

"Apa dunia, yang bisa mengirim mesin ke (Mars) dan tidak dapat melakukan apapun untuk menghentikan pembunuhan orang-orang," dia bertanya dalam sebuah postingan yang disematkan pada profilnya.

Pesan-pesan itu meresahkan, bukan hanya karena berasal dari pemuda Najem, tapi karena kontras antara subjek perang dan wujud selfie itu sendiri.

Dalam salah satu video, Najem mengatakan bahwa ia ingin menjadi reporter saat dewasa nanti. Tapi bagi jurnalis Jonathan Alpeyrie, yang meliput konflik Suriah pada tahun 2013, dia ditahan oleh sebuah kelompok Islam selama 81 hari, seorang wartawan seharusnya tidak terlihat.

"Jika tidak, dia menjadi subjeknya," katanya.

Bagi Alpeyrie, remaja ini lebih aktif daripada jurnalis. "Dia memusuhi Bashar al-Assad tapi peran pers tidak mengambil sikap," tegasnya.

Dalam video lain, Najem menyebut apa yang terjadi di Suriah sebagai "genosida", sebuah istilah yang menurut Alpeyrie sangat tidak pantas.

"Setiap perang memiliki konteksnya. Ada genosida di Rwanda. Kita tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk Suriah," ujarnya.

Meskipun beberapa outlet berita telah menyampaikan kesaksian remaja tersebut, Alpeyrie merasa berbahaya untuk melakukannya. "Kita tidak dapat memastikan asal usul video-video ini. Dia mengatakan bahwa dia sedang syuting di Ghouta Timur, tapi kita tidak tahu apa-apa," tutur Alpeyrie.

Stasiun televisi Amerika CNN menerbitkan sebuah video berjudul "Reporter perang 15 tahun dari Ghouta Timur," dengan penyangkalan secara diam-diam terkait artikelnya.

"CNN tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian video-video ini."

Alpeyrie mengatakan bahwa dia melihat penyimpangan yang serupa saat meliput konflik di Ukraina, ketika media internasional tidak memiliki cukup banyak wartawan di lapangan. Mereka bergantung pada postingan media sosial dan akhirnya melebih-lebihkan tingkat pertempuran.

"Fenomena selfie zona perang bukanlah hal baru", kata Alpeyrie, yang menggambarkan bahwa tentara mengambil selfie selama pertempuran untuk dikirim ke teman mereka setelahnya di Ukraina dan di Irak pada pertempuran Mosul.

Wilayah Ghouta Timur yang menurut PBB rumah bagi sekitar 393 ribu, telah dikepung sejak April 2013. Najem bukanlah orang pertama yang membawanya ke Twitter agar netizen memperhatikan keadaan di Suriah. Pada musim gugur 2016, Bana al-Abed, yang berusia 7 tahun, menarik ribuan pengikut saat dia mulai mentweet dengan bantuan ibunya tentang hidupnya di Aleppo, di mana keluarganya berjuang untuk bertahan selama pengepungan.

Tapi dia menghadapi kritik tajam, bahkan setelah banyak foto dan videonya diverifikasi dan ceritanya diperkuat oleh penduduk lain. Beberapa meragukan dia berada di Aleppo sama sekali, yang lain menyatakan dia digunakan sebagai alat propaganda untuk mendorong agenda pejuang Suriah. Pada saat itu, Aleppo ditutup untuk jurnalis Barat dan tidak ada cara untuk memverifikasi rincian ceritanya. Meski begitu, ibunya Fatemah membela keputusannya untuk membuat akun.

"Kami memutuskan untuk pergi ke Twitter karena akses langsung ke dunia," katanya kepada New York Times pada bulan Oktober, mengatakan bahwa dia ingin meningkatkan kesadaran tentang kesulitan mereka di Suriah.

"Pertanyaan tentang ketulusan sangat penting pada cerita ini, seperti di dunia digital pada umumnya," ujar Elsa Godart, profesor filsafat dan psikoanalisis dan penulis "Je selfie donc je suis".

Jika remaja berada di belakang akun, ketergantungannya pada selfie bisa memiliki motivasi yang berbeda, kata Godart. Dalam situasi terburuk, selain manipulasi: "Kita dapat membayangkan narsisisme ekstrem, di mana seseorang bermain dalam peristiwa tragis di bawah kedok simpatik untuk membela kemanusiaan."

Dan jika kita berasumsi bahwa isyarat itu nyata dan tulus dari seorang remaja di lapangan?

"Kalau begitu ini bisa sama seperti yang terlihat: selfie sebagai tindakan perlawanan. Seniman China Ai Weiwei mendokumentasikan penangkapannya pada tahun 2009 dengan sebuah selfie yang kemudian dipamerkan sebagai karya seni," kata Godart.

Baginya, selfie yang diambil dalam perang serupa: "Ini mencela sesuatu yang luar biasa. Ini adalah kesaksian dari sesuatu yang seseorang merasa wajib laporkan. 'Saya diserang, dan inilah bukti fotografinya.' "

Tidak diragukan lagi, katanya, penggunaan selfie oleh remaja Suriah menimbulkan pertanyaan tentang kesenjangan generasi dan globalisasi.

Tapi Goddart ingin menafsirkannya hanya sebagai seorang anak yang menyeru pada dunia: Bangunlah, kita sekarat!

Wilayah Ghouta Timur yang menurut PBB rumah bagi sekitar 393 ribu, telah dikepung sejak April 2013. Najem bukanlah orang pertama yang membawanya ke Twitter agar netizen memperhatikan keadaan di Suriah. Pada musim gugur 2016, Bana al-Abed, yang berusia 7 tahun, menarik ribuan pengikut saat dia mulai mentweet dengan bantuan ibunya tentang hidupnya di Aleppo, di mana keluarganya berjuang untuk bertahan selama pengepungan.

Tapi dia menghadapi kritik tajam, bahkan setelah banyak foto dan videonya diverifikasi dan ceritanya diperkuat oleh penduduk lain. Beberapa meragukan dia berada di Aleppo sama sekali, yang lain menyatakan dia digunakan sebagai alat propaganda untuk mendorong agenda pejuang Suriah. Pada saat itu, Aleppo ditutup untuk jurnalis Barat dan tidak ada cara untuk memverifikasi rincian ceritanya. Meski begitu, ibunya Fatemah membela keputusannya untuk membuat akun.

"Kami memutuskan untuk pergi ke Twitter karena akses langsung ke dunia," katanya kepada New York Times pada bulan Oktober, mengatakan bahwa dia ingin meningkatkan kesadaran tentang kesulitan mereka di Suriah.

"Pertanyaan tentang ketulusan sangat penting pada cerita ini, seperti di dunia digital pada umumnya," ujar Elsa Godart, profesor filsafat dan psikoanalisis dan penulis "Je selfie donc je suis".

Jika remaja berada di belakang akun, ketergantungannya pada selfie bisa memiliki motivasi yang berbeda, kata Godart. Dalam situasi terburuk, selain manipulasi: "Kita dapat membayangkan narsisisme ekstrem, di mana seseorang bermain dalam peristiwa tragis di bawah kedok simpatik untuk membela kemanusiaan."

Dan jika kita berasumsi bahwa isyarat itu nyata dan tulus dari seorang remaja di lapangan?

"Kalau begitu ini bisa sama seperti yang terlihat: selfie sebagai tindakan perlawanan. Seniman China Ai Weiwei mendokumentasikan penangkapannya pada tahun 2009 dengan sebuah selfie yang kemudian dipamerkan sebagai karya seni," kata Godart.

Baginya, selfie yang diambil dalam perang serupa: "Ini mencela sesuatu yang luar biasa. Ini adalah kesaksian dari sesuatu yang seseorang merasa wajib laporkan. 'Saya diserang, dan inilah bukti fotografinya.' "

Tidak diragukan lagi, katanya, penggunaan selfie oleh remaja Suriah menimbulkan pertanyaan tentang kesenjangan generasi dan globalisasi.

Tapi Goddart ingin menafsirkannya hanya sebagai seorang anak yang menyeru pada dunia: Bangunlah, kita sekarat!

 

 

sindonews


[ Ikuti InhilKlik.com ]


InhilKlik.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Dunia

Potensi Bitcoin Capai Rekor Baru di Tengah Kenaikan Data Ekonomi AS

Ahad, 15 Desember 2024 - 11:41:09 WIB

INHILKLIK - Bitcoin (BTC) dinilai memiliki peluang besar untuk mencapai level tertinggi baru, sei.

Dunia

Harga Minyak Naik Seiring Sanksi Baru terhadap Rusia dan Iran

Sabtu, 14 Desember 2024 - 11:32:41 WIB

INHILKLIK - Harga minyak naik 2% ke level tertinggi dalam 3 minggu pada perdagangan Jumat (13/12/.

Dunia

Harga Emas Dunia Turun Dibebani Imbal Hasil Obligasi AS

Jumat, 06 Desember 2024 - 10:56:36 WIB

INHILKLIK - Harga emas dunia melemah pada Kamis (5/12/2024) seiring kenaikan imbal hasil obligasi.

Dunia

Harga Emas Anjlok 3 Persen, Dipicu Berita Gencatan Senjata Israel-Hezbollah dan Bessent

Selasa, 26 November 2024 - 10:10:47 WIB

INHILKLIK - Harga emas turun lebih dari 3% pada Senin (25/11), mengakhiri reli lima sesi yang mem.

Dunia

Pertama Kali Terjadi dalam 130 Tahun, Gunung Fuji Kehilangan Lapisan Saljunya

Kamis, 07 November 2024 - 09:52:57 WIB

INHILKLIK - Gunung Fuji yang ikonis di Jepang, dikenal karena lapisan saljunya yang selalu bertah.

Dunia

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp15.840, Terpukul Sentimen Pilpres AS dan Kenaikan Dolar

Rabu, 06 November 2024 - 11:43:35 WIB

INHILKLIK - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.840 per dolar Amerika Serikat (AS) pad.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Inovasi Tanjung Simpang, Tranportasi Antar Jemput Anak Sekolah Gratis

10 Juni 2022
Bakso Bakar Hendra, Enak di Lidah Pas di Kantong
13 Agustus 2021
Jagung Manis Nek Asni, Lokasinya di M Boya
14 Juli 2021
Kue Pukis di Pasar Kayu Jati, Rp 500,- Per Biji
12 Juli 2021
ES Cincau Hijau Tembilahan Hulu Bikin Ngiler
09 Juli 2021
Terkini +INDEKS
Lapas Tembilahan Gagalkan Penyelundupan 2 Unit Handphone dalam Titipan Makanan
15 Juli 2026
Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
07 Juli 2026
Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
07 Juli 2026
BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
07 Juli 2026
PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
06 Juli 2026
Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
06 Juli 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
05 Juli 2026
Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
04 Juli 2026
Pemdes Sungai Intan Salurkan Honor Perangkat Desa
03 Juli 2026
Bhabinkamtibmas Setelsel yang rutin Sambangi Lahan jagung
02 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Panen Jagung Masuki Tahap Pascapanen, Polsek Sabak Auh Pastikan Proses hingga Penimbangan Berjalan Lancar
  • 2 Panglima DPD Laskar Melayu Riau Inhil Lantik Serentak Enam Panglima DPC Kecamatan di Pulau Burung
  • 3 BRI Dorong Literasi Keuangan Anak Melalui Produk BritAma Junio
  • 4 PBH PERADI Desak Kapolda Riau Turun Tangan, Usut Tuntas Dua Dugaan Kasus Kekerasan yang Menyeret Nama Polisi
  • 5 Dukung Asta Cita, Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil di Lahan Ketahanan Pangan
  • 6 Dukung Ketahanan Pangan, Jajaran Polsek Sabak Auh Kawal Pertumbuhan Jagung Pipil Hingga Panen
  • 7 Polsek Sabak Auh Pantau Panen Jagung Pipil, Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

Inhilklik.com ©2013 - 2020 | All Right Reserved

A Group Member of Iklik Network